Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa

Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

GALUNG Lombok, 07.30. Hamparan tanah hampir sehektaran ini sepi. Beberapa ekor sapi mengais rumput basah sisa hujan semalam. Seekor anjing kampung berlari-lari kecil menuju rimbun rumput, sedikit meninggi tak jauh dari tembok yang memagari makam. Pagi yang sepoi tanpa hiruk-pikuk berarti.

Hari ini 10 November 2018. Hari Pahlawan. Namun di makam itu tidak menunjukkan apapun selain suasana biasa-biasa saja. Tanpa umbul-umbul, tiada bendera yang berkibar-kibar, berbeda dengan sepanjang jalan yang penulis lewati kemarin, jalan-jalan protokol dipenuhi jajar panji-panji. Kabarnya ada tokoh nasional yang hadir di Kota Majene.

70 tahun silam, di tanah lapang ini bergelimpang nyawa pejuang dan rakyat tak berdosa. Peluru tajam pasukan Westerling menyapu mereka hingga terjerambab ke bumi, meregang atma satu-satunya sebagai wira. Kusuma bangsa itu menjadi tumbal dalam mempertahankan kemerdekaan republik ini yang masih belia. Horor di Galung Lombok dekade yang melintang dalam sejarah memilukan bagi harkat kemanusian di Mandar. Kini Sulawesi Barat.

Hingga siang makam ini masih lengang. Tiada salvo yang menyalak bak ritual taman pahlawan. Sementara pekuburan massal ini sungguh perkabungan sejati bagi roh para pejuang yang syahid menuju langit. Di taman ini, atau di sekitarnya, usai “panyapuan” itu terbenam mayat pejuang dalam lumpur, atau terserak di dalam hutan sekitaran Galung Lombok.

Share this post

Post Comment