Riwayat Bioskop Gelora dan Istana Kampung Jawa

Riwayat Bioskop Gelora dan Istana Kampung Jawa
Advertisements

Di Gelora dan Istana, penulis lebih banyak gratisan menonton. Meski masih duduk di SD-SMP, namun beberapa petugas atau penjaganya mengenal dengan baik. Maklum, penulis kerap membantu mereka, saat baliho film akan dipajang di billboard depan bioskop. Juga, sering bergabung saat mobil pick up yang dipakai berkeliling berangkat sore hari.

Penulis bersama teman-teman lainnya seperti Agus Dahlan, diberikan tumpukan brosur atau pamflet pertunjukkan. Tugas kami membagi-bagikan lembaran itu dengan cara membuangnya ke udara. Kertas-kertas itu akan bertebaran dipunguti warga atau dikejar anak-anak di sepanjang jalan. Ada rasa bangga tersendiri meski di kemudian hari penulis membayangkan, aksi seperti itu cukup berbahaya.

Dan, saat yang kami tunggu selalu tiba di malam Minggu. Setelah shalat Maghrib-Isya di masjid Merdeka Wonomulyo, tentu saja usai mandi sore. Tujuan selalu ke Gelora atau Istana. Meski tidak selalu menonton, tetapi kehadiran di sekitar pintu masih yang berjeruji besi itu, selalu berakhir dengan mudahnya kami masuk. Kepala kami tegak karena tak perlu membeli karcis.

Mungkin karena sering terlihat membantu mereka dengan gratis, sehingga para penjaga itu juga memberi jatah gratisan bila kami ingin menonton. Modalnya cukup berdiri di samping petugas pintu masuk, tak lama kemudian, kode yang berarti segera masuk akan ditunjukkan.

Kedua bioskop itu kini berubah. Setelah lama vakum, dan berganti pemilik, jadilah Gelora sebagai kawasan bisnis dan perbankan. Sedang Istana menjadi hotel Istana.

Penulis kurang tahu, sejak kapan kedua pakkomediang itu berdiri. Yang sarat di ingatan, kedua ruang hiburan paling besar itu akan disemuti warga berhari-hari setiap bakda lebaran. Apalagi bila bukan karena film nasional yang didominasi Rhoma Irama, Barry Prima, George Rudy, Suzanna, Yati Octavia, Hema Malini, Amitab Bachan, Tuan Takur, hingga personil Warkop DKI.

Share this post

Post Comment