Dirgahayu Buatmu Sulawesi Barat

Dirgahayu Buatmu Sulawesi Barat
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

20 September 2004 siang, telepon kantor Harian Radar Mandar (kini Radar Sulbar), di Pekkabata Polewali berdering. Intinya, Pemkab Polewali meminta salah seorang wartawan dikirim bersama rombongan pemerintah daerah ke Jakarta, untuk meliput rapat pleno pengesahan Provinsi Sulawesi Barat di DPR RI. Naskah M. Nabhan Pemred kami di Radar, memberitahu saya untuk menyiapkan diri dan membuat rencana peliputan. Ini jelas sebuah kehormatan bagi seorang reporter.

Esok harinya, Mustari Mula staf Pemkab Polman pun kembali menegaskan. Seingat penulis ia datang ke kantor redaksi. Mustari menyebut ada tiga wartawan yang akan difasilitasi pemkab untuk agenda sangat monumental itu. “Dinda Adi dari Radar, Rusman Tony dari Radio Sawerigading, dan Alfiansyah Anwar dari Fajar,” sebutnya saat kami berbincang di redaksi yang masih berstatus rumah kontrakan. Rusman saat itu juga merupakan kontributor harian Pedoman Rakyat Makassar.

Singkat cerita, mendaratlah kami di Jakarta usai terbang dengan Mandala Airline yang rasanya cukup berguncang di udara. Di Jakarta, kami fokus pada perencanaan liputan di Senayan, meski berbeda media tapi kami kompak dalam mendiskusikan apa yang dapat menjadi angle terbaik. Maklum selain ini merupakan liputan amat prestisius bagi kelas wartawan lokal, sarana dan fasilitas pun semenjana. Tapi prinsipnya, momen ketuk palu inilah yang menetukan, bukan pada seabrek alat yang belum kami miliki.

Gegap gempita pun tiada terkira ketika pimpinan sidang pleno hari itu, mengetuk palu. Ratusan warga Mandar yang memenuhi Ruang Sidang Nusantara IV itu menggemakan takbir, dan suka cita seperti menjalar kemana-mana. Kamera kami serasa tak mampu menampung semua momentum ini. Sebab tak hanya meliput dengan duduk melantai di ruang sidang, kami pun ikut berlonjak. Wajah sumringah bahkan berair mata jelas memenuhi raut semua orang.

Rusman Tony dengan alat seadanya menyiarkan semua itu langsung ke studio Sawerigading di Jalan Brawijaya Wonomulyo. Saat itu belum ada media dalam jaringan seperti saat ini. Kecepatan siaran radio pun jelas akan melambung setiap kata yang harus diketik pada keyboard. Rekan saya ini, memiliki keterampilan tinggi untuk urusan feature radio. Badan Dunia PBB pernah mengganjarnya dengan sertifikat juara, dan fotonya pernah menjadi cover buku modul peliputan radio yang dikeluarkan Unesco.

Kemeriahan di Senayan Jakarta, hari itu langsung diketahui publik di Sulawesi Barat, jangkauan radio Sawerigading dengan frekuensi AM ini mampu menembus Mambi, pesisir Majene hingga ke utara, ke Pinrang bahkan Kalimantan Timur. Jazirah Mandar seperti merdeka. Program siaran reguler hari itu diganti live dari Jakarta.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa alat komunikasi yang digunakan Rusman Tony untuk menjangkau studio radio Sawerigading yakni telepon genggam milik Tashan Burhanuddin, yang menjabat sebagai Sekda Kabupaten Majene. Tashan yang kemudian hari menjadi Sekprov Sulbar memiliki peran penting dalam upaya penyiaran kabar “proklamasi” itu.

“Pak Tashan yang meminjamkan HP miliknya untuk digunakan sepuasnya,” kenang Rusman Tony yang hari ini masih eksis sebagai praktisi senior bidang penyiaran di Sulawesi Barat.

Euforia membuncah di dada setiap orang yang selama ini menanti Sulbar dengan megap-megap. Bantuan lainnya selama kami meliput di Jakarta diberikan Haji Sabir Nawir, seorang pengusaha dari Balanipa Mandar yang berkiprah di Kalimantan Timur. Ia bahkan berusaha memindahkan kami dari Sahid Jakarta ke hotel lainnya. “Saya ingin berdiskusi dengan anak muda seperti kalian,” kata Sabir Nawir 15 tahun silam, saat kami duduk semeja. Alumni UMI Makassar ini ditautkan Syahrir Hamdani begitu kami tiba di Jakarta.

Kini Sulawesi Barat telah berusia 15 tahun. Secara harfiah ini usia bagi kelompok remaja yang akan beranjak ke dewasa muda, meminjam istilah dalam Gerakan Pramuka. 15 tahun bukanlah usia gampangan, ini telah melewati tiga orang mantan pejabat Gubernur, dan Anwar Adnan Saleh gubernur dua periode, lalu hari ini Gubernur Ali Baal Masdar yang sedang memangku amanah. Telah ada beberapa sekretaris provinsi dan puluhan kadis berlalu.

Bukan lagi saatnya menyebut bahwa Sulbar ini masih muda, sebab ada provinsi lain yang lebih anyar. Penulis tidak akan menulis apapun mengenai apa yang mesti dilakukan. Di kompleks gubernuran itu sudah berjejer cerdik pandai. Ini hanyalah resume pendek untuk hari jadi tahun 2019. Dirgahayu buatmu Sulbar, malaqbiq-lah hari-harimu, seperti pesan Panglima Husni Djamaluddin.

Yang pasti, dalam perjuangan pembentukan provinsi ini, banyak air mata yang pernah menuang. Banyak doa-doa yang dikirim dari kedalaman malam. Banyak orang-orang yang memiliki andil menurut perannya masing-masing. Banyak harapan yang meraung dari kisah pilu sepanjang hari-hari paling menentukan. Berterimakasihlah pada mereka. Taweq.

Aston Jakarta, 22 September 2019

Sumber Foto : Buku Jejak Dua Lelaki

Share this post

Post Comment