Cerpen: Kindo

Cerpen: Kindo

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Langit-langit kamar itu seolah sebuah ruang persegi empat yang terus berbicara padanya. Tingginya kira-kira tiga atau empat meter, bukan dibuat dari ramuan tripleks atau bilah kayu yang dipernis tukang kampung sebelah. Tetapi lembar terpal berwarna biru yang direntang sambil dikerat potongan bambu agar lebih kuat dan rapih. Warna itu seperti langit berawan sebab beberapa jaring laba-laba menggantung di beberapa sisi kamar. Batas untuk menahan hawa panas dari seng itu berumur lapuk.

Komposisi tak beraturan di langit-langit berwarna biru dari terpal itu merupa payung yang menaungi segala perjalanan hidupnya. Ia kini terbaring di sana, sudah beberapa pekan. Pinggulnya yang menua membuatnya terasa sering lepuh. Telah ribuan hari yang dilewatinya dari masa ke masa yang amat panjang hingga ia berhenti, berbaring di sana, di atas kasur tebal dari ramuan kapuk hasil kebunnya.

Kindo, atau ibu. Sebutan dalam keluarga yang mengakrabinya sejak ia memiliki sejumlah anak yang kini menyebar di berbagai kampung. Tak hanya anak kandungnya yang memanggilnya Kindo, tetapi juga bagi seluruh keponakannya, cucunya bahkan, termasuk para tetangga yang menjulur di kampungnya. Ia ibu bagi banyak orang. Di kampung ini, sepertinya hanya ia yang tertinggal sebagai warga paling dituakan. Selain umurnya yang sepuh, juga sebab dia termasuk warga yang mula-mula menetap di sana.

Setiap kali ia melihat langit-langit berwarna biru dari terpal yang mulai usang itu, ingatannya seolah berdatangan secara berganti-ganti. Segala apa yang pernah dilakoninya, semua yang pernah digapainya dalam pergulatan panjang sebagai anak perempuan, yang kemudian berdiri sebagai istri dari suaminya, Kama, yang telah mendahuluinya. Segala kenangannya itu seperti kolase yang berserak di dinding pameran museum pada bingkai waktu yang saling berbicara tentang apa, dan bagaimana hidup ini telah memuai sebagai etafe yang panjang. Itu amat ritmis.

Ia kini berbaring di sana. Di bawah langit-langit biru dari terpal usang itu. Amat berat untuk menggerakkan punggungnya. Dadanya pun serasa sering sesak. Ia menyadari bahwa itu merupakan penyakit yang menyertai usia rentanya. Pada siapa saja yang datang menengoknya, senyumnya selalu mengembang. Ia berusaha mengabarkan kondisinya yang tak lagi mampu berdiri tegak. Setiap yang orang yang menemuinya akan disambutnya dengan masing-masing ingatan yang masih kuat.

Seolah-olah setiap orang itu memiliki ruang yang telah dipartisi dalam benaknya, hingga mampu bercerita bersambungan begitu saja. ia tak lagi mampu duduk apalagi berdiri, tetapi ingatannya masih cukup kuat.
Ia berbaring di atas kasur agak tebal yang menopang tubuhnya. Di samping dipannya terdapat meja kecil setinggi batas duduk tempat tidur itu. Dua bantal disusun untuk mengganjal bahunya. Sebuah jendela berkusen kayu tepat di atas sampira dipan, itu seperti cerobong udara persegi yang membantunya menghirup udara segar dari kebun belakang. Sepanjang hari sejak dipapah ke dalam kamar ini, di sanalah Kindo saban hari menjalin udara yang keluar masuk dari kusen itu dan pintu kamar yang jarang ditutup. Orang yang sedang berbaring sakit memang memerlukan udara yang cukup.

*

Kindo. Selain memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan, juga memiliki anak yang sepersusuan dengan sejumlah anaknya. Tradisi ini telah ada dalam keluarga, dan itu tidak melanggar syariat agama. Itulah yang disampaikannya ke beberapa ponakannya yang datang sejak beberapa hari ini. Apakah itu semacam isyarat lain yang disampaikan. Yang sepersusuan tentu tak boleh saling menikahi, sebab dianggap sebagai saudara.

“Kamu sepersusuan dengan Puji, sementara kakakmu sepersusuan Darwis…” katanya menerangkan alur nasab yang bertindihan lajur sepersepupuan sebelumnya. Orang-orang yang berada di kamar itu saling mengangguk.
Ingatannya memang masih kuat, sepanjang kenangannya yang memang amat terentang jauh. Puluhan tahun sebelum berbaring di dalam kamar berlangit-langit terpal warna biru itu, Kindo sesungguhnya datang dari jauh. Kurun masa yang panjang itu seringkali dikisahkannya saat sanak keluarga berkumpul.

Ketika terjadi perang gerilya antara tentara dan pejuang tersisa di tahun 1960-an, keluarganya tidak beranjak dari sebuah pegunungan yang merupakan banua, atau kampung besar. Kecuali setelah terjadi gegar gempa bumi yang akhir tahun 1960-an itu. Ia terpaksa ikut iring-iringan penduduk yang berjalan kaki puluhan kilometer untuk menjauh dari episentrum linor.

Belasan tahun di belakang Kindo tak langsung bermukim di sini. Melainkan memilih berhuma sambil sesekali mengunjungi keluarganya di kota kecamatan.

Oya, orang-orang ramai mengunjunginya sejak lama. Atau bahkan datang menjemputnya. Kindo memiliki kemampuan lain sebagaimana tetua yang bersarung kekuatan batin, dia dikenal sebagai sando atau dukun. Namun tidak menjadikan ini sebagai sumber pendapatan atau pekerjaan. Kindo hanya melayani karibnya yang sedang memasuki fase kehamilan atau usai bersalin. Kindo akan terus datang memandikan dan merawat bayi yang kadang terdengar tergelak di tangannya. Kindo pandai mengurut atau memijat bocah yang tulang-tulangnya masih lentur.
Ia kini sedang terbaring sambil menatap langit-langit. Di ruang yang hanya mampu menampung beberapa orang dewasa itu, serasa ruang yang begitu lapang baginya. Ia sangat bersyukur dapat menyaksikan anak-anaknya dapat sampai ke pelaminan, juga melihat beberapa cucunya telah menikah dengan berbagai keluarga yang jauh. Itu merupakan kebahagian yang yang kerap diimpikan orangtua. Semua itu seperti gurat lampau yang sering mengundang senyumnya.

Di dalam kamar berlantai semen berdinding batu-bata dengan langit-langit terpal biru itu, Kindo terus mendaras ingatannya yang lain. Mengenai hari-hari yang demikian panjang. Ia merupakan Kindo bagi anak-anaknya, juga puaq atau tante bagi ponakannya. Sudut matanya kerap basah, sebab Kindo menjadi orang paling tua di garis keluarga. Saudaranya yang berjumlah lima orang telah pergi bertahun-tahun silam. Ia kerap merasa ditinggalkan.
Orang-orang yang telah berpulang itu selalu serasa amat dekat dalam tatapannya yang kadang tak dapat dimaknai. Pandangan semacam itu seperti percakapan maya yang hanya mampu berarti dalam deret kalimat-kalimat berisi ungkapan penuh rahasia.

Di saat-saat seperti itu. Tidak ada hijab yang dapat dilangkahi siapapun. Percakapan batin yang berlangsung dingin hanyalah miliknya sendiri. Kindo masih terbaring di sana, dan selalu tersenyum pada siapapun yang menyambanginya. Kamar itu memang tak dapat menampung banyak orang, sebagaimana perjalanan terakhir yang akan berangkat sendiri. Ia lebih banyak memandangi langit-langit itu. Entah kabar apa yang hendak diceritakan.
Seorang ponakannya yang datang dari jauh, sambil memegang tangannya yang mulai keriput, berusaha mengentalkan ingatannya pada ribuan kebaikan Kindo selama ini. Ia tentu tersenyum dan berharap kembali dijenguk. Hari itu ia menuang air matanya.

“Bergerak saja Kindo, bila tak mampu lagi berdiri. Setiap kali mendengar adzan dari masjid…”
Ia mengangguk dalam percakapan, mereka bertiga dengan putri sulungnya. Hari itu rembang petang hampir tiba.

The Ritz-Carlton, 31 Maret 2021

Note: Cerpen ini terbit di halaman Rubrik Budaya Harian Fajar Makassar edisi Minggu, 4 April 2021

error: Content is protected !!