Contagion, dan Masker Itu…

Contagion, dan Masker Itu…

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Sejak akhir Februari lalu orang-orang mulai peduli bermasker. Pandemi Covid-19 yang merasuk ke tanah air di sekitar Februari makin terasa saat memasuki Maret 2020. Dalam perjalanan ke Ibukota awal Maret itu, saya melihat jumlah orang bermasker di pesawat jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. Walau belum terbiasa, tapi di rangsel saya sudah menyiapkan masker cadangan. Saat itu covid sangat membelah banyak orang.

Pekan pertama Maret saya kembali meninggalkan Jakarta. Semalam sebelumnya Gubernur Anies berpidato mengenai pandemi ini di televisi. Saat yang sama siaran tv berjaringan menayangkan film “Contagion” mengenai pandemi yang merundung Amerika Serikat. Saya agak ngeri juga menonton film itu.

Dalam perjalanan saya membayangkan fenomena film Contagion yang diperankan oleh Matt Damon, Kate Winslet, Laurence Fishburn, Marion Cotillard, Gwyneth Paltrow dan Jude Law. Apa yang terjadi di film itu hampir sama dengan keadaan sekarang, yakni virus MEV-1 yang mengontaminasi jutaan orang di dunia. Saya belum pernah menghabiskan seluruh durasi film ini.

Setelah semester berlalu, wabah ini belum juga melandai. Kemarin saya membaca running teks sejuta orang telah meninggal dunia akibat Covid-19. Kapankah ini akan berakhir? Tidak ada satu pun orang, pakar, negara atau institusi di dunia yang mampu menjelaskan secara rinci. Saya menyimak ahli wabah Universitas Indonesia yang menyebut, di masa pencarian obat atau vaksin Covid-19, obat penangkal paling mujarab untuk saat ini, yakni memakai masker. Tentu selain jaga jarak dan sering mencuci tangan sampai bersih.

Masker dan Gaya Hidup

Apa yang dirasakan setelah tujuh bulan lebih selalu bermasker ke mana-mana? Awalnya menjadi ketidakbiasaan yang lalu biasa dalam sekian bulan ini. Cobalah hitung atau bandingkan berapa banyak orang memakai masker atau tidak memakai masker yang anda temui hari ini. Komparasikan pada situasi awal Maret atau April lalu.

Masker tampaknya akan menjadi bagian utama hingga vaksin Covid ini ditemukan, atau bisa saja akan terus sebagai gaya hidup. Beberapa orang menyebut manfaat memakai masker sekian lama, misalnya disebutkan potensi pilek makin jarang dirasakan. Walaupun awalnya percakapan akan terasa canggung satu sama lain.

Cara kita memakai masker saat ini sesungguhnya upaya untuk saling menjaga satu sama lain. Kebiasaan ini sebenarnya telah ada dalam sejarah yang panjang. Misalnya seorang dokter Prancis Charles de Lorme yang menemukan masker berbentuk paruh, atau pada saat Black Death di abad-16 merebak di Eropa yang mendorong penggunaan masker wajah. Hingga era modern yang desain masker mengalami terobosan baik pada fungsi maupun gaya.

Memakai masker atau menutupi mulut dan hidung pun telah ditemukan di pintu makam Persia sekitar abad ke-6 SM, gambar itu dianggap sebagai sejarah awal masker. Menurut Global Times yang dinukil kompas.com masker diduga muncul pada masa Dinasti Yuan (1279-1368). Masker di China sesuai informasi Marcopolo berupa kerudung yang ditenun dengan sutra dan benang emas. Pelayan Kaisar ketika itu harus memakai masker untuk menjaga napas agar tidak mempengaruhi bau dan rasa makanan.

Udara yang kita hirup dalam masa new normal sungguh tak dapat kita analisis dengan baik. Baik ancaman virus maupun udara yang berpolusi sama-sama memiliki potensi berbahaya. Itu sebabnya memakai masker pilihan utama saat kurva pandemi ini masih menanjak.

Seorang ahli kesehatan yang menjadi konsultan film Contagion, Laurie Garret mengatakan meski film itu fiksi, plot filmnya bisa dijadikan peringatan tentang wabah di masa depan. Sayangnya sebagian manusia tidak siap menghadapi Covid-19. Menurut Garret yang dikutip dari republika.co.id, keangkuhanlah yang membimbing manusia untuk tidak percaya.

Film ini mengambarkan kelelawar menjatuhkan sepotong buah, yang dimakan babi. Hewan ini kemudian disembelih untuk dikonsumsi sehingga menularkan virus ke manusia. Para ilmuwan menduga bahwa virus corona telah menyebar hampir ke seluruh dunia berasal dari kelelawar yang dikenal memiliki indeks virus tinggi dalam air liurnya.

Namun bagi kelelawar virus itu sama sekali tidak membahayakan baginya, justeru virus tersebut berfungsi sebagai mekaniske pertahanan untuk menangkal predator. Namun sebagian orang bertanya-tanya bagaimana bisa film itu ceritanya sangat mirip dengan situasi saat ini, sementara Contagion dirilis tahun 2011 silam?

Awal Maret lalu sebelum film ini usai, saya bergegas ingin tidur, namun hingga larut tak juga dapat pulas. Subuh-subuh saya telah di bandara melihat orang bermasker, dan abai. Entah sampai saat ini…

Senin, 12 Oktober 2020

Gambar : read.id

error: Content is protected !!