Jurnal Warga

Latest

Bang Ki, Doamu Telah Terjawab

Oleh Adi Arwan Alimin

Doa

Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

                         (Chairil Anwar)

Inilah puisi yang paling saya sukai, jika dibacakan Bang Azikin Noer. Vokalnya memiliki level oktaf paling puncak diantara kami, yang belajar membaca puisi padanya. Suara selalu menggelar dari panggung ke panggung.

Bila ia membaca bait ini, Tuhanku_
Aku hilang bentuk/
Remuk//… lelaki ini akan asyik-masyuk sendiri dalam pencapaian rasanya. Ia benar-benar seperti remuk. Seperti hari ini, ketika ia menjemput “Doa” puisi Chairil Anwar yang diketuknya jelang Selasa subuh, 14 November 2018.

Jauh sebelum Azikin Noer -kami memanggilnya Bang Ki di Komunitas Paqbanua, aktif sebagai aktivis pemberdayaan desa di Sulawesi Barat. Ia memang seperti dilahirkan untuk menjadi penyelia masalah-masalah sosial. Apa saja keluhan warga yang sampai padanya akan dikawalnya tanpa pamrih. Orang-orang di Wonomulyo hingga ke kampung-kampung sangat mengenalnya.

Lama kami tidak bersua. Saya tidak ingat kapan terakhir bertemu. Kami memang masing-masing telah sibuk di lapangan pekerjaan berbeda walau satu kota di Mamuju. Sesekali ada teleponan singkat. Namun yang jelas, sebelum penulis hijrah ke kota ini, akhir 2004, beliau diantara senior di Wonomulyo yang penulis mintai pendapat. Jawaban mereka kompak; ke Mamuju. Itu ketika pimpinan di Radar Sulbar memberi pilihan, Polewali atau Mamuju.

Pages: 1 2 3

The Latest

To Top
error: Content is protected !!