Legenda Lontong Kecap Mbah Sipah

Legenda Lontong Kecap Mbah Sipah
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin
(Writer)

SEJAK tahun 1959. Mungkin inilah warung makan tertua di Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang masih eksis. Didirikan oleh Musipah atau Mbah Sipah, di Desa Sumberjo (kini Sugihwaras). Letaknya cukup mudah dijangkau.

Sosok inilah yang menemukan resep kecap legendaris, yang dipadu dengan lontong. Keistimewaan kuliner yang mulai penulis cecap sejak tahun 1980-an, belakangan sangat populer dengan sebutan Lontong Kecap.

Makanan yang terbilang sederhana, namun sanggup membuat penikmatnya terus kembali ke warung Mbah Sipah. Hanya lontong, seduhan kecap manis, ditabur tempe dan toge. Harganya? Yakin murah dan meriah.

Mbah ini lahir di Muneng, Kertosono, Nganjuk. Ia merupakan bagian dari angkatan pertama transmigran yang datang ke Tanah Mandar, di masa Kerajaan Mapilli sekitar tahun 1930. Menurut kisah yang ada, hutan belukar dan berawa yang disulap menjadi Hutan Mulya (Wonomulyo) itu masuk dalam wilayah kekuasaan Mapilli.

Jauh sebelum Indonesia merdeka dataran rendah Mapilli itu dibangun sebagai pemukiman dan membuka lahan pertanian membentang luas. Mbah Sipah dalam usia belia telah melihat hasil kebun yang melimpah, tapi ekonomi seret. Transaksi awal di warung ini masih berupa uang “benggol” yang tengahnya berlubang.

Akhir tahun 1950-an ia pun memulai bisnis yang tak dibayangkan akan melampaui umurnya. Awalnya dari pecel lontong yang dijajakan keliling sambil dipanggul oleh sang suami, Mbah Suparman, pria asal Demak Bintoro. Sementara mbah Sipah yang lebih banyak di rumah, pada akhirnya menemukan cita rasa baru mengenai kecap yang berbeda dari Jawa. Racikannya tanpa serai. Tapi dengan resep anyar.

“Meninggal dunia pada 2013, saat ia berusia 82 tahun,” kata Mbak Kusmiati, yang menerima ilmu membuat resep lontong kecap langsung dari Mbah Sipah. “Saya pas 30 hari diuji kemampuan setiap hari membuat resep sampai mbah mengatakan, ‘sudah pas rasanya’.”

Apa yang membuat Lontong Kecap Mbah Sipah seperti melekat dalam ingatan warga Wonomulyo. Apakah lontong bertabur toge ini memiliki resep rahasia?

“Sebenarnya tak ada rahasianya. Sebab mbah selalu memberikan resepnya ke siapa saja yang datang bertanya,” tutur Syaiful Umar (42) yang kini memegang amanah mengelola warung. Generasi ketiga ini masih berupaya mempertahankan eksistensi Lontong Kecap.

Sebelum hadir warung lontong yang sama di Wonomulyo, setiap hari mereka dapat menghabiskan 50 liter beras untuk membuat lontong. Kini hanya dikisaran 15 liter. Menu ini hanya dapat dinikmati mulai jam 06.00 pagi hingga jam 11.00 Wita. Saat penulis berbincang dengan Umar, Sabtu (15/6) siang, masih cukup banyak orang yang berdatangan, namun stok sudah ludes.

“Itu yang bikin nggak enak juga mas,” sebut Umar setiap usai menyapa pelanggan yang kehabisan lontong. “Ini kan bukan jalan besar, jadi mereka pasti menuju ke sini dengan tujuan makan. Tapi kalau habis, ya mesti balik besok lagi.”

Mbah Sipah, tidak hanya mewariskan kuliner yang khas Wonomulyo tetapi juga membuka peluang usaha bagi beberapa warung yang membuka sajian yang sama. Temuannya mengenai resep kecap istimewa dari kedelai hitam, gula merah, dan lengkuas itu menempatkan sebagai figur yang pantas disebut sebagai maestro kuliner khas Jawa dari Mandar.

“Kecap ini pernah diuji klinis di dinas kesehatan mas, dan hasilnya sangat baik bagi kesehatan. Termasuk bagi pria,” imbuh Umar yang tetap optimis lontong kecap akan tetap melegenda. Ia bahkan menuturkan, warung yang tetap didesain sederhana itu sering pula menjadi tempat reunian warga.

“Hal yang tetap kami pertahankan, proses di dapur masih dengan kayu bakar, juga air minum yang dimasak. Rasa yang kuat itu tetap dari dapur kayu bakar,” simpul Umar, saat mengajak penulis melihat bagaimana proses di dapurnya yang terus mengobarkan bara.

“Ada kepuasan tak ternilai, bila yang menikmati masakan kami mengaku puas mas. Pokoknya senang gitu.” (*)

Foto : Google Map

Sumberjo, 15 Juni 2019

https://www.google.co.id/maps/place/Nasi+Berenang+(Warung+Podjok)/@-3.3934277,119.2143866,615a,35y,133.71h,3.08t/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x2d949abf39c4330b:0x85b8b11a25373a5!8m2!3d-3.3941591!4d119.2138515?hl=en&authuser=0

Share this post

Post Comment