Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa

Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa
Advertisements

“Banyak pula yang ditemukan di sekitar hutan, sebab ada yang luka tembak, dan mencoba melarikan diri namun ditemukan telah meninggal dunia,” kenang Mustafa kepada penulis beberapa tahun silam di Galung Lombok. Beliau masih belia ketika pembunuhan massal itu terjadi.

Taman Makam Korban 40.000 Jiwa Galung Lombok merupakan simbol utama perlawanan kepada penjajah Belanda, yang masih ingin bercokol di Indonesia. Meski relatif tidak lama di jazirah Mandar, jejak mereka telah menunjukkan artefak penting bahwa orang-orang di Mandar, bukanlah kurcaci. Tetapi sebuah bangsa yang melawan segala wujud penindasan. Negeri ini di barat Sulawesi ini menolak dijajah.

Di sepanjang ingatan kita, para pejuang di Mandar secara kolektif tak pernah berhenti melakukan perlawanan. Sebutlah  Kelasykaran Kris Muda, dan Gapri 531. Sejak awal Januari 1946, kontak fisik bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan tak terhindarkan.

Diantaranya pertempuran di jembatan Puppole Campalagian, kontak senjata di sekitar Pambusuang, penghadangan pasukan Belanda di Soreang. Pertempuran di Deteng-Deteng ketika patroli KNIL diserbu barisan pejuang pemuda, atau di Segeri hingga ke Pamboang. Pun penyerangan di Camba, Pallarangan Bonde, Adolang, dan di Lampu Rangas. Hingga kurun 1947 yang menyembulkan sejarah yang amat getir itu.

Share this post

Post Comment