Jurnal Warga

Latest

Menghitung Partisipasi Pemilu 2019

Advertisements

2019. Tahun yang amat penting bagi Republik ini. Pada tarikh yang akan menghitung dan menimbang sebuah proses suksesi terbesar dalam indeks sejarah kepemiluan yang kelak akan dilihat sebagai senarai bagi Pemilu berikutnya. Pemilihan umum kali ini sekaligus akan kembali menguji kekuatan batin pemilih dalam menentukan pilihan terbaiknya.

Hari H tanggal 17 April 2019 memang masih jauh dari hari ini. Namun serasa berjalan amat cepat. Semua tahapan Pemilu pun lamat-lamat berjalan dengan pasti. Pekan lalu, logistik berupa kotak suara dan bilik suara pun telah datang dan disimpan di gudang-gudang KPU. Saat berada di Kabupaten Pasangkayu, wilayah paling utara Sulawesi Barat, melihat proses bongkar simpan logistik, penulis merasakan suasana gempita Pemilu itu makin damping.

Apa yang berbeda dari Pemilu sebelumnya? Sebut saja, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nanti, setiap pemilih akan diberikan lima surat suara. Mulai dari surat suara untuk DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPD RI, DPR RI hingga Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pembaca dapat membayangkan bagaimana riuhnya TPS terdekat dari rumah masing-masing.

Dengan surat suara sebanyak itu untuk kesempatan yang sama di TPS, pemilih memerlukan tempo yang cukup untuk menentukan pilihan. Itu sebabnya, setiap pemilih sebaiknya telah memiliki pilihan yang tak tergoyahkan sejak berangkat dari rumah menuju TPS. Dibanding baru akan mencermati setiap kolom di surat suara di dalam bilik.

Setiap TPS di Pemilu 2019 akan melayani maksimal 300 pemilih. Dalam simulasi dengan 500 pemilih sebelumnya, rentang jam yang dibutuhkan cukup lama. Hitung saja bila setiap pemilih memerlukan tiga menit di bilik suara dengan 300 pemilih, belum lagi bila akan memasuki tahap penghitungan surat suara atau tungsura. Suasana TPS yang mulai dibuka jam 07.00 pagi itu akan ramai sepanjang hari hingga malam. Atau bahkan menyentuh dini hari.

Pemilu sebagai pesta demokrasi diharap dapat berjalan sesuai maknanya, kegembiraan dan keriangan. Bukan sekadar meluapnya mobilisasi warga atau berlimpahnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyukseskan perjamuan paling besar lima tahunan itu. Pemilu 2019 mesti kita maknai sebagai perayaan pilihan sebebasnya tanpa intimidasi dari manapun. Bilik-bilik suara itu ibarat oase yang menuntaskan dahaga.

Pemilu 2019 memiliki target partisipasi pemilih sebesar 77,5 persen. Intensi atau tumpuan diharap ini menginjeksi setiap Komisi Pemilihan Umum di daerah untuk makin menggiatkan sosialisasi dengan metode yang menyesuaikan kearifan lokal, berbasis keluarga, komunitas atau mengadaptasi perkembangan teknologi yang ada. Hampir semua metode dilakukan dengan best practice setiap daerah.

Partisipasi di Sulawesi Barat pada Pemilu 2014 mencapai persentase 75 persen. Capaian ini tentu diharap akan mampu melampaui di Pemilu tahun 2019. Nanti akan ada 3.837 TPS di Sulawesi Barat pada Pemilu 2019.

***

Data Pemilu 2014 secara nasional untuk Pileg dengan rincian 77,33 persen partisipasi perempuan, sementara kesertaan laki-laki sebanyak 72,90 persen. Sedang Pilpres tahun 2014 mencatat partisipasi dengan rincian 73,98 persen untuk perempuan, dan laki-laki 68,40 persen.

Kira-kira berapa partisipasi di Pemilu 2019 untuk Pileg dan Pilpres? Penulis optimis angka 77,5 persen ini dapat terlampaui. Bila antusiasme warga di media sosial, dan dalam diskusi-diskusi warga di manapun relevan dengan kampanye dan sugesti mereka sejauh ini.

Kini jejaring sosial telah mampu meningkatkan pengetahuan awal pemilih pada Pemilu 2019. Meski kita tak dapat mengelakkan begitu banyaknya perdebatan, pertikaian pendapat, juga hoaks akhir-akhir.

Namun dari sisi positif, penulis melihat arus deras media sosial telah meletakkan kesadaran, kuasa politik yang dahulu seolah berhulu di elit, kini perlahan bermuara di setiap ruang berpikir warganet. Pemilu memasuki fase yang lebih terbuka, dan tentu akan sangat mempengaruhi keterpilihan.

Ini juga bagian dari kesadaran yang kita butuhkan agar Pemilu makin berdaulat. Bahwa mereka bagian yang akan mampu menentukan pilihan secara elegan di 800.000 lebih TPS di tanah air. Pemilu memang bukan hanya milik peserta, juga bukan urusan semata penyelenggara, sebab ada partisipasi pemilih yang menakdirkan.

Oya, masih ada kesempatan tersisa beberapa pekan hingga 17 April 2019. Hari-hari yang berisi kampanye, tatap muka atau pun sosialisasi. Tahapan yang kian dekat ke Hari H, ini memerlukan ganduh semangat bersama yang tak membuat gaduh.

Peserta Pemilu maupun penyelenggara seyogianya menggiatkan kampanye dan sosialisasi. Menurut Wahyu Setyawan, Komisioner KPU RI, dalam Konsolidasi Nasional Partisipasi Masyarakat, kampanye atau sosialisasi bagi peserta dan penyelenggara memiliki tujuan yang sama: meningkatkan partisipasi masyarakat.

Senggigi, 1 November 2018

 

The Latest

To Top
error: Content is protected !!