Jurnal Warga

Catatan

Corona, dan Cara Kita Menuai Hikmah

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Ketika berada di bandara Tampa Padang Mamuju, Ahad (1/3) kemarin, jumlah orang yang memakai masker terbilang sedikit. Penulis sehari sebelumnya telah menyiapkan penutup wajah itu.

Demikian pula saat menjejak dan meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat yang saya tumpangi GA643 ke Jakarta relatif masih sedikit yang bermasker. Para pramugari juga demikian tak ada yang memakai tutup muka.

Sampai hari ini (3/3) di Jakarta, lalu-lalang orang di hotel yang penulis tinggali hanya satu-dua orang yang memakai masker. Staf hotel yang hilir mudik tak henti tiada satu pun yang memakai penutup wajah. Namun di beberapa titik hotel menyiapkan cuci tangan kering berupa handwash manual maupun otomatis.

Wabah corona yang mulai diberitakan resmi sejak kemarin oleh Orang Nomor Satu negeri ini, sekali lagi belum mencerminkan kepanikan yang sama di media sosial. Entah di luar Borobudur ini, di mana sebagian tamunya berkebangsaan luar yang tak satu pun saya lihat memakai masker. Staf car call taksi yang berada di selasar hotel pun tidak.

Tetapi beberapa status di Facebook menulis harga masker yang mulai langka di Mamuju bahkan menembus harga fantastis.

Detik.com melaporkan suasana Pasar Pramuka, Jakarta Timur yang diserbu warga yang hendak membeli masker. Saat ini harga satu boks masker wajah merk Sensi jenis 3 Ply, di sini mencapai Rp 400 ribu.

Pantauan detikcom, Selasa (3/3/2020), pembeli beramai-ramai memadati setiap toko obat dan alat kesehatan. Dua barang yang paling dicari adalah masker dan disinfektan.

Lain lagi di Kompas.com harga masker di platform e-commerce seketika melonjak berkali-kali lipat. Di laman CNN Indonesia Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menuturkan terjadi lonjakan pengunjung toko ritel sekitar 10 persen-15 persen pada siang ini usai pengumuman pemerintah tentang corona di Indonesia.

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan kenaikan pengunjung terjadi di sejumlah toko ritel yang berada di Depok dan Jakarta Selatan.

Jumlah infeksi kasus virus corona terus mengalami lonjakan dari hari ke hari. Kendati jumlah pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona juga terus mengalami peningkatan.

Dilansir Kompas dari SCMP, hingga Selasa (3/3/2020) pagi, total kasus infeksi telah tercatat di seluruh dunia adalah sebanyak 90.872 kasus. Dari ribuan kasus tersebut, 48.002 orang dinyatakan sembuh dari virus corona. Sementara korban jiwa akibat virus corona mencapai 3.117.

Otoritas China mengatakan bahwa virus yang menyebar dengan cepat ini, pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir Desember 2019. Kuat dugaan virus corona ini disebarkan oleh sup kelelawar yang menjadi makanan populer di Wuhan. (detik.com, 29/1/2020) dalam suaraislam.id.

Sebuah makalah yang diterbitkan buletin Sains Cina, para ilmuwan percaya, sup kelelawar ini diduga bisa menjadi perantara penyebaran virus corona. Media Daily Star menulis sup kelelawar mungkin bisa disalahkan oleh orang-orang terkait penyebaran virus corona (tempo.com). 

Lalu apa hikmah dari kepanikan ini?

Berkaitan dengan makanan, timeindonesia melansir makanan halal adalah makanan baik nabati maupun hewani yang boleh dikonsumsi dan tanpa sebab tertentu untuk terlarang. Pakar-pakar tafsir ketika menjelaskan dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa ia berarti makanan yang tidak kotor dan segi zatnya atau rusak (kedaluwarsa), atau dicampur benda najis.

Dikutip dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadith-hadith Nabi’ oleh Nabil Thawil, jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan mengisolasi atau mengarantina penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk. Itulah langkah yang kini dilakukan pemerintah kita.

Peristiwa ini telah memicu kepanikan dunia. Tetapi selalu ada iktibar atau pelajaran yang hendak disampaikan.
Seperti kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof. Dr. H. Zainal Abidin, yang meyakini adanya hikmah dibalik mewabahnya virus corona atau Novel Coronavirus (2019-nCoV) nukil penulis dari alkhairaat.id.

Semoga ini masih keadaan dalam batas ujian. Kata Prof. Zainal, azab itu erat kaitannya dengan cara Tuhan menghukum hamba-Nya. Sementara bencana merupakan keinginan Tuhan untuk menguji keimanan seorang hamba.

Jadi kita mulai dari cara amat sederhana, cucilah tangan sebelum memamah makanan. Lalu bacalah bismillah. Sebab semuanya berkat atas nama Allah.

Jakarta, 3 Maret 2020

Ilustrasi : Sains-Kompas

Corona, dan Cara Kita Menuai Hikmah

The Latest

To Top
error: Content is protected !!