HIKAYAT LAMA GEMPA 1969

Home » HIKAYAT LAMA GEMPA 1969
HIKAYAT LAMA GEMPA 1969
Advertisements
Oleh: Adi Arwan Alimin
 
Saya sering bertemu penyintas gempa 1969. Dalam ingatan yang terbatas, lindu yang mengguncang akhir-akhir ini, mengingatkan mereka kembali.
 
Beberapa hari lalu di Pettabeang, Malunda, Majene di bawah tenda pengungsian, paman saya M. Yunus (75), mengisahkannya. Ia memang lahir di sini, di Pettabeang, salah satu titik terparah dengan gambaran kehancuran rumah-rumah warga pasca gempa 15 Januari lalu.
 
Menurutnya, guncangan gempa 1969 berlangsung dalam sepekan pada skala naik-turun. Itu berlangsung setiap hari setidaknya sepekan terus-menerus. Tiap hari warga diliputi ketakutan.
 
Kisah di atas bersesuaian dengan cerita Jasiah, penjual gogos depan Pasar Baru Mamuju. Jasiah saat itu setingkat kelas IV SD di Galung, Kota Majene. Ia menyebut kejadian itu berlangsung pada hari Ahad. Bukan pada hari sekolah yang menghindarkan anak-anak seusianya selamat dari runtuhan gedung.
Subuh tadi, Mama saya juga menceritakan kisah yang sejurus bahwa gempa 1969 itu menuang horor setiap hari. Gempa selama sepekan dalam skala tak menentu. Saat itu beliau di Wonomulyo, bersama kakak Anugrah Wati
yang masih dalam ayunan. Usianya baru tiga bulanan.
 
Sementara ayah saya sedang berada di Makassar. Gempa 1969 yang datang pagi hari sekitar jam 08.00 itu berlangsung sepekan sebelum Hari Raya Qurban.
 
Wonomulyo saat itu mengalami kerusakan yang parah. Diantaranya STM Wonomulyo, juga Toko Binanga yang berada di muara Jalan Raden Soeparman. Termasuk Masjid Raya Merdeka. Istri Puang Limboro pun dikabarkan luka-luka.
 
Peristiwa ini menyebabkan eksodus besar-besaran dari Tinambung, Pambusuang menuju Polewali. Sebagian besar dari mereka berjalan kaki menuju Wonomulyo hingga Polewali dalam kondisi mengenaskan, hanya membawa apa saja yang mereka mampu panggul.
 
Cerita lain menyebut, bila gempa yang datang hampir setiap jam kala itu, memaksa warga berjalan sambil merangkak. Di mana-mana terdapat banyak tanah yang terbelah.
Rumah kami di Sidodadi yang dibuat dari ramuan kayu berdiri cukup kokoh. Rumah-rumah beratap genteng sangat banyak yang rebah.
 
Ini merupakan hikayat lama dari gempa 1969. Berselang 50 tahun silam. Jazirah ini telah lama berdiang di atas cincin api. Membuat kita mesti selalu siaga dan tanggap.
 
*PadangBulanMamuju
error: Content is protected !!