Hasan Sulur dan Kampung Jawa (Sebuah Obituari)

Hasan Sulur dan Kampung Jawa (Sebuah Obituari)

Advertisements

Oleh : Adi Arwan Alimin

Saya terakhir teleponan dengan beliau saat menuntaskan riset buku “Kampung Djawa di Tanah Mandar.” Seperti biasa ia selalu bersemangat, kalau tidak menyebutnya berapi-api. Apa saja dapat didiskusikan bersama tokoh ini. Rahimahullah Hasan Sulur memiliki tipikal berbeda. Ia pribadi yang khas.

Sejak kanak-kanak saya mengenal beliau. Saat beliau Camat di Wonomulyo era tahun 1980-an, penulis merupakan anak SMP yang sering bermain di sekitar lapangan Gaswon pun Pendopo kecamatan. Hingga saya bersekolah di perguruan menengah yang didirikan Hasan Sulur paruh tahun 1980. Saat beliau tahu saya alumni YPPP, beliau menepuk pundak saya seraya tersenyum.

Di kemudian hari ia bercerita kepada saya mengapa mendirikan sekolah menengah atas yang berlokasi di kelokan Jalan Gatot Soebroto – Jalan Kesadaran itu. Letak sekolah ini persis di tengah persawahan amat luas, antara tepi trans Sulawesi hingga Kebun Dalam dekat Bumiayu. Medio tahun 1990-an kita masih dapat memutar pandangan hingga melihat alam yang amat luas dari halaman sekolah. Sebab itu tak ada siswa YPPP yang berani membolos karena pasti terlihat di persawahan. Kini hamparan itu telah menjadi belantara beton.

Dalam buku Kampung Djawa di Tanah Mandar, saya menulis bahwa atas inisiatif besar Hasan Sulur, bencana banjir bandang akhir tahun 1980, yang pernah meluluhlantakkan Wonomulyo dan sekitarnya, pemerintah dapat menangani masalah bendungan yang bobol tak kurang dari sepekan. Setiap hari ia mengerahkan minimal 200 orang dari berbagai desa untuk bergotong-royong. Maklum sarana modern masih amat minim kala itu.

Di Wonomulyo pun pernah ada istilah “Rumah Arisan”, yang setiap pascapanen warga Bumiayu membangun rumah secara bergilir. Program ini menarik minat Presiden RI, Soeharto yang mengirim utusan khusus bertemu Hasan Sulur. Di tahun itu Hasan Sulur didaulat sebagai salah satu Camat terbaik di daratan Sulsel.

“Seorang pemimpin harus berwawasan luas dan jauh ke depan. Kita mesti terus mengembangkan pikiran,” kutipan ini tidak persis sama, namun setiap orang yang pernah bersinggungan dengan sosok Hasan Sulur akan menyebutnya sebagai seorang retorik. Yang gagasan selalu terasa dinamis.

Hingga mantan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh harus menyulurkan rasa hormatnya. “Dari dulu beliau memang cerdas,” ujar Anwar ketika penulis mengonfirmasi kedekatan mereka sebagai alumnus sekolah pemerintahan di Makassar. “Beliau ini memang lebih pintar, tapi saya yang jadi gubernur,” seloroh Gubernur suatu hari dalam acara Dewan Pendidikan Sulbar yang diketuai Hasan Sulur. Keduanya pun tak mampu menahan tawa.

Hasan Sulur pernah menjabat sebagai Sekda Polewali Mamasa, Wakil Bupati Mamuju, dan Ketua DPRD Polewali Mamasa bahkan memimpin partai politik level provinsi. Di komite aksi perjuangan pembentukan Kabupaten Balanipa pun almarhum memberi konstribusi pemikiran. Menapaki jejak beliau sebagai tokoh dari Mandar, pantaslah bila putri beliau Dr. Agusnia Hasan Sulur menyebutnya sebagai Ayahanda yang visioner.

Tinggalan paling monumental tentu saja perguruan YPPP yang dahulu dibangun dari pinjaman kelas di SMPN Kuningan, lalu ke SDN Sidorejo hingga menetap di lokasi yang sekarang. Kami dahulu sering disebut siswa SMA “Tegal”, akronim dari Tengah Galung.

Penulis merupakan angkatan terakhir yang secara sukarela sering membawa sabut kelapa atau mengumpulkan jerami usai panen di sekitar sekolah untuk menimbun halaman berawa-rawa. Di sana, saat ini telah menjulang perguruan tinggi dalam kompleks pendidikan yang maju.

“Saya sedih bila melihat anak-anak dari Wonomulyo yang selalu ketinggalan tiba di Polewali bersekolah. Demikian juga kalau mereka pulang sekolah, jadi mesti ada yang berpikir tentang itu, bayangkan ratusan anak-anak sekolah terhambat pendidikannya,” kenang Hasan Sulur kepada penulis tentang gagasan awal YPPP Wonomulyo. Meski pun saat itu telah berdiri SMA swasta lainnya di Kampung Jawa.

Lelaki itu telah berpulang hari ini di Polewali. Suatu hari ia mengadu ke redaksi Harian Radar Mandar (kini Radar Sulbar), “Siapa itu wartawan, pandai sekali berdebat. Kita masih mau bicara langsung ditanya lagi, hebat itu. Bisa besar nanti anak itu…,” katanya via telepon dari ruang kerja di gedung DPRD Polmas. Wartawan yang dimaksud adalah Rusman Paraqbueq yang kini bekerja di Tempo, Jakarta.

Figur Hasan Sulur memang sosok yang disenangi media. Selain bersikap terbuka, pribadinya seolah gudang kata-kata yang sering melahirkan istilah populer, atau hal baru untuk ditulis. Tak pernah ia menyudahi dialog melainkan akan terus menggagasnya. Visinya seperti terus mengalir.

Selamat jalan telah mendahului kami di sini. Kami mengiringmu dalam doa-doa kebaikan. Semoga husnul khatimah. Aamiin…

Padang Bulan, 4 Agustus 2020

error: Content is protected !!