DELAY

admin
Advertisements

Oleh : Adi Arwan Alimin
Ini sudah hampir dua jam. Tapi tidak selalu berarti hal buruk. Sebab artikel tiga halaman word usai diketik dengan seruput minuman dingin. Saya juga menulis status untuk menandai buku pertama putri kedua.

Ibarat perjalanan menuju hari akhir. Delay sebuah jeda tempat kita menaut renungan. Sampai siang jelang sore ini kita telah melakukan apa. Adakah hal baik bagi orang lain yang kita tunaikan hari ini. Atau justru perihal amat abstrak yang menumpuk seperti sampah.

Delay itu tunda. Meski belum saya temukan artinya secara pas dalam kamus atau tesaurus. Siang ini saya bertemu puluhan kenalan di bandara. Ada yang datang juga pergi. Seperti itulah bingkai dari tiket yang mesti koneksi pada tiga kota tujuan berbeda hari ini, sebutlah itu perjalanan.

Saya memegang GA661 kursi 26C. Sementara petugasnya sibuk menyimak layar. Sirene yang biasa seperti letup kedatangan masih hening. Hanya lalu lalang dan wajah saling runduk. Mungkin akan seperti itu akhir perjalanan kelak. Ketika semua orang sibuk pada dirinya sendiri. Menghitung kepergian dan membilangnya sampai ditimbang.

*
Saya segera mencari kursi 32 bus Litha. Inilah kursi terakhir bus malam menuju Makassar. Terminal Simbuang telah penuh derum mobil beroda enam begitu Triadi yang mengantar saya dari parkiran Tampa Padang mematikan mesin Rush-nya. Saya cukup telat sebab ada proses refund tiket penerbangan Garuda yang cancel flight sambil berjejal dengan puluhan penumpang yang bergerutu tapi tak anarkis.

Saya melihat staf Garuda Tampa Padang cukup sabar. Walau ada penumpang yang harus menggebrak meja. Singkatnya, layanan karena gagal terbang itu diladeni sepenuh hati. Meski ada buncah dongkol yang lampias begitu pimpinan mereka mengambil pidato singkat bahwa penerbangan batal. Aturan landing-take off bandara Tampa Padang pun hanya terbatas pada jam 17.00. Sementara jam sudah lewat 16 sore.

Saya tidak ingat kapan terakhir naik bus dari Mamuju ke Makassar atau sebaliknya. Yang jelas saya pernah naik motor ke Makassar start Mamuju dengan motor WIN bersama Dhimas Wahab. Atau naik Jimmy bersama bang Aliwardi Sail. Pun makin sering sebagai driver. Tapi naik bus di saat lalu yang selalu menggempalkan rasa mual bahkan sebelum meninggalkan rumah sudah luruh. Tiada serangan mabuk.

Alhamdulillah saya tiba di Makassar bakda Subuh. Bila dalam perjalanan semalam saya bersisian dengan seorang kawan yang sedang merintis bisnis ayam potongnya, pagi tadi saya ngobrol panjang dengan anak muda yang beberapa tahun lalu bekerja sebagai cleaning servis. Namun kini dia fokus di bidang teknologi. Sedang siang barusan, saya berbincang dengan seorang pemuka masyarakat Palopo yang memiliki banyak sahabat Mandar. Ia mengenal Prof. Ahmad Sewang, Prof. Rahman Halim juga Prof. Danial Jalaluddin. Beliau tak bicara tentang dunia. Tapi mengulas pesan-pesan akhirat. Ia menunggu saya di Palopo.

Bahkan… di setiap perjalanan hidup ini. Kita akan selalu bertemu siapa saja. Sambil menyelami hakikat hidup. Tentang nilai bertabur cinta, rindu, terima kasih, dan juga cara menghargai kemanusian. Tak ada kata seandainya pun mengenai istilah kebetulan. Semua ini mengenai takdir.

LITHA – ID 619

Ilustrasi : BBC.com

Next Post

Catatan dari Taman Mahasiswa Todilaling Yogyakarta

BILA kau merasa tak memiliki cukup umur untuk melakukan semua hal, bicaralah pada anak muda. Terima kasih atas diskusi sampai jelang dini hari. Dialektika tak boleh berhenti. Diskusi itu selalu mengayakan sebagaimana kritik yang kita anggap sebagai penggerak. Lakukanlah beberapa perihal, tetapi itu selalu memerlukan keseimbangan yang kita sebut teori […]

Subscribe US Now