Hikayat Tanjung Mampie

Hikayat Tanjung Mampie

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Ombak Selat Makassar terus mengirim buih ke Teluk Mandar. Di bulan akhir tahun begini, laut seolah sering mengamuk dan mengabarkan badai. Ini pemandangan yang bergantian datang setiap musim menyapa. Laut, pasir, angin, garis pantai, seperti berlomba meraja bumi dalam keseimbangan. Lautkah yang makin ke darat, pantaikah yang tambun, atau anginkah yang kehilangan selarik tumpuan. Pertanyaan itu seperti kesiur kemalangan di kepala warga.

Pada musim Desember-Januari, pencari ikan tak betah berlama-lama melaut sampai jauh, walau matahari masih di pundak, mereka seolah diberitahu untuk segera menurunkan layar. Atau, secepatnga mengayuh bose ke daratan. Bergulung-gulung awan di tepi cakrawala selalu menjadi penanda hujan bakal segera dihamparkan di bentang laut dalam itu. Nyiur pun sering melambaikan isyarat bila angin barat bertiup lebih berat.

Di darat. Lelaki itu masih saja berdiri sambil bersedekap, memicingkan matanya ke barat. Tak lagi satu atau dua, pohon kelapa yang tumbang, namun telah belasan yang ambruk direbut lautan. Abrasi memamah tepian daratan Mampie, tempat lelaki itu menopang kakinya di atas pasir kecoklatan. Ia saban hari melihat setiap inci kampung halamannya itu poranda digerus ombak.

Seperti luka yang terus melebar di permukaan tanah, menyisakan kepedihan aroma laut. Pantai-pantai yang menyusut dalam di sana, juga sedang merundung habitat lain, seperti penyu yang datang-pergi menyimpan telur hingga tetas.

“Ayah, ombak ini seperti mengajak bermain. Main dorong-dorong terus…” celoteh anak gadis yang masih bocah suatu siang. Sang ayah memandangnya penuh gurat tak terlukis. Ada nanar memendar.

error: Content is protected !!