Aholeang yang “Hilang”

Home » Aholeang yang “Hilang”
Aholeang yang “Hilang”
Advertisements
Oleh: Adi Arwan Alimin
 
Sabidin (45) tak sanggup menahan air matanya. Di bawah tenda birunya yang menampung dua KK itu ia mengisahkan bagaimana peristiwa longsor pasca gempa dua Jumat lalu. Dusun Aholeang yang ditinggalinya belasan tahun malam itu seperti mengirim horor.
 
Sebelum goncangan itu melepaskan energi yang sangat kuat warga Aholeang mendengar gemuruh dari bawah tanah. Setelah itu keadaan amat gempar.
 
Dalam kegelapan dusun yang berjarak beberapa kilometer dari jalan aspal itu, ia segera meraih anak-anaknya. Memeluknya sangat erat. Sabidin tak ingat apa-apa lagi selain terus bertakbir, dan meminta anak-anak mengikutinya menyebut nama Allah. Kepanikan seperti ditumpahkan begitu saja di Aholeang.
 
Hingga fajar menyingsing ia terus bertakbir. Sementara gemuruh longsoran tanah juga bebatuan terasa amat dekat sekali. Dari jarak pandangnya di sisi tebing matanya lamat-lamat melihat dinding perkampungan itu berwarna kecoklatan. Kian benderang hari sangat menakutkan itu barulah Sabidin dan warga lainnya sadar, longsor melalap rumah-rumah mereka.
 
Kecemasan ini makin menjadi sebab Dusun Rui yang berbatasan Aholeang bernasib sama. Akses jalan ke dusun ini tertutup pohon tumbang juga bebatuan. Di Facebook orang-orang yang mengetahui kejadian ini terus mendengungkan rasa prihatin. Saat yang sama Sabidin bersama ratusan penduduk berusaha menyelamatkan diri.
 
Mereka terpaksa membuat jalan memintas untuk mencapai desanya Mekkatta, Malunda, Majene.
Beberapa hari sejak terisolir mereka hanya memakan apa saja yang dapat mengganjal rasa lapar. Sabidin mengatakan memakan jamur untuk mengganjal lambungnya.
 
Longsor pasca gempa dini hari di Aholeang menimbun tiga warga yang hingga kini tak ditemukan. Beruntunglah ratusan warga lainnya telah mengungsi sejak gempa Kamis siang. Bila mereka tak segera pergi siang itu, Sabidin tak sanggup membayangkan.
 
***
 
Sore tadi semburat kesedihan masih amat terasa. Sabidin mulai sibuk membenahi perkampungan Aholeang-Rui sementara, kondisinya semacam kamp yang berdiri di atas kebun sawit milik warga di sana. Saat saya menyambanginya ia sementara membuat sumur bor sekitar 100 meter di bawah titik pengungsian.
Penduduk Aholeang-Rui sepakat dalam beberapa kali rapat bersama tidak akan kembali ke sana. Warga Aholeang juga Rui berharap pemerintah daerah dapat segera membantu mendirikan perkampungan yang lebih aman.
Aholeang tanah atas berongga itu bakal segera “hilang” dari peta sebelumnya. Kampung halaman baru sedang dirapatkan.
 
*PadangBulanMamuju
error: Content is protected !!