AIR MATA DI BUKIT TSUR

AIR MATA DI BUKIT TSUR
Advertisements

Cerpen: Adi Arwan Alimin

AKU akan bercerita mengenai persahabatan paling agung. Yang tak dapat ditakar dengan nilai apapun di bumi ini. Tiada seorang yang memilih menjadi pendamping, atau pengikut paling setia seperti kisah yang akan dituturkan. Ia seseorang yang sesunguhnya berumur lebih tua, dan lebih dikenal sebelum masa ini menjulang sebagai keemasan yang menyinari segala penjuru semesta. Sosok ini memilih sebagai sahabat sangat dekat, paling dipercaya hingga seluruh makhluk di bawah langit memiliki rasa cemburu padanya. Lahir di kota yang sama, mereka pun memilih tujuan yang sama beratnya ketika harus meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Jika dia merupakan lelaki paling dewasa saat memutuskan untuk mengikat tali imannya, dia merupakan diantara orang-orang terakhir yang meninggalkan Mekkah. Bersama Rasulullah ia meninggalkan segala apa yang mesti dijaganya, yang selama perjalanan hidupnya telah dikumpulkan dalam harta tiada terhitung. Namun hari itu, Jumat, 27 Shafar tahun 14 kenabian, atau 12 September 622 takdir memilihnya untuk ikut pergi. Dengan rute yang tak biasa dilalui manusia umumnya, keduanya menuju Madinah yang menjadi tujuan perjalanan agung ini.

Dalam ancaman pembunuhan yang terstruktur, Lelaki pilihan itu memilih meninggalkan Mekkah. Dia mengajak sahabatnya Abu Bakar. Tanpa pertanyaan penuh keraguan, dan tanggapan yang lebih jauh, sahabat ini menyatakan kesedian sebagai rasa cintanya kepada pembawa Cahaya iman.  Ia memang sangat mencintai Rasulullah melebihi apapun, melebihi rasa cinta pada keluarganya. Atau bahkan pada dirinya sendiri.  Sebelum melewati perjalanan yang sangat berbahaya itu, mereka memilih bukit Tsur, menjauh dari kejaran para pemburu hadiah berupa 100 ekor unta.  Mereka di sana selama tiga malam.

Di Tsur diantara sekian banyak bukti kecintaan itu lagi-lagi diuji.  Di gua yang dikenal sebagai Ghar al-Thawr atau Gua Banteng, dua manusia yang menghilang dari pandangan mata para jagoan Quraisy beberapa jam lalu kini berada di sini. Bagaimana pun mereka berjaga sangat ketat di pintu rumah Rasulullah, Allah Maha Kuasa atas segala urusanNya.

Ketika tiba di sisi bukit Tsur, Abu Bakar segera mengambil inisiatif untuk memeriksa gua yang akan mereka jadikan sebagai tempat berlindung.

“Rasulullah… biarkan aku memeriksa dan membersihkannya lebih dahulu,” kata Abu Bakar sambil memasuki gua yang berada di pinggang Tsur yang memiliki tinggi 4.610 kaki itu. Terletak di bagian bawah Mekkah sebelah selatan distrik Al-Msifalah.

Begitu selesai membersihkan gua, Abu Bakar meminta Rasullullah untuk beristirahat. Ia tahu pelarian ini amat berat, dan sangat menguras tenaga Lelaki yang sangat dicintainya itu. Abu Bakar pun berusaha menutup beberapa lubang  yang kemungkinan dapat menjadi sarang binatang berbisa yang lazim ada ditumpukan bebatuan, apalagi bukit ini yang tak pernah dijamah orang lain sebelumnya. Rasulullah memang terasa cukup kelelahan, sebab ia pun bahkan harus berjalan berjinjit dengan ujung-ujung kakinya agar tak meninggalkan jejak. Berjalan di pasir atau bebatuan dengan cara demikian tentu akan menyisakan rasa lelah. Apalagi mereka tahu bahwa orang-orang di Mekkah pasti telah mengetahui bahwa dua pria paling utama ini telah meninggalkan kota itu, meski meyakini sedang bersembunyi di sekitar Mekkah. Tapi di mana akan mencari dua manusia yang mengendap-ngendap dalam akhir malam menuju perbukitan ini.

“Istirahatlah wahai Rasulullah…”

Dengan wajah letih Muslim Pertama itu akhirnya berbaring dipangkuan Abu Bakar. Ukuran gua yang sempit dan berkontur batuan itu tak menyiskaan ruang lapang sebagai tempat berlindung paling nyaman. Tapi inilah tempat yang dipilih Rasulullah sebelum memutuskan peta selanjutnya yang akan ditempuh. Gua ini sesungguhnya berada di selatan Mekkah, sementara Madinah berada nun di utara. Inilah hal yang memancing rasa penasaran para jagoan Quraisy yang memiliki kemampuan dalam mencari jejak. Para penunggang kuda, pejalan kaki, dan pelacak telah amat bergegas meski harus pulang dengan harapan kosong.  Mereka diliputi ketidaktahuan, yang mereka cari sebenarnya telah sampai di mana. Sementara dua sosok yang mereka buru sedang berada di bukit terjal yang memiliki tiga puncak bersambungan yang berada tujuh kilometer dari Mekkah ke arah Thaif.

Gua Tsur memiliki luas tak seberapa. Pintu masuknya hanya cukup untuk satu orang dan perlu setengah membungkuk memasukinya. Di sanalah manusia agung itu tertidur di pangkuan sahabatnya. Keagungan wajah Rasulullah tak pernah lepas dari pandangan Abu Bakar, ia telah dipilih untuk bersama-sama lelaki yang ia tahu sedang membawa risalah suci bagi manusia.

Lamat-lamat Abu Bakar merasakan sebuah sengatan yang makhluk berbisa sedang menggigitnya. Tetapi ia bergeming, dan memilih binatang itu menyengat hingga sekujur tubuhnya diliputi getar. Ia menahan rasa sakit di gerahamnya. Wajahnya seperti memucat sebab bisa mahluk itu telah menyisakan demam yang menjalar dari kakinya.  Area lukanya memerah, menimbulkan bengkak, serasa ada lepuh sehingga terasa panas. Walau ia telah merasa nyeri otot yang sangat, Abu Bakar tetap saja membiarkan kakinya. Rasa sakit itu kemudian memuncak hingga air mata pria yang disegani kaumnya ini tak lagi dapat ditahan. Ia akhirnya menangis. Tetapi ia tetap tak ingin menggerakkan kakinya sedikit saja, ia tak ingin mengganggu tidur Rasulullah. Air mata pun melewati kelopak matanya, menetes dipipinya hingga pori-pori wajahnya tak sanggup menampung alir air mata cinta itu. Betapa kasih sayangnya tak dapat diperikan dalam kata-kata. Ini penyerahan rasa hormat, dan cinta yang sungguh tiada terperi pada laki-laki paling  mulai itu.

“Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?”

Ia masih saja menggeleng meski demam akibat gigitan ular itu telah menindih segala reniknya. Beberapa lubang di dalam gua itu telah ditutupnya kain. Namun masih tersisa dua lubang lagi. 

***

‘Sesungguhnya Aku telah diizinkan untuk pergi…’

“Engkau meminta aku menemanimu, wahai Rasulullah?” Tanya Abu Bakar pada Nabi SAW yang datang pada siang terik sambil menutup wajahnya dengan kain di saat tak biasa itu. Jibril telah menentukan momen hijrah tersebut, sehingga Rasulullah disarankan untuk tidak berbaring di tempat tidurnya.

Abu Bakar masih menahan tangisnya hingga air matanya membasahi wajah Rasulullah.

“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah! Aku telah disengat,” 

Dinding Tsur , bebatuan Tsur, pasir yang dipijak Rasulullah dalam jinjit ujung-ujung kakinya, dan seluruh kesiur angin yang bertiup di bukit itu seolah mewakili perasaan Abu Bakar yang tak mengeluh sedikit pun. Air mata di bukit ini mungkin telah melampaui bah terbesar yang pernah menenggelamkan bumi. Air mata di Tsur ini seperti linang samudera cinta seorang sahabat yang menjunjungnya melewati kasih sayang  akan dirinya sendiri. Ia tahu ini bukan perjalanan biasa, yang akan menempuh masa yang tak pernah Abu Bakar pikirkan. Rasa cintanya telah selesai pada apapun kecuali pada Rasul Agung, Rasulullah SAW.

 

Mandar, 7 September 2019

error: Content is protected !!