Kotak Suara Itu Bukan Milik Pandora

Kotak Suara Itu Bukan Milik Pandora
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Adipati Lancaster, Hugh Chliders þerpilih kembali sebagai menteri dalam pemilihan sela di Pontefract pada15 Agustus 1872. Ia mungkin tak pernah menduga bahwa pemungutan suara rahasia Inggris pertama yang menggunakan kertas suara dan kotak suara di bawah syarat-syarat yang baru saja disahkan Surat Keputusan 1872, akan menjadi bagian sejarah demokrasi.

Surat dan kotak suara dalam banyak pemilihan digunakan sejak saat itu, lihat
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ballot_box&ved. Kotak suara berbentuk persegi yang kita kenal di Indonesia awalnya dibuat dari bahan kayu atau papan, tripleks, aluminium, dan karton dengan spek tertentu. Benda ini akan menjadi wadah surat suara dalam proses pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Kotak ini menjadi tidak biasa. Ia kubus yang berisi kumpulan harapan, hakikat, dan nilai. Orang-orang di TPS amat memahami bahwa benda persegi itu disarati doa-doa calon juga pemilih yang berharap pilihan atau jagoan merekalah yang akan paling banyak disebut, lalu ditulis berderet dalam hitungan talli-talli atau “ceki-ceki”. Istilah ini familiar bagi mereka yang hobi main domino.

Fungsi kotak suara pemilu bukanlah sebagai kotak pandora. Ia pun bukan bagai lampu wasiat, yang menampung segala permintaan, atau seperti kantong ajaib Doraemon yang berisi benda apapun, sebut saja baling-baling bambu. Kotak suara Pemilu 2019 bukanlah benda ajaib, bukan pula kubus yang dapat mengeluarkan kehendak apapun, atau serupa peruntungan dadu. Benda ini melewati dengar pendapat, uji spek, proses pelelangan, distribusi ratusan bahkan ribuan kilometer dari percetakan ke TPS paling jauh.

Kadang ditumpuk di atas truk, di perahu, diikat pada kuda beban, di motor bahkan dipikul menyusuri pematang, titian jembatan darurat, gelombang laut, dan tebing curam di pegunungan. Kotak suara sering pula digendong atau dijunjung di kepala melewati sungai. Sebab tak ajaib, maka kotak suara Pemilu ini mesti diawasi, dan dijaga dengan baik. Di Pemilu 2019, di TPS terdapat ratusan pemilih, dan puluhan saksi mata dari peserta Pemilu yang akan memelototinya. Ditambah aparat keamanan yang bakal mengawalnya.
*

Dalam mitologi Yunani, Pandora suatu hari sangat penasaran dan kemudian membuka kotak ajaib. Setelah dibuka, tiba-tiba aroma yang menakutkan terasa merubung di udara. Dari dalam kotak itu terdengar suara beragam kerumunan yang dengan cepat menyeruak ke luar. Menebar kemana-mana. Terbang ke segala penjuru.

Pada hari pernikanan Pandora dengan Epimetheus para dewa memberi hadiah berupa sebuah kotak yang indah. Namun syaratnya, Pandora dilarang membuka kotak tersebut. Tetapi perempuan yang sangat memesona itu malah membukanya. Pandora sangat terkejut dan menyesal atas apa yang telah dilakukan. Ia kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari bahwa ternyata masih terdapat satu hal yang tersisa, dan tak terlepas dari kotak tersebut, yaitu harapan.

Kotak suara di Pemilu 2019 bukanlah hadiah buat Pandora. Tetapi merupakan milik bersama pemilih, dan peserta Pemilu yang berisi harapan-harapan yang dapat kita hitung dari surat suara ke surat suara. Kerahasian pemilih tetaplah akan terjaga, tetapi hal yang pasti, setiap kali isi kotak suara itu dihitung bertaburanlah hajat setiap orang. Menebarlah cita dan asa melampaui pelangi.

Kotak suara di Pemilu mungkin akan memberi kejutan dan kegembiraan bagi yang terpilih. Namun esensinya kubus itu berfungsi menampung semua kehendak warga pemilih, yang diliputi doa-doa dan segala ikhtiar para calon yang hari ini dalam tahapan kampanye.

Peristiwa di TPS nanti, saat 17 April 2019, bukanlah potongan hikayat gadis cantik Pandora, yang karena ia amat penasaran hingga ia melepaskan teror di bumi. Masa tua, rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya telah dibebaskannya. (wikibooks.org).

Kita sangat berharap kotak suara di TPS itu menuai harapan, dan kesuksesan Pemilu 2019 atas suara yang diberikan pemilih sepenuh hati. Sebabnya, persegi tidak ajaib ini memerlukan 
cara menjaga bersama-sama, dan memastikannya agar tidak menaburkan malapetaka. Cukuplah Pandora merasai.

Mamuju, 15 Desember 2018

Share this post

Post Comment