Bukan Generasi Instan

Bukan Generasi Instan
Advertisements

Oleh: Dr. Idham Holik

DALAM A Call for Revolution (1993), saya mendapatkan kalimat bijak dari sang penulis kritis Amerik a Serikat, Martin L. Gross yang mengemukakan: “Kita hidup di sebuah dunia di mana politik telah mengganti filsafat”.

Resiko terbesar dari generasi yang tidak memahami filsafat adalah generasi yang rentan (vulnerable generation), karena tidak memiliki kemampuan berpikir kritis dan radikal (sampai pada akar masalah). Absennya filsafat dalam kehidupan generasi yang seperti dikemukakan oleh Gross tersebut ditandai dengan gaya berpikir yang instan –bisa disebut juga sebagai generasi instan, mirip dengan produk-produk pasar yang dikonsumsinya yaitu produk instan.

Wajar saja, ketika hoaks dan rekan-rekannya mensaturasi atau membanjiri ruang publik media sosial dalam Pemilu Serentak 2019, pemilih mudah terpolarisasi dengan tajam dan bahkan terjebak dalam lingkaran tindak pidana dalam internet. Itulah bukti bagaimana bahayanya cara berpikir instan, penerima informasi dengan mudah terpersuasi.

Dengan demikian, generasi instan ditandai pasivitas dalam penerimaan informasi. Ketika mereka menjadi khalayak media massa atau pengguna media sosial, mereka adalah khalayak/pengguna pasif, tak berdaya menolak dan hanyut dalam arus deras pesan-pesan destruktif dan bahkan penerimaan informasi mereka dapat dianalogikakan seperti jarum suntik memasukan cairan ke dalam tubuh.

Generasi instan dapat mengabrasi demokrasi. Tentunya ini sangat bertentangan dengan negara kita yang sedang mengonsolidasikan demokrasi agar Indonesia menjadi negara demokrasi yang tangguh dan matang. Marilah kita bersama segera transformasikan generasi instan menjadi generasi yang berliterasi (baca: berpengetahuan dan kritis atas informasi yang diterima).

Mengapa demikian? Karena generasi instan tidak hanya berbahaya bagi kehidupan individualnya sendiri, tetapi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi kini adalah tahun-tahun konsolidasi jelang penyelenggaraan Pemilu Serentak 2024 dan Pemilihan Serentak Nasional 2024 yang berpotensi masih dalam bayang-bayang politik pascakebenaran (post-truth politics), karena politik pascakebenaran yang dilengkapi dengan propaganda semburan kebohongan (“firehose of falsehood” propaganda) pasti dimainkan oleh para Machiavellian dengan tujuan merusak citra atau dereputasi para komptetitor ataupun pihak yang dibencinya.

Itulah alasan kenapa kita harus berfilsafat, karena tidak sekedar menyelamatkan diri kita sendiri. Tapi juga untuk kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara. Rakyat yang berdaulat seperti terdeskripsi secara eksplisit (muhkamat) dalam konstitusi kita harus dilindungi dengan mengajaknya berpikir filosofis, khususnya generasi muda atau millenial.

Marilah kita ingatkan kembali siapa diri mereka yang sebenarnya, karena konstitusi sangat memuliakannya. Tidak ada negara, tanpa kedualatan rakyat. Mengenal diri sendiri adalah cara paling mudah dalam berfilsafat. Seperti kata Aristoteles, knowing yourself is the beginning of all wisdom. Mengenal siapa diri kita adalah awal dari semua kebijaksanaan hidup. Sudah kah kita berdaulat? Itulah sebuah pertanyaan reflektif untuk kita semua. Hanya yang mau berfikir filosofislah yang bisa mendaulatkan dirinya. Apalagi mau belajar filsafat eksistensialisme seperti dikemukakan oleh Jean Paul Sartre.

Bagi generasi yang mencintai filsafat biasanya memiliki kemampuan untuk berpikir logis, menganalisis dan memecahkan masalah dengan benar, dan juga menulis dan berbicara dengan menarik. Dengan demikian, kemampuan berfilsafat sangat dibutuhkan bagi siapapun yang ingin sukses dalam karirnya, termasuk dalam dunia profesional. Jadi berfilsafat tidak hanya persoalan kewargaan (civic matters) seperti terdeskripsi singkat di atas, tetapi ini persoalan bagaimana kita dapat mengelola hidup secara benar.

Siapa yang tidak mengenal Steve Jobs, pengusaha superlatif, yang menciptakan produk canggih yang mengubah dunia, dan bahkan mengubah identitas sosial pengguna produknya tersebut. Jobs adalah salah satu pengusaha-filsuf (a businessman-philosopher) dan juga sang filsuf (the philosophy). Filsafat menjadi kunci sukses binis Jobs yang berbasiskan pada kreativitas tingkat tinggi, dan bahkan Jobs sendiri pernah mengemukakan bahwa teknologi itu adalah seni. Tidak ada orang memiliki kemampuan seni, tanpa kemampuan filosofis, karena seni adalah bagian dari aksiologi filsafat.

Ayo kita berfilsafat? Jangan biarkan diri kita menjadi generasi instan? Marilah kita jadikan berfilsafat sebagai cara kita hidup, seperti yang dikemukakan oleh Pierre Hadot dalam bukunya Philosophy as a way of life (1995).

Mari gunakan filsafat untuk semua sisi kehidupan kita mulai dari jalan kaki yang menjadi keseharian kita, seperti dikemukakan oleh Frederic Gros dkk dalam bukunya “A Philosophy of Walking” (2015); tertawa atau humor, seperti dikemukakan oleh John Moreall dalam bukunya “The Philosophy of Laughter and Humor” (1986) –apalagi kini kita harus banyak tertawa agar imunitas kita terus terjaga dan meningkat di tengah pandemi Covid-19; dan bahkan sampai pada urusan sepak bola, seperti dikemukakan oleh Stephen Mumford dalam bukunya Football: the Philosophy Behind the Game (2019).

Selamat berfilsafat. Bagi yang tidak mau berfilsafat, siap-siap diperdaya oleh para Machiavellian…

error: Content is protected !!