Jarod, Kawasan DPRD Tingkat III Manado

admin
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

KOTA-kota di negeri ini selalu ditandai komunitasnya. Ini pula yang saya temukan di Manado, Sulawesi Utara. Sabtu, 14 September, bersama komisioner KPU Sulteng Sahran Raden, saya menyambangi spot kuliner di Jalan Roda. Usai penutupan Konregnas Partisipasi Masyarakat semalam, KPU Sulut mengundang coffee morning di sini.

Pagi-pagi saat di resto Manado Quality, saya menikmati buah, beberapa staf KPU kabupaten menyarankan agar tak perlu sarapan. Sebab ada undangan ke Jalan Roda. Dan, benar saja kawasan sepanjang hampir 100-an meter telah ramai. Jejer meja telah memanjang, keramahan pagi tumpah ruah, ruap aròma berbagai makanan mengular. Motor rota empat telah berjajar di seputar Jalan Roda atau Jarod. Beberapa petugas parkir mengatur setiap kendaraan yang sandar.

Kami duduk di antara INO coffee, Halal Food Kubikal, dan rumah makan Warna-Warni. Husniati, pemilik Kubikal yang bersuami lelaki Bugis langsung menyapa kami. Ia menunjukkan keramahan. “Silakan duduk pak,” kata Husniati, meja-meja di depan kiosnya memang telah dipesan KPU Sulut.

Lalampa yang serupa lemper, Lampu-Lampu yang seiris Tetuq di Sulawesi Barat langsung dihidang. Ada pula kue bubenka, kue lapis, dan beberapa lainnya. Saya memilih nasi kuning, di Warna-Warni disediakan pula bubur Manado. Kawasan Jarod mulai sibuk sejak bakda subuh, aktivitas ini akan ditutup bakda Isya atau dapat pula hingga jam 22.00.

Di setiap kota berbeda, kebiasaan umum antara lain mencari kopi. Di Jarod juga disajikan kopi hitam dan kopsus, dari kopi khas Kotamubagu. “Kopi ini dari Kotamubagu,” tutur Ramlan Saelani anggota KPU Sulut.

Jarod disebut sebagai kawasan “DPRD Tingkat III” Manado, istilah yang populer di Manado. Bagaimana tidak, sepanjang jalan ini semua orang datang dari kalangan manapun. Mulai dari pedagang kaki lima, aktivis sosial politik, aparat, atau siapapun. Bahkan Presiden RI Jokowi Widodo disebutkan juga menyambangi Jarod, Maret 2019 lalu.

Kota yang menarik dikunjungi selalu lahir dari kreatifitas warganya. Spot ini dibantu pemerintah kota Manado yang memasilitasi atap. Jalan yang semula terbuka pun ditutup. Jadilah kios-kios makan dan minum yang menyerupai dapur sendiri. Meja kursi di tata di jalanan aspal. Orang yang hilir-mudik di sini menjadi pemandangan lain.

Dalam catatan okezone.com, Kota Manado dahulu dikenal sebagai wenang. Ternyata sejak jaman dulu kawasan Jarod telah ada. Bahkan sebelum perang dunia I dan II, tempat ini menjadi titik kumpul dari warga masyarakat Minahasa, baik dari Tomohon, Tonsea, Tanawangko, dan Wori yang datang ke Wenang menjual hasil bumi.

Mengapa disebut Jalan Roda? Karena masyarakat Minahasa yang dahulu datang berjualan menggunakan alat transportasi roda pedati, atau gerobak yang ditarik oleh sapi atau kuda. Di sejumlah ruas Manado, khususnya di Minahasa penulis masih menemukan banyak pedati yang ditarik sapi.

Interaksi kota Manado mengental di kawasan ini. Warga lokal Wenang yang multikultural, terdiri dari orang Minahasa, Sanger, Gorontalo, Tionghoa, Arab, penganut Islam, Kristen, Budha, Konghucu. Bahasa atau dialek Manado yang khas itu diyakini tercipta dari pembauran etnis, suku dan ras berbagai asal.

Sabtu pagi, Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan, dan Viryan Asis, KPU Provinsi Sulbar, Sulteng, Sultra, Jateng dan Maluku juga peserta lain berkumpul dan sarapan di sini. Kemeriahan yang menyudahi agenda Konsolidasi Nasional Divisi Partisipasi Masyarakat KPU RI, seakan dipindahkan dari Mall Mantos yang sebangun dengan Four Points Manado ke Jarod. Area ini memiliki daya tarik yang sanggup menghilangkan jarak antarsiapapun yang bertandang.

Bila anda ke Manado, jangan hanya berpikir mengenai Bunaken. Sebab kawasan Jarod juga memiliki daya tarik tersendiri. Di “kantor” DPRD Jalan Roda Manado. (*)

Jarod-Quality, 14 September 2019

Next Post

Sharing di Parigi, dan Baalas Itu...

Oleh Adi Arwan Alimin Selasa, 10 September pagi, saya bersama Yusuf, staf KPU Provinsi start dari Mamuju. Sekitar jam 07.00, kami meluncur dari halaman parkir kantor di Jalan Soekarno-Hatta. Putri saya Dzakirah ikut mengantar hingga turun di sekolahnya, ia memang ikut dari rumah, sejatinya dialah yang diantar ke sekolah hari […]

Subscribe US Now