Hamid, Petani dari Musim Covid-19

Home » Hamid, Petani dari Musim Covid-19
Hamid, Petani dari Musim Covid-19
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Sabtu antara pagi menuju siang, tetangga saya pak Hamid, sering juga memanggilnya ustadz Hamid mengajak bergabung ke kebunnya. Letaknya hanya 20 meteran dari ruas Jalan Musa Karim, Mamuju, namun harus dicapai sambil menanjak.

Ia bahkan membuat tangga dari batang pohon barru untuk menumpukan kaki sambil memegang tali nilon agar dapat menjejak kemiringan lahan yang tidur cukup lama itu.

Tak lama kemudian kami telah berdiri di tengah kebun bawang merah jenis super yang menghijau. Tak sampai sepertiga hektar luasnya, namun batang bawang merah yang sebagian telah menguning pucuknya itu sebentar lagi bakal dipanen. Pak Hamid sumringah menjelaskan bahwa bawang yang telah berumur 50 hari itu sisa sepekan sudah dapat dipanen. Saya merasa suprise karena tidak tahu bahwa ia sibuk menanam komoditas ini, tahunya lahan itu hanya luasan yang berisi pakan kambingnya.

Beberapa pekan sebelumnya ia memang sibuk membuat sambungan pipa untuk mengalirkan air ke kebun ini. Tapi hari itu ia belum mengatakan akan menanam bawang, kecuali semacam bak penampungan yang saya timpali bagus untuk kolam ikan. Lalu hari ini, saya berdiri di atas bukit di belakang MAN Mamuju yang selorong ruangnya mengarah ke pantai Manakarra. Di sini ribuan siung bawang sedang matang-matangnya.

Sambil berkeliling menyirami bawang pak Hamid menjelaskan bahwa ia juga menanam kacang panjang dan kacang tanah bersama warga lainnya, ia menunjukkan rimbun kebun kacang itu yang berada di sisi bukit. Sayangnya kacang tanahnya sering diserbu hama saat malam hari. Saya menawarkan agar diberi lampu di sejumlah sudut untuk mengusir hewan liar.

Sosok ini telah belasan tahun bersisian rumah dengan kami. Dikenal sangat ulet, dan mengatakan bahwa selama pandemi ini ia terus berusaha bekerja. Menanam bawang merah yang dianggap tak mungkin tumbuh subur oleh warga lainnya ini dianggapnya sebagai praktek lapangan mandiri. Usahanya berhasil, bonggol bawangnya terlihat besar memerah menyembul dari tanah yang digemburkan.

Covid tak hanya menebar ketakutan, tetapi juga menawarkan ide kreatif di mana setiap orang dapat memulai sesuatu yang awalnya dianggap tak mungkin dilakukan. Dari lahan tak sampai sehektar ini, Sabtu siang saya melihat lajur-lajur ketekunan, ikhtiar yang menyeruak dari tanah subur, dan nilai kerja keras menawarkan kesuksesan.

Hamid lelaki asal Nusa Tenggara ini diantara figur yang memberi kita ibra mengenai pendemi yang justru menawarkan penantian musim bersemi. Ia menjadi petani dari masa pagebluk yang tak dapat dipastikan akan berhenti pada saat kapan. Saya jadi tak sabar melihatnya renyah saat menimbang hasil kebunnya.

Mamuju, 26 Desember 2020

error: Content is protected !!