Partai Internet di Indonesia, Mungkinkah?

Partai Internet di Indonesia, Mungkinkah?
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

KIM dotcom mendirikan situs MegaUpload yang ditutup pihak berwenang di Amerika Serikat tahun 2012. Namun ia kemudian mendirikan sesuatu yang terasa unik, yakni partai baru yang diberi nama Partai Internet. Menurut Kim dalam Partisipasi Politik Virtual (2017), partai tersebut merupakan gerakan kebebasan internet dan teknologi, untuk kepentingan pribadi, dan reformasi politik.

Yang diperjuangkan oleh Partai Internet ini antara lain; hak cipta dan internet murah, riset dan teknologi termasuk pendidikan tinggi gratis serta penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. “Kim Dotcom akan melepaskan kekuatan inovasi dan internet dalam proses pemilihan dan demokrasi,” klaim Handley di laman itsourfuture.org.

Kim telah membuktikan bagaimana kehadiran teknologi digital atau internet menjadi medium yang amat luas bagi setiap orang untuk melakukan aktivitas politik dalam iklim demokrasi virtual. Era digital telah menempatkan internet sebagai pilar kelima demokrasi di dunia, setelah eksekutif, yudikatif, legislatif dan pers.

Mungkin sebuah hal fantastis untuk saat ini. Tetapi Partai Internet jika memenuhi syarat regulasi kepemiluan yang ada, misalnya di Indonesia, kelak secara mendasar akan mengubah lanskap politik di negeri kita. Ini sungguh amat tidak biasa untuk sebuah partai yang belum terdaftar di komisi pemilihan umum. Namun gerakan tersebut bakal dipandang sedemikian tinggi oleh media dan netizen.

Lihatlah bagaimana akses publik dewasa ini terhadap internet atau jaringan media sosial. Bukankah wacana dan diskusi bahkan perdebatan sosial politik lebih kencang di ruang itu tinimbang dalam realitas sosialnya. Simaklah detik-detik menuju Pemilu 17 April 2019, betapa aksentuasi dan keragaman pendapat terasa amat kaya meski seringkali ditingkahi ujaran amat getir. Itu kita temukan di lalu-lintas jejaring komunitas dan media sosial.

Gagasan Kim DotCom di Selandia baru itu telah melewati masa empat tahun. Kita sedang berada di ujung 2018, apakah hal semacam itu akan progresif di Indonesia mengingat pengguna internet juga media sosial makin melimpah dan memasuki ruang ekspresi yang kian dinamis. Apakah dengan jumlah netizen yang hampir sebanyak jumlah pemilih di Indonesia akan mengambil kiblat yang sama.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite (techno.okezone.com) mengungkap, masyarakat Indonesia sangat gemar mengunjungi media sosial. Setidaknya 130 juta masyarakat Indonesia yang aktif di berbagai media seperti Instagram, Twitter dan lainnya. Laporan ini menyebut pada Januari 2018, total penduduk Indonesia sejumlah 265,4 juta.

Sedangkan penetrasi penggunaan internet mencapai 132,7 juta. Bandingkanlah dengan pengguna media sosial, ini berarti sekitar 97,9 sudah menggunakan media sosial. Artinya, 48 persen penduduk Indonesia berselancar media sosial setiap saat.

Data lainnya yang penulis salin dari kominfo.go.id, Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, memaparkan, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Ryno, dari Facebook Indonesia saat Rakor Kehumasan KPU RI di Jakarta, pekan lalu mengatakan, aktivitas pengguna media sosial amat cepat. Setiap menit mereka ada di gawai canggih itu. Lalu mungkinkah kehadiran partai seperti ini di Indonesia? Kita menuju masa depan saja.

Pasangkayu, 8 Desember 2018

Share this post

Post Comment