Jurnal Warga

Buku

Bedah Buku tentang Demokrasi Bermartabat

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

TAK banyak acara seperti rapat koordinasi Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI yang ditaburi begitu banyak buku. Spesial lagi karena sumber-sumber referensi ini karya anggota DKPP RI, seluruhnya mengulas keilmuan para penulis juga mengurai hal teknis, dan etika kelembagaan penyelenggara pemilu.

Setelah keynote speaker Profesor. Dr. Asshiddiqie, SH menyampaikan materi pada sesi pagi mengenai etika penyelenggara pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jadwal diskusi buku yang dipandu tenaga ahli DKPP Dr. Firdaus pun dimulai.

Buku yang didiskusikan sekaligus yakni: Pemilu dan Etika Penyelenggara Pemilu Bermartabat yang ditulis Profesor Teguh Prasetyo; Kelembagaan Pemilu untuk Pemilu Bermartabat (Suatu Orientasi Teori Keadilan Bermartabat) karya Profesor Teguh Prasetyo; Peradilan Etika Pemilu (Penguatan Akuntabilitas Penyelenggara Pemilu) ditulis Profesor Muhammad; MK dan Kepastian Hukum Pemilu (Tafsir MK Terhadap UUD RI 1945 untuk Kepastian Hukum Pemilu) ditulis Dr. Ida Budhiati.

Bedah buku ini menghadirkan penanggap Dr. Mulyadi (akademisi UI), Dr. Jeferson Kameo, dan Dr. Sigit Pamungkas. Cukup berat membaca cepat empat buku sekaligus yang dibagikan sejak Jumat malam. Namun secara umum referensi yang ditulis para punggawa DKPP RI ini ingin menguraikan betapa integritas pemilu sangat menentukan kualitas demokrasi di Indonesia.

Sebelumnya mantan Ketua DKPP RI, Prof. Jimly menegaskan, integritas penyelenggara pemilu juga mesti ditopang berkualitasnya pilihan pemilih, dan peserta pemilu atau pilkada. “Kualitas demokrasi bukan hanya soal pemilu tapi juga ada persoalan human right,” tegas Prof. Jimly mantan Ketua DKPP RI yang kini berkiprah di Senayan.

Prof. Harjono sendiri saat mengantar acara pagi ini dengan menekankan agar pemilih, kontestan dan penyelenggara mampu melahirkan budaya demokrasi yang sebenarnya.

Dalam prakata Ida Budhiati, ia mengatakan undang-undang pemilu sebagai produk politik menggambarkan karakter hukum yang tidak terlepas dari pengaruh kekuatan sosial politik, sehingga rumusan pengaturannya berpotensi menimbulkan problem hukum pemilu.

“Di masa datang kita berharap penataan kelembagaan pemilu harus didesain lebih efisien dan profesional,” singkat Ida Budhiati, komisioner KPU RI periode 2012-2017.

Ida merilis buku Mahkamah Konstitusi dan Kepastian Hukum Pemilu Tafsir Mahkamah Konstitusi Terhadap UUD RI 1945 untuk Kepastian Hukum Pemilu. Sebuah kajian atau perspektif Mahkamah Konstitusi mengenai kepastian hukum pemilu melalui pengujian undang-undang yang berkaitan dengan pemilu.

“Kepastian hukum haruslah ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dan tidak sekadar berkaitan dengan kelembagaan dan teknik kepemiluan, namun harus juga menjangkau aspek hak asasi warga negara. Dengan demikian selain melihat Mahkamah Konstitusi sebagai ‘guardian of the constitution’ buku ini juga melihat peran MK sebagai penjaga demokrasi konstitusional warga negara dan perlindungan HAM,” sebut Ida Budhiati dalam laman dkpp.go.id.

Sementara Profesor Teguh terus mendorong penguatan pemilu yang berkeadilan dan bermartabat. Penulis buku Pemilu Bermartabat ini juga mengatakan, secara filosofi demokrasi yang baik hanya dapat diwujudkan bila semua elemen yang menjadi bagian dari pemilu menjaga martabat demokrasi.

Guru Besar Universitas Pelita Harapan (UPH) ini mengungkapkan,
“Pemilu harus berintegritas, mandiri, dan jujur, namun tidak cukup sampai di situ, melainkan harus ditambahkan, yaitu ditinggikan menjadi bermartabat.”

Di mata Profesor Muhammad moral penyelenggara pemilu harus dibangun. “Etika itu tidak dapat dibeli di toko, tapi etika hanya dapat dibangun oleh setiap pribadi. Hukum itu berlayar di samudera etika.”

Diskusi buku mengenai kepemiluan ini memang amat dinamis, memerlukan cara membaca yang lebih kritis. Bedah karya hari ini di Mercure Ancol, Jakarta mendedah pikiran kita bahwa urusan pemilu bukan hanya mengenai persoalan teknis semata, namun ada hal utama lainnya. Yakni mengenai cara menjaga etik, atau martabat penyelenggara.

Ancol, medio Desember 2019

The Latest

To Top
error: Content is protected !!