Puang Manyang, dan Off The Record Itu

Puang Manyang, dan Off The Record Itu
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Kisah ini telah berumur delapan belas tahun. Tidak terasa sesungguhnya, hal yang menunjukkan bahwa hari ke bulan dan tahun itu seperti hanya berlangsung dalam sepersekian detik ingatan. Awal tahun 2000-an saya bekerja sebagai pemimpin newsroom Tabloid Suara Demokrasi, media mingguan lokal ini berbasis di Jalan Kapten Jumhana, Wonomulyo. Di kota kecil ini telah lama berdiri Radio Suara Sawerigading.

Di masa-masa itu, ada beberapa isu lokal yang berkembang sangat dinamis. Sebutlah proyek bendung Sekka-Sekka, suksesi pemilihan bupati Polewali Mamasa, juga tahun-tahun genting perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Tidak termasuk beberapa masalah sosial, ekonomi, dan politik lainnya.

Di awal tahun 2000 bertemulah penulis dengan Andi Manyambungi Sompawali, atau yang lebih familiar dengan sebutan Puang Manyang. Sosok ini sangat sederhana dalam sisi apapun, padahal beliau seorang Maraqdia Alu. Figur ini pun terlalu sopan dan menghargai orang lain, ketika itu beliau merupakan mantan Kepala Dinas Penerangan di Kalimantan Timur. Untuk ukuran wartawan muda saat itu, penulis beruntung diberi ruang amat luas untuk menjangkau beberapa sisi kehidupan pribadinya.

Kadang penulis juga berpikir, bahkan lupa di mana awalnya berkenalan dengan Puang Manyang. Namun tiba-tiba seperti ada pintu tanpa portal untuk duduk akrab di sisinya. Sosok ini kerap bepergian dengan banyak orang yang massippiq beliau sebagai Maraqdia, namun di kesempatan berbeda saya malah pernah berduaan dengan beliau di pinggir sawah Tumpiling, di samping penjual pisang ijo.

Pagi itu ia baru tiba dari Makassar dengan banyak penumpang di mobilnya, orang banyak itu aslinya warga Polewali yang diangkutnya dari pinggir jalan di Makassar. Sebagian adalah mahasiswa-mahasiswi yang malah diantar satu demi satu sampai ke rumahnya. Para orangtua penumpang itu pun berlompatan, dan tergopoh-gopoh memberikan penghormatan, begitu tahu anak mereka diantar pria low profile ini. Puang Manyang memang tak pernah mengenalkan dirinya sepanjang perjalanan. Tentang kisah di sisi penjual cendol dan pisang ijo itu insya Allah pada catatan lain.

*

“Besok kita ketemu di rumah, Kandeapi,” balas beliau ketika saya meminta kesempatan untuk wawancara khusus. Berjanji dengan narsum awal 2000-an harus dibuat lebih tegas, masa sms apalagi WA masih beberapa tahun kemudian.

Karena cukup jauh dari Wonomulyo, saya berangkat bersama rekan Hamsi Mariase lebih awal. Seperjuangan ini selain sebagai reporter berbakat, kala itu ia juga menjabat sebagai Kepala Dusun Lujo, Mapilli. Sore hari, kami telah sampai di rumah panggung Puang Manyang, di Tinambung.

Ketika Puang Manyang tahu kami sudah berada di rumahnya, ia meminta beberapa orang untuk menyediakan teh manis dan beragam kue. Kami diminta menunggu. Kepada tamunya ia mengatakan telah janjian dengan kami untuk wawancara. Penantian untuk dapat mengobrol mengenai situasi sosial politik dan budaya di Polewali Mamasa memiliki jeda amat lama. Ia meminta kami bersabar.

Sebagai wartawan sabar menunggu itu bukan sebuah nama warung yang sering kami lewati di Wonomulyo, tapi ini standar penting bagi jurnalis dalam menguji daya tahan. Kesabaran saya dengan Hamsi benar-benar ditanak hingga menggelembung jadi kumparan titik bosan. Tiga gelas teh panas tandas hari itu. Bakda Isya setelah diajak makan malam bersama wawancara pun dimulai.

Hampir lima jam menantinya selesai menerima tamu yang bergantian datang. Yang terasa unik kami tetap diminta duduk di ruang tamu, sambil mendengarkan apapun pembicaraan Puang Manyang. Karena tabloid Suara Demokrasi yang kami kelola edisi pekanan situasi seperti itu tidak terlalu mencekik deadline.

Durasi wawancara menghabiskan hampir dua kaset mini tape recorder. Kira-kira obrolan itu memakan pita sepanjang tiga jam. Sayangnya penantian panjang dari sore itu, yang diantarai shalat maghrib dan isya juga makan malam memakai kappar, berakhir dengan kalimat penting. Imaji saya tentang kolom wawancara yang menarik sebenarnya sudah kelar, namun tiba-tiba buyar.

Dalam jam-jam penting itu, Puang Manyang memanjati sendiri tangga bambu ke tapang untuk mengambil sebuah benda berukuran panjang, mungkin itu paralon atau jenis pattung. Warnanya coklat tua. Beliau menghamparkan lembaran begitu panjang itu di atas meja. Ia menerangkan dengan detail setiap noktah dari manuskrip, yang menurut keluarganya malam itu, hanya beberapa orang yang diberi kesempatan melihat bersama Puang Manyang.

“Saya minta ini semua percakapan off the record.” Saya bertatapan dengan Hamsi Mariase. Sambil mengangguk takzim pada Puang Manyang. Tape recorder merek Sony itu telah lama di-off-kan. Jam dinding di rumah dari kayu ulin itu menjejak jam sepuluh malam lewat. Suasana yang seolah melewati fase lampau dari setiap ujarannya kemudian menyentuh titik diam. Tanpa angin nir gerak.

“Iye Daeng…”

Pada dasarnya off the record menurut Dewan Pers, sama dengan tidak pernah adanya sebuah berita. Sedangkan narasumber yang menyampaikan informasi juga dianggap tidak pernah ada. Jika kemudian pers menyiarkan berita off the record, berarti seluruh isi berita tersebut harus dianggap tidak ada. Percakapan inti malam itu tidak pernah ditulis hingga hari ini. Kecuali pertemuan yang cukup dramatis seperti itu.

Itu mengenai etika. Juga tentang kepercayaan tinggi narasumber pada seorang wartawan. Margin off the record ini wajib dihormati, kecuali seorang jurnalis tak lagi laik dipercaya atau dihormati. Beberapa orang dekat Puang Manyang kerap bertanya, apa sebenarnya yang dibincang malam itu di rumahnya. Jawaban saya tetap off the record.

“Insya Allah kita akan keliling Alu sama-sama. Belum pernah naik kuda toh, tapi banyak gunung dan sungai itu…” janji Puang Manyang yang sangat ingin mengenalkan negeri yang dicintainya. Sayang beliau tak lagi pernah kembali. Ia wafat di Tanah Suci, dalam perjalanan menuju Madinah usai berhaji di Mekkah.

Catatan ini sebagai cara mengenang dan menghormati beliau. Seorang Raja dapat berpulang. Tapi adabnya yang tinggi akan selalu terkenang. Wallahu’alam.

Mamuju, 10 Februari 2019

Foto :
Puang Manyang saat hadir pada pemaparan perkembangan perjuangan Sulbar pada acara Mubes & Silaturahmi Nasional KKM di Padepokan Pencak SIlat TMII 23- 25 Maret 2001. (Sumber : Buku Jejak Dua Lelaki)

Share this post

Post Comment