Potensi Suara Milenial di Pemilu 2019

Potensi Suara Milenial di Pemilu 2019
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Kelompok umur 17 sampai 35 tahun menjadi rebutan saat ini. Menuju 17 April 2019, semua kandidat calon presiden dan calon wakil presiden Pemilu 2019 menumpukan harapan pada kaum milenial. Jumlahnya sangat signifikan, 85 persen lebih dari total angka pemilih.

Namun tak mudah merebut mereka. Milenial khususnya yang di perkotaan memiliki akses informasi yang memadai, dengan daya itu kelompok umur ini lebih kritis dan akan terus mengamati pergerakan peserta Pemilu sebelum mengambil keputusan.

Di Mamuju, Sulawesi Barat sebagai contoh, jumlah kelompok umur di bawah 40 tahun mencapai hampir 60 persen dari total pemilih 167.237. Rinciannya pemilih di bawah 20 tahun 19.022, usia 21-30 sebanyak 43.926, 31-40 berjumlah 42.158. Sementara pemilih usia 41-50 tercatat 31.711 dan usia 51-60 17.471. Sedang usia 60 tahun ke atas 12.949.

Untuk Kabupaten Majene, jumlah pemilih berusia 40 ke bawah sebanyak 65.386, sedangkan usia pemilih 41 tahun ke atas berjumlah 45.228. Perbandingan ini menunjukkan realitas pemilih kaum milenial yang sangat signifikan. Pada kabupaten yang penulis sebutkan di atas jumlah milenialnya melampaui persentase 50 persen pemilih.

Meski tak ada yang mampu memastikan, atau menerka siapa yang akan memenangkan Pemilu 2019 baik di tingkat lokal atau nasional, abstraksi di atas penulis maksudkan sebagai bahan mapping meraih dukungan milenial. Pemilih milenial ini diasumsikan sebarannya lebih banyak di kota, dan mengakrabi perkembangan informasi teknologi.

Yang mesti diingat revolusi di Indonesia di tahun 1945-1948 digerakkan oleh kaum muda berusia 18-25 tahun. Apakah Pemilu 2019 akan memiliki nasib yang sama bahwa kontestasi ini juga akan digerakkan oleh kaum milenial. Atau mereka yang diakrab disebut sebagai generasi Y yang lahir di tahun 1980-2000-an. Yang pasti usia ini telah menjadi lumbung suara sangat menentukan.

Dengan karakter milenial yang menarik, peserta Pemilu 2019 dituntut untuk terus mengayakan metode pun strategi paling jitu untuk menggaet pemilih mula-muda. Agar pemilih ini tidak hanya menikmati serbuan informasi yang begitu gencar, tapi kabur pada kepentingan mendasar. Sebab setiap hari terbawa arus riuh-rendah peta politik dan kekuasaan yang jauh sifat dasar milenial, yang apolitik.

Dalam konteks politik, generasi ini disebutkan cuek dengan politik. Survei Alvara menyebut, hanya 22 persen anak-anak milenial yang mengikuti pemberitaan politik. Sisanya, mereka lebih banyak mengikuti seputar olahraga, musik, film, lifestyle, socmed, kemudian IT (teknologi informasi). Hal ini dikemukakan CEO Alvara Research Center, yang penulis nukil dari detiknews.com (20/10/2018).

Namun rilis Direktur eksekutif Puskaptis, Husin Yazid mengatakan, tingginya partisipasi masyarakat karena tingkat pengetahuan masyarakat pada Pemilu yang tinggi menggembirakan. Disebutkan, 89.38% warga mengetahui Pemilu 2019 akan dilaksanakan pada Rabu, 17 April.

Menurutnya, tingginya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Pemilu 2019, pun berkorelasi terhadap tingginya partisipasi, berkisar 92% atau diprediksi sekitar 82,23% publik akan berpatisipasi dalam pemilu 2019,” ujar Husin di kawasan Menteng,  Jakarta Pusat, via Sindonesw.com, Selasa (29/1/2019).

Dari data tersebut, menegaskan milenial idealnya terus diberi pemahaman, dan pengetahuan kepemiluan yang lebih baik. Itu dari aspek teknis, sementara urusan subtansi program kerja juga visi dan misi yang dapat menggerakkan pemilih milenial ke TPS juga menjadi tanggung jawab peserta Pemilu 2019. Kegandrungan mereka di teknologi mesti selaras dengan harapannya pada kualitas calon pilihan.

Mamuju, 12 Februari 2019

Ilustrasi : Freepik.com

Share this post

Post Comment