Warung Kartini, Ikon Nasi Berenang Wonomulyo

Warung Kartini, Ikon Nasi Berenang Wonomulyo
Advertisements

Mbah Waginten yang bersuami lelaki Mandar asal Tinambung di tahun 1960-an itu, telah melahirkan generasi pelanjut. Waginten lahir di Wonomulyo, anak seorang kolonis Mapilli tahun 1937, bagian dari daftar kedatangan pertama transmigran Jawa Timur di Distrik Mapilli. Resep soto ini sesungguhnya menurun dari Mbah Lin, seorang warga kolonis awal yang telah menjajakan soto ayam khas ini sejak masa Batalion 710 berkuasa di Mandar. Itu kurun orde lama saat situasi sosial politik di Sulawesi Selatan masih tak menentu.

Menurut Adi, soto ayam Mbah Lin telah dijual setiap kali ada hajatan atau pementasan acara seni tradisi seperti mariam soto, ketoprak, atau wayang orang di Wonomulyo. Mbah Lin istri mbah Surat di Sugihwaras.  “Soto ayam ini telah dijual sejak masa 710, mbah Waginten menerima resep rahasia Mbah Lin yang lebih awal menjual. Mbah Lin terkenal sekali sejak dulu dengan sotonya,” urai Adi yang amat fasih berbahasa Jawa, Mandar, dan Bugis ini.

Kini tak lagi mbak Muntiani berdiri melayani pelanggan di sisi belanga lonjong yang terus dipanasi, tapi telah hadir Seswati kakak Adi Erlangga, dan sang anak Hening Purnama Rosady yang mengelola warung setiap hari. Ini sebagai penanda cita rasa nasber akan terus terjaga, dan melayani selera dari generasi ke generasi Wonomulyo. Keluarga ini amatlah tepat disebut sebagai pelestari kuliner.

Bila anda ke Wonomulyo untuk menikmati makanannya, mulailah dari warung Kartini baru merenangi ragam jajanan khas lainnya di Kampung Jawa ini. Tanyalah setiap seorang nama warungnya. Mereka akan kompak menunjuk arah utara dari pasar Kappung Jawa. Kartini memang salah satu ikon yang mengenyangkan. Selamat menikmati.

 

Mamuju, 30 Agustus 2019

Share this post

Post Comment