Hoaks yang Merundung Pemilu 2019

Hoaks yang Merundung Pemilu 2019
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Apa bedanya kabar burung dengan kabar bohong? Keduanya merupakan ungkapan sama berarti. Semua bermakna kabar angin, kabar yang tidak jelas. Ketidakjelasan inilah yang kemudian memasuki ranah kebohongan, yang dapat membuat hal terpercaya menjadi tak dipercaya. Kita sedang dirundung itu. Republik ini diamuk terjangan informasi melimpah yang memerlukan daya saring warganya dengan kebijaksaan.

Orang-orang yang berdusta atau bermaksud mengibuli orang banyak, jelas melawan rasa jujurnya sendiri. Jika ia menyadari bahwa apa yang diperbuat untuk dikonsumsi orang lain adalah kebohongan, entah kita akan menyebutnya bagaimana. Ataukah, kita sedang berada di fase di mana kemampuan untuk mengenali dan memahami segala macam bentuk informasi yang tak bertanggung jawab kian luntur. Padahal itu sebenarnya dapat selaras membunuh pihak lain. Jika hal ini terus dibiarkan kita seolah sedang mengultuskan ketidaktahuan yang memesrai akal sehat.

Dan Murphy, Kepala Biro Timur Tengah dan Asia Tenggara “The Christian Science Monitor (dalam Tom Nichols, 2018) mengatakan, … membuat opini tanpa berpegang teguh pada jurnalisme yang sesungguhnya; hoaks jadi lebih sulit dibunuh daripada monster-monster dalam film. Hoaks darimana pun datangnya kini telah bertransformasi sebagai hidangan yang mengganti sarapan sebagai serapah. Ini meluapi ketidaktahuan publik yang meruapi prasangka.

Punggawa KPU RI di Imam Bonjol, Jakarta akhir-akhir ini demikian hati-hati. Tapi setelah sejumlah hoaks atau kabar bohong  menerpa penyelenggara Pemilu, mereka tentu bereaksi. Sudah saatnya semua itu dihadapi -untuk tidak memakai kata melawan- dengan informasi dan data yang dapat lebih terverifikasi. Ini amat beralasan sebab Pemilu 2019 makin dekat ke tanggal 17 April. KPU menjaga trust publik karena tak ingin dikibuli siapapun.

Share this post

Post Comment