Andi Sanif Atjo, Wartawan Tiga Zaman

Andi Sanif Atjo, Wartawan Tiga Zaman

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Beliau kerabat dekat dari jalur bapak. Di masa muda ia pun kerapkali mampir di rumah kami di Wonomulyo. Panggilan Tante atau Om pada bunda atau bapak penanda mereka memiliki ikatan kekeluargaan. Sementara keakraban lain dengan saya berkutat dari latar belakang pekerjaan, sebagai wartawan.

Namanya familiar bagi wartawan sejak era 1970-an hingga tahun 2000-an. Siapa tak mengenal Andi Sanif Atjo, dilingkaran pewarta khususnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), tak hanya di Sulselbar namun sampai ke PWI Pusat. Jumat, 15 Maret tahun kemarin, ia telah kembali pada lajur kehidupannya yang kekal.

Setiap kali kita kehilangan teman dekat, sahabat, senior, apalagi sosok yang telah merupa orangtua dalam perjalanan karir, tahulah kita bahwa kematian niscaya. Walaupun kami berpaut umur cukup jauh, namun ikatan profesi telah membuatnya lebih cair. Saya mendampingi almarhum di PWI sebagai wakil ketua dalam dua periode sejak PWI Sulbar terbentuk hingga tahun 2017. Cukup banyak pengalaman dan dinamika dalam kurun itu.

Sebagai wartawan yang hidup di tiga zaman berbeda, paling tidak dimulai dari fase mesin ketik, laptop, dan kini digitalisasi – Andi Sanif memiliki pengalaman cukup panjang di Sulawesi Selatan, lalu kemudian di Sulawesi Barat. Meski telah berumur, almarhum bahkan beberapa kali menyetir sendiri dari Makassar ke Mamuju untuk urusan PWI. Semangatnya besar. Ia figur yang terus mendorong anak muda untuk membuat karya jurnalistik terbaik.

Suatu kali, Andi Sanif, mengatakan kepada penulis bahwa kiprahnya di media atau jurnalistik di masa muda ikut dipengaruhi Husni Djamalauddin. Tokoh utama perjuangan Sulbar, yang juga wartawan sekaligus. Sastrawan senior itu seolah menjadi patron bagi Sanif muda.

Hingga di akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an Sanif beberapa kali harus berurusan dengan pihak lain karena laporan investigasi di surat kabar. Sanif Atjo bersama kawannya di Makassar bahkan pernah mengungkap sebuah misteri pembunuhan yang kala itu, menjadi mustahil. Tetapi instingnya yang kuat mampu meyakinkan aparat.

Kami akrab menyapanya sebagai Daeng. Kepada penulis ia berpesan. “Seorang wartawan harus terus menulis sampai akhir hayatnya. Atau dalam profesi apapun kelak, kamu mesti terus menulis.” Percakapan itu hampir sedekade berlalu.

Sisi lain dari ketokohannya sebagai wartawan senior, Daeng Sanif Atjo, memiliki rasa humanis yang sangat tinggi. Ia rajin mengunjungi orang yang sedang sakit dan sering menggalang bantuan. Ia pun rajin bangun di sepertiga malam mendirikan shalat.

Penulis pernah sekamar dengan almarhum di Pondok Haji Jakarta, saat kami akan ke Kongres PWI di Aceh 2010. Dalam keheningan malam penulis mendengarnya menangis. Bercucuran air mata di hamparan sajadah.

Dalam keremangan malam penulis melihatnya menengadah ke langit. Ia memanjatkan doa-doa tentang permohonan ampun pada Allah SWT, termasuk mendoakan semua orang. Air matanya tumpah disela tahajud panjang.

Diam-diam penulis ikut menitikkan kesedihan sambil memejamkan mata, seolah lelap di antara dipan dan lantai tempatnya meraung. Sejawat di PWI Sulbar pun tahu bahwa senior ini amat mudah menangis.

Jelang kematian beliau penulis tak lagi pernah bertemu. Ia menetap di Makassar. Kami tak akan pernah lagi mendengar dialeknya yang khas. Tak akan ada lagi tepukan atau jabatan tangannya yang mengguncang. Penulis bahkan pernah melerai almarhum saat bersitegang di Jakarta. Kuatir tekanan darah tak terkendali.

Barulah hari ini saya dapat mengumpulkan kolase tentang sosoknya. Dahulu seingat penulis beliau sering memakai rompi ala wartawan, saat mampir di rumah di Wonomulyo. Ketika itu usia penulis masih bocah. “Bapakmu dulu yang sering mengawal saya kalau pergi meliput di Polewali,” sebutnya berulang kali.

Ketika kami mendapat undangan ke Istana Negara, beliau meminjamkan baju batik. Saat itu saya hanya membawa kemeja, itu pun mulai lecek, karena di Jakarta hanya transit dari acara PWI di Pulau Sumatera. Presiden mengundang wartawan ke Istana karena tak dapat hadir di acara PWI pimpinan Tarman Azzam.

“Muaq meloq bando mampake bajuU, pakai saja (kalau kamu ingin memakai baju saya, pakai saja),” ujarnya sambil tertawa lepas. Sepotong batiknya dengan motif kecokelatan saya pakai bertemu Presiden SBY.

Ini mungkin obituari yang terlambat. Tapi tetap sebagai catatan bahwa PWI Sulawesi Barat pernah memiliki wartawan tangguh dari tiga zaman berbeda, yang menginspirasi berdirinya PWI di jazirah ini.

PWI Sulbar ibarat anak yang ditetasnya. Semoga beliau husnul khatimah.

Mamuju-Makassar, 1 Maret 2020

GA661/38H

Foto : Pedoman Karya

Ketfot : WARTAWAN senior, mantan pengurus PWI Sulsel dan mantan Ketua PWI Sulbar, Andi Sanif Atjo (kiri) foto bersama Pemred Majalah Pedoman Karya, Asnawin Aminuddin, pada tahun 2015 di Makassar, Andi Sanif Atjo meninggal dunia di Makassar, Jumat malam, 15 Maret 2019. (ist)

error: Content is protected !!