Gowes, Kita Mesti Terus Mengayuh

Gowes, Kita Mesti Terus Mengayuh

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Gowes. Aktivitas paling gandrung sejak fase new normal dimulai. Orang-orang wara-wiri bersepeda, semoga saja ini bukan hanya tren adu merek atau seteru harga roda angin. Tahun 1990-an warga juga sempat booming bersepeda, itu era sepeda Mustang atau Kennex. Hampir setiap pagi atau sore jalanan menjadi ramai.

Atau tren sepeda fixie beberapa tahun lalu, orang berlomba-lomba membuat sepeda gir tunggal. Sepeda begini dahulu penulis kenal sebagai ‘dotrak’, hanya dapat dikayuh ke depan tanpa rem tangan.

Tapi masa itu tak berlangsung lama, kecuali yang memang bersepeda sejak awal pada setiap aktivitasnya, sepeda yang tren itu pun kembali parkir hingga berjelaga. Suasana kembali normal, tiada lagi gerombol orang yang memacu pedal kemana-mana.  

Namun animo gowes di tengah Covid-19 saat ini melonjak. Harga sepeda pun menjulang hingga tukang sepeda di Mamuju harus menambah karyawan karena tak mampu melayani konsumen. Bahkan produsen sepeda paling mahal sekalipun keheranan dengan minat warga Indonesia pada sepeda. Lebih jauh di Jerman, Stephanie Krone, ahli lalu lintas di asosiasi sepeda setempat ADFC, mengatakan warga Jerman menghabiskan dua kali lebih banyak waktu bersepeda. Toko sepeda saat ini pun melihat ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagaimana dikutip Tempo dari Bloomberg.[1]

Tren bersepeda menunjukkan peminatnya muncul berlipat-lipat di jalanan. Bila sebelum masa pandemi kita hanya dapat bertemu beberapa orang saja yang bersepeda, atau hanya segelintir komunitas, kini jumlahnya bertambah banyak. Kebiasaan ini memang memiliki dampak positif, setelah warga sekian lama terkungkung di rumah karena aturan #WFH, di sisi lain aktivitas yang semoga terus bertahan pasca pandemic untuk mengurangi polusi udara.

Walau di sini, di Kota Mamuju misalnya, belum ada jalur khusus bagi pesepeda, itu tidak menjadi masalah. Sebab warga yang naik motor atau mobil masih dapat berbagi lajur, kecuali anda misalnya melintas di ruas arteri yang cukup panjang itu, di sisi kanan dan kirinya terdapat ruang yang cukup bagi pesepeda. Lagi pula aktivitas komunitas masih lebih banyak memacu pedal di trek sepi atau tidak umum. Itu yang kerap dilakoni Komunitas Passapedana Mamuju, tempat penulis gowes bareng.

Bersepeda menjadi salah satu solusi di tengah pandemi. Di beberapa kota dibelahan dunia pemerintah kotanya membuka jalur khusus sepeda untuk memualiakan pesepeda yang meningkat hingga ratusan persen. Sebutlah di salah satu jalur sepeda tersibuk di Philadelphia yang mengalami peningkatan lalu lintas sebesar 470 persen.[2]

Atau, misalnya di Wuhan kota yang menjadi asal mula virus covid ini. Dari 23 Januari hingga 12 Maret, Meituan Bikeshare, yang sebelumnya dikenal sebagai Mobike, melayani 2,3 juta perjalanan di Wuhan. Angka yang mereka kumpulkan sendiri ini lebih dari setengah perjalanan yang tidak dilakukan dengan berjalan kaki selama berlangsungnya epidemi. Total 286.000 orang menggunakan layanan tersebut, dengan jarak bersepeda lebih dari dua juta mil, sama dengan 81 putaran ekuator.[3]    

Di Jakarta tren bersepeda seperti yang sering diliput media mengalami peningkatan ratusan persen. Penulis menukil Jakarta sebab kota ini paling tidak telah memiliki jalur sepeda yang terus dikembangkan. “Dari survei Oktober 2019 kita bandingkan dengan Juni ini pada masa PSBB transisi, ada memang di segmen Dukuh Atas dari Selatan ke Utara (Bundaran Senayan menuju Bundaran HI) pada jam sibuk pagi, jam kerja peningkatannya lebih dari 1.000 persen, dari 21 pesepeda menjadi 235 pesepeda,” kata Faela Sufa Direktur The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP). [4]

Bersepeda akan meningkatkan konektivitas warga, udara yang bersih juga kesehatan masyarakat. Ini telah menjadi fenomena yang tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk bersenang-senang, transportasi, kesehatan hingga sebagai petualangan. Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan bersepeda dinilai lebih aman dan dapat meningkatkan imun terhadap tubuh pada masa pandemi.[5] Alasan yang tentu memacu semangat warga bersepeda.

Hari ini pekan kesekian dalam hitungan bulan kedelapan, ketika semua orang harus bersiaga melawan rundung pandemi Covid-19. Namun sejak kehidupan baru yang kerap disebut New Normal dimulai, orang-orang seperti keluar dari kepompong setelah sekian lama bergelut kepenatan. Ibarat kecambah yang menyembul sebagai tunas. Lalu bersepeda seolah menjadi metamorposis semua kalangan. Inilah pilihan agar komunikasi sosial tetap berjalan. Tren yang tentu akan kita lihat seberapa lama bertahan di jalanan.

Selama ini permintaan sepeda memuncak hanya pada musim lebaran atau masuk sekolah, namun di selama pandemic volumenya meningkat khususnya pada Juni-Juli 2020, menurut William Gozali, Direktur Polygon.[6] Namun pabrikan menduga itu tidak akan bertahan sampai akhir tahun.

Bagi pesepeda, tetaplah gowes, dan jaga jarak. Jangan jenuh mengayuh sebab ini bagian dari eksistensi, dan kita harus tetap bergerak. Sampai ketemu di jalanan, apapun sepedamu.

Rumah Menulis, 14 Oktober 2020.

 

[1] https://otomotif.tempo.co/read/1361580/pesepeda-indonesia-naik-1000-persen-negara-ini-alami-lonjakan

[2] https://wri-indonesia.org/id/blog/bersepeda-bisa-membantu-kehidupan-di-tengah-pandemi

[3] idem

[4] https://www.cnnindonesia.com/nasional/itdp-jumlah-pengguna-sepeda-di-jakarta-meningkat-saat-psbb

[5] https://otomotif.tempo.co/read/1361580/pesepeda-indonesia-naik-1000-persen-negara-ini-alami-lonjakan

[6] https://ekonomi.bisnis.com/read/20200802/257/1273891/polygon-ramal-tren-kenaikan-permintaan-sepeda-tidak-akan-bertahan-lama

error: Content is protected !!