Cerpen: Corona

Cerpen: Corona

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Tergopoh-gopoh lelaki paruh baya itu menjejak undakan persawahan di tepi desa. Sebuah daratan yang membujur luas hampir 30 derajat hingga di puncaknya terdapat dangau tempat warga seringkali bertemu. Lelaki itu mengatur napasnya satu demi satu sebelum mengutarakan isi kepalanya. Di bawah sana sepeda motornya di parkir, mungkin tak kuat mendaki hingga ditaruh di sisi saluran air.

“Puang, ada banyak tamu di kantor…” lapornya begitu menguasai udara yang mengalir dari dadanya. Tapi selorong perasaannya serasa terdengar lepas.

“Siapa?” Tanya laki-laki bersarung hitam motif garis kotak memutih. Songkoknya hanya berjarak sejari dari kening.

“Anu, kurang tahu juga Puang.”

“Hmm, lain kali tanya dulu baru lapor ke sini,” sambut seorang lelaki yang tampaknya berperan sebagai ajudan. Ia memegang smartphone berbungkus kulit.

Di puncak bukit itu sejak lama dibangun rumah dari kayu, ukurannya cukup luas hingga dapat menampung puluhan warga yang biasanya menggelar rapat turun sawah. Hanya berdinding papan sebagian dengan lantai setinggi paha orang dewasa. Di sanalah percakapan itu memuai tertiup angin musim tanam. Tak terdengar apalagi yang dibicarakan tiga orang barusan. Kecuali laki-laki yang datang tergopoh-gopoh ke daratan meninggi itu kembali terlihat menuruni setapak beton, dan memacu motornya pergi.

Orang-orang telah cukup banyak berkumpul di halaman kantor desa. Sebenarnya tak ada yang mengumpulkan mereka tetapi demikianlah di desa kabar amat cepat menyebar. Mulanya seorang warga yang mampir di pinggir pagar dan melongok kesibukan orang-orang yang baru dilihat di sana, lalu datang warga lainnya ikut mampir. Datang pula yang lain hingga seperti semut. Percakapan saling tanya atas apa yang tak mereka tahu menjadi makin samar, kian banyak warga yang hadir tambah ramai dialog. Ibarat tautan di percakapan komunitas semacam WhatsApp makin banyak yang komentar makin tenggelamlah percakapan awal yang mulanya pertanyaan ringkas.

Ada yang menduga ini mengenai dana alokasi desa, atau program pemerintah mengenai cara mengentaskan orang-orang miskin di desa. Sungguh kabar tentang Pemilu tak lagi mengapung di sini, pemungutan suara sudah lama berlalu. Tetapi mengapa orang-orang baru itu yang datang bermobil sambil menenteng kamera dan mulai memasang kaki tiga di beberapa sudut sambil mengitarkan kamera besar.

“Mereka wartawan dari kota!” Bisik warga setelah keluar dari pintu balai desa.

Warga melongo saja keheranan. Mereka melihat beragam warna-warni baju seragam yang familiar di televisi. Jumlah reporter tivi lebih dari lima jemari. Warga melihat mereka mulai berbicara menghadap kamera sambil sesekali memegangi daun telinga, terdengar berbicara dengan orang lain sambil memastikan suaranya sampai.

“Bukan mengenai dasa desa…” seloroh warga yang mendekat ke para wartawan lapangan yang tiba-tiba merubung seperti lebah ke desanya.

“TKI?”

“Bukan juga…”

Warga menunggu kepala desa yang belum kelihatan di kantornya. Staf kantor desa yang sejak tadi disuruh mencari sudah datang, motornya di parkir di bawah pohon sawo samping kantor. Hingga siang sang kepala desa belum juga kelihatan, ada yang bilang dia tak langsung ke kantornya. Setelah dicari di rumahnya rupanya tak ada pula di sana.

“Pak desa langsung ke kecamatan.” Jawab staf kantor desa kepada wartawan. Langit amat biru siang itu, udara terasa kering sementara musim penghujan yang dinanti tak lagi dapat diprediksi. Sepertinya anomali cuaca juga merambah desa yang mulai kehilangan banyak petak hutannya.

***

Dari televisi yang dipajang di aula kantor desa tahulah warga bahwa kedatangan pewarta itu sebab seorang warga. Rupanya salah satu diantara mereka selama ini bekerja di luar kampung, sebagai tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Mereka saling menduga inisial warga yang dari dusub mana, keluarganya siapa, atau sejak kapan perginya.

Sebab itu kepala desa hingga petang tak muncul di kantor desa. Dia ikut rapat bersama jajaran petinggi kecamatan. Walau tak begitu mengerti masalah yang amat teknis apalagi mengenai spekulasi kabar warganya, dia diminta untuk tak gembar-gembor di kampung sebelum rapat level kecamatan menerima perintah dari kabupaten, yang juga harus menunggu petunjuk dari provinsi. Hal ini pastilah akan berjarak lama sebab keputusan rapat hari itu pun sangat tergantung arahan lebih lanjut dari atasan di atas gubernur.

Pembicaraan dalam rapat seperti mengapung ke segala penjuru. Pelan-pelan beberapa orang mulai menutupi wajah dengan tangannya, dengan map, bahkan dengan sapu tangan dekil. Kabar seperti ini amat cepat mengirim ketakutan. Kecepatan informasi yang belum tentu valid seketika memeras rasa ingin tahu.

Sang kepala desa melirik pada ajudan pribadinya.

“Gimana menurut kamu?” Tanyanya hampir berbisik.

“Siap menunggu perintah saja Puang,” rupanya lelaki yang mendampinginya juga tak kuasa melampaui arah berpikir tuannya. Padahal baru saja ia membaca breakingnews mengenai kabar warga di desanya yang bekerja di luar negeri suspect virus berbahaya: corona.

Topik itulah yang mengemuka dalam rapat tingkat kecamatan. Warga desa itu sedang dalam karantina di suatu tempat. Pembicaraan pun makin hati-hati sebab setiap orang mulai irit bicara. Lama kelamaan akhirnya diputuskan bahwa hanya pimpinan di kabupaten yang boleh berbicara atas nama mereka. Tiada salam-salaman antar peserta rapat saat usai pertemuan.

Kepala Puskesmas yang hadir jelas tak berani mengambil keputusan apapun. Kepala dinas dari kabupaten yang datang memakai masker kehijauan pun sama. Hanya sesekali ia membuka tutup wajahnya ketika memberi pendapat setelah itu dipakainya lagi. Ini jelas bukan urusan ibu-ibu bersalin atau layanan kesehatan kelas posyandu tetapi pandemi lintas batas negara.

Kepala desa tak mampu memikirkan hal lebih besar, desa kecil yang dipimpinnya yang selama ini hanya mengurusi urusan tanam dan panen warganya dan beberapa urusan program dana desa, seketika menjadi pembicaraan hingga ke ibukota. Ia lantas membayangkan secarik surat keterangan yang pernah diberikan pada warga yang hendak mengadu nasib ke luar negeri beberapa tahun lalu.

***

Beberapa hari setelah warga yang bekerja di luar negeri itu dimakamkan di tepi hutan desa, keriangan dusun yang biasanya riuh lambat-laun sepi. Penduduk kini dilarang meninggalkan desa, orang-orang yang hendak berkunjung pun tak mendapat izin memasuki desa. Tiada sepeda motor, mobil pickup, atau truk yang lewat di jalan-jalan desa. Ini seperti desa mati. Sementara padi menguning sebentar lagi memasuki musim panen.

Sang kepala desa duduk di tepi jendela kacanya. Pintu rumahnya beberapa hari ini lebih banyak ditutup. Badannya agak demam, dengan sesekali batuk. Matanya mulai berair. Masker di wajahnya menyisakan pandangannya yang nanar. Baru kali ini petinggi kampung itu tak dijenguk beramai-ramai karena sakit. Bukan sebab dilarang tapi warganya dirambati horor dari media sosial yang dapat mengirim kekhawatiran secepat kilat dari berbagai tautan kabar.

Sudah sekian jam ia berdiam diri di kamar. Di dalam rumahnya ia seperti pasien yang menepi. Pandemi mengunci bibirnya.

Dangau di atas bukit itu beberapa hari telah sepi. Hanya orang-orang sawah yang ramai mengusir kicau burung. Jalanan kampung lengang, pematang yang selama ini menjadi jalur peladang ditumbuhi rumput meninggi.

Kepala desa telah dibawa pergi. Menyusul suhu tubuhnya beringsang.

Sabtu, 14 Maret 2020

Makassar-Mamuju, IW1300

error: Content is protected !!