Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa

Suatu Pagi di Taman Makam Korban 40.000 Jiwa
Advertisements

Drama perlawanan di Bussu Rappang, Batulan, Pallarangan, Simullu, Baruga Segeri, Batu-Batu, Buttu Kaiyyang, Puawang, Pamboang, Sibunoang, Galung Para, Tadolo Segeri Baruga Buttu, Baruga Lappar, Pattoke, Tappalang, Mamuju, Alu, Mombi, Manjopai, Karama, Barane, Malunda, dan wilayah lainnya. Serta sejumlah titik perlawanan penting di Pitu Ulunna Salu, mengabarkan kepada generasi saat ini bahwa para pejuang itu mewakafkan nyawa mereka untuk kita. Lantas seperti apa cara menghargai kepahlawanan itu.

Apa yang terjadi di Galung Lombok, sebuah drama sejarah, bukan tonil kepalsuan. Ratusan nisan yang berdiri di sana kini tinggal sebagai saksi. Peristiwa pembantaian memilukan itu hampir menuju seabad. Setiap penulis mendengar ada rombongan pelajar dan mahasiswa yang berkunjung ke makam ini, ada rasa menyembul.

Paling tidak lempang sejarah penting ini dapat merayapi pengetahuan generasi muda. Meski gerbang utama makam ini mulai rapuh, gedung di sisi kanannya yang sesungguhnya dapat berisi relief sejarah atau diorama Korban 40.000 Jiwa juga kosong melompong. Semoga itu bukan penanda betapa hampa penghargaan pada pahlawan yang telah mengorbankan nyawa bagi republik ini.

Di taman makam ini, 10 November 1999 silam Deklarasi Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat digaungkan. Dengan momentum ini saja, area bersejarah ini telah patut dijadikan monumen sejarah paling memikat bagi anak cucu Sulawesi Barat. Apalagi dengan seting memori paling memukau “Panyapuang” Galung Lombok.

Salam takzim pada pahlawan yang telah berkalang tanah. Tanpa mereka mungkin kita hanyalah anai-anai tak bermakna. Pada siang ini, penulis melihat merah putih berkibar di tiang benderanya. Terik cukup memanggang di bawah rasa hormat yang mulai sesar.

Galung Lombok, 10 November 2018

Share this post

Post Comment