Catatan dari Taman Mahasiswa Todilaling Yogyakarta

admin
Advertisements

BILA kau merasa tak memiliki cukup umur untuk melakukan semua hal, bicaralah pada anak muda. Terima kasih atas diskusi sampai jelang dini hari. Dialektika tak boleh berhenti. Diskusi itu selalu mengayakan sebagaimana kritik yang kita anggap sebagai penggerak. Lakukanlah beberapa perihal, tetapi itu selalu memerlukan keseimbangan yang kita sebut teori “kawari” semalam. Namun untuk dapat eksis beradaptasilah pada pilihan utamamu.

Tak apa-apa saya mesti duduk di sadel ojek online dari Sleman untuk duduk saling bersila. Saya seperti datang massiara pada Todilaling sebagaimana nama pondokan besar ini. Adakalanya yang dipanggil bapak, kanda atau abang itulah mesti menemui. Itu telah cukup menunjukkan bentuk kasih sayang. Kira-kira demikianlah.

Perbincangan semalam amatlah luas. Seperti semesta unsur-unsur kebudayaan Mandar yang tak mampu diurai begitu rupa. Tapi memantik kesadaran internal atas dinamika sosial di daerah secara umum telah menjadi ikhtiar penting. Bila anak-anak muda masih meramu kegelisahan intelektualnya sebab merasai realitas sosial yang bergerak secara dinamis. Percayalah kita masih akan memiliki lebih banyak pegiat, dan aktivis yang akan mendedikasikan hidupnya bagi litaq pembolongang dalam cara berbeda-beda.

Dahulu Arajang Todilaling telah meletakkan hal yang fundamental bagi Balanipa, Ayah bagi persaudaraan besar negeri-negeri di Mandar. Ia dapat mewariskan tata kelola pemerintahan lebih modern, seyogianya dari semangat yang sama bakal lahir gagasan futuristik. Melampaui orang lain.

Dari spot Taman Mahasiswa Yogyakarta ini; Todilaling. Entitas lokal itu mesti selalu digelisahkan, dikencangkan, dibicarakan, dan dituliskan. Kita tak boleh membiarkan perubahan yang bergerak sangat cepat bersama dinamika sosial itu akan meluruhkan nilai kearifan. Orang Mandar itu senantiasa mampu membolong, atau pandai mengadaptasi segala pengetahuan juga kearifannya. Di mana pun, kapan pun.

Dalam bahasan mengenai Kawari yang berbicara tentang pola keseimbangan itu. Sebenarnya selalu dilekati kata “anjong”, sebuah aktivitas saling membantu menerbangkan cita-cita menjangkau langit. Ini mungkin sebuah metafora. Tapi kita memang dilimpahi kekayaan majasi sejak lampau.

Oya, andiangsawaq Allah Ta’ala kita diskusi lagi. Terima kasih Puaq Hasanuddin dan kawan-kawan sammandarang, juga Dede yang telah mengantar saya menyisir udara malam kota istimewa ini.

Sleman, 28 November 2019

Next Post

Silir Gamelan Bali Sebelum Jumatan

Oleh Adi Arwan Alimin Saya lupa sudah berapa kali ke pulau ini. Sebuah kota yang hampir menjadi impian banyak orang untuk dikunjungi. Bali memang destinasi wisata papan atas di Indonesia. Meski melintasi dua provinsi kini cukup singkat untuk sampai di sini. Dari boarding siang via bandara Tampa Padang Mamuju transit […]

Subscribe US Now