Hikayat Tanjung Mampie

Hikayat Tanjung Mampie
Advertisements

Cipratan air asin dan pasir keperakan itu sedang bergelung dalam ingatan sang ayah. Akhir-akhir ini ia seringkali membawa putrinya menikmati laut. Rumah mereka tak jauh dari garis pantai. Bahkan makin menyempit bila mengukurnya dengan meter masa lampau dengan apa yang terjadi saat ini. Jaraknya tak lagi beratus meter setelah terus digerus arus dari selat. Itu yang membuncah Yusri, nama lelaki ini. Dadanya bergemuruh.

Kelok pantai yang aduhai memikat telah orang-orang untuk datang menikmati suguhan matahari terbit atau senja berkanvas jingga. Pantai ini pesohor di jazirah yang melekuk berujung tanjung. Namun itu bagai kalimat purba atau manuskrip yang bakal segera hilang bersama purnanya Mampie dari peta rupa bumi. Batas antara pasir, laut, dan bakau kian beriris. Dari udara, tanjung itu makin ringkih. Seperti tetua yang sebentar lagi kehilangan nafas terakhir.

Siang itu ia memanggul putrinya memunggungi laut menuju ke rumah. Ke arah perkampungan yang tak lagi bersisian dengan halaman bernama laut. Bentang alam yang memberi mereka kehidupan dan harmoni turun temurun seolah berubah sebagai ketakutan yang dikirim secara bergelombang ke Mampie. Rumah-rumah yang kehilangan pondasi harus segera dipindah ke sisa daratan agar tak tergerus dan hilang ke lautan. Yang menyentil, tanah-tanah yang kini larut bersama laut itu masih dipunguti pajak bumi dan bangunan. Tanah dan air memang milik negara di negeri ini.

Yang sedikit menghiburnya, ocehan putrinya yang masih lucu-lucunya itu. Ia masih suka bermain pasir, mencari kerang, mengejar kepiting dari empang yang mencoba mencapai bibir pantai. Atau berbicara sendiri pada riak ombak yang sekian tahun makin meranggasi halaman bermainnya. Seperti anak-anak laut Mampie lainnya yang masih bermain wahana paling luas di bumi itu. Tawa dan canda mereka saat berkejaran di sepanjang pantai yang dahulu berjarak enam kilometer seperti merayapi dinding langit. Keriangan mereka selalu tumpah di sini. Tapi itu kini.

Entah empat belas tahun nanti. Seperti melingkarkan empat belas kalender lawas, ketika rumah-rumah di sini, dahulu terpaksa digotong atau dibongkar menjauhi pantai.

Share this post

2 thoughts on “Hikayat Tanjung Mampie

  1. Distal lhs.qbjm.jurnalwarga.net.gnl.qp crease, mid-dermal kill [URL=http://dead-fish.com/viagra-online/ – viagra[/URL – [URL=http://timoc.org/levitra/ – levitra 20 mg[/URL – [URL=http://timoc.org/buy-prednisone/ – buy prednisone[/URL – [URL=http://thebestworkoutplan.com/kamagra/ – kamagra[/URL – [URL=http://nicaragua-magazine.com/viagra-100mg/ – viagra[/URL – [URL=http://timoc.org/prednisone/ – prednisone without dr prescription[/URL – knows prilocaine viagra online levitra buy prednisone kamagra for sale generic viagra canada on line viagra prednisone uneasy clavicles; http://dead-fish.com/viagra-online/ discount viagra http://timoc.org/levitra/ cheap levitra http://timoc.org/buy-prednisone/ prednisone http://thebestworkoutplan.com/kamagra/ kamagra online http://nicaragua-magazine.com/viagra-100mg/ viagra canada http://timoc.org/prednisone/ prednisone works clamps maternally indeterminate.

    Reply

Post Comment