Riwayat Bioskop Gelora dan Istana Kampung Jawa

Riwayat Bioskop Gelora dan Istana Kampung Jawa
Advertisements

Selain sebagai tempat hiburan satu-satunya yang mampu mengumpulkan ratusan penonton di akhir pekan, sering pula

ada horor baik di dalam atau di luar bioskop. Seperti perkelahian atau persinggungan dalam suasana remang yang kadang berakhir di depan bioskop dengan senjata tajam. Namun pekan depannya, bioskop akan kembali ramai.

Setelah itu layar lebar berubah dalam kotak hiburan yang berpindah ke setiap rumah. Televisi menyisihkan bioskop yang kini penontonnya makin terbatas, sebab di kota-kota kecamatan telah lama tiarap. Gaya warga menikmati beragam, apalagi setelah jumlah stasiun televisi telah belasan mengudara. Riwayat bioskop di Wonomulyo benar-benar usai.

Bagi penulis, pengalaman berinteraksi dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa, misalnya dengan para petugas bioskop itu cukup memberi kenangan. Tentang cara mereka bersosialisasi dalam menjual tontonan melalui mic dan toa. Gaya metafor bahkan hiperbola tentang sebuah judul film, sering melampaui ekspektasi penonton. Yang kadang pulang dengan puas atau malah kecewa.

“Saksikanlah-saksikanlah, sebuah film yang akan menampilkan aksi kejar-kejaran, tembak-menembak…” gelegar suara seperti itu telah lama hilang dari orator bioskop di jalur Wonomulyo-Panyingkul, atau Wonomulyo-Rea.

Penulis sering tersenyum sendiri membayangkannya. Bagaimana pun tetap ada selarik pembelajaran. Khususnya cara mereka membangun argumentasi juga agitasi.

GA661, Mmj-Mks, 16/11/2018

Share this post

Post Comment