Jurnal Warga

Latest

Jembatan Bolong Itu…

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

“Yud, kita pulang sebentar!”

Ujarku pada Wahyudi Muslimin, layouter periode awal Harian Radar Sulbar di Mamuju. Ia menoleh dari layar komputer di ruang redaksi yang masih kontrakan di Jalan Jenderal Sudirman. Rumah itu milik Haji Nurdin.

Ia sebenarnya sedang memelototi pengiriman berkas halaman via FTP jalur internal Fajar Grup yang langsung ke percetakan koran di Makassar. Proses inilah yang menjadi fragmen berulang setiap hari ini setelah semua halaman surat kabar di layout.

Awak redaksi yang sedang menikmati makan dengan menu paling enak dapat bubar begitu saja, bila telepon dari Makassar mengatakan file-file halaman itu harus dikirim ulang. Tingkat stres layouter, redaktur hingga pemred saban hari diuji di sini.

Tapi itu dulu. Sebelum masa email yang lebih lancar hari ini.

Hari itu Wahyudi sebenarnya tak memiliki rencana ke Polewali atau Tinambung meski hari Sabtu besoknya dia dapat rileks menanti hari kerja Ahad.

Mencari tempat bersantai di kota Mamuju tahun 2005 hanyalah seputaran Jalan Yos Sudarso yang dijejeri 30-an warung tenda, atau berkunjung ke Pulau Karampuang. Pada siang hari sejumlah cafe sebenarnya ada yang terbuka. Tapi pantai Manakarra-lah yang favorit.

Lewat jam 21.00 kami pun berkemas. WIN 100 telah standby di depan kantor. Jalanan hening. Kita dapat menghitung dalam puluhan menit jumlah kendaraan roda dua yang melintas.

Kota Mamuju dalam kurun setahun Sulawesi Barat belum segegap hari ini. Kadang kami bahkan duduk di tepi aspal sambil bercengkrama. Bila iseng kendaraan yang lewat malah dapat dihitung.

Lalu kami pun berangkat. Di sepanjang jalan malam itu sejak dari depan kantor redaksi, rasa-rasanya tak ada satu pun motor atau kendaraan lain yang melintasi atau menjajari. Lengang seterusnya hingga kami meliuk di puluhan tikungan berkabut.

Namun… WIN andalan ini tiba-tiba off ketika menurun ke area jembatan Bolong. Sekeliling otomatis gelap gulita, saya malah tak merasakan ada seseorang di belakang. Pokoknya sepi pakai banget. Adegan horor seketika membayang.

“Ditimbando (apakah kamu di situ)?” dalam kegelapan ceruk tebing yang dilandasi jembatan beton itu penulis memanggil Wahyudi, boncengan yang rasanya tak lagi duduk di belakang. Suasana meruap dingin seperti kangkung air yang menjalari tengkuk. Sungguh dramatik.

Penulis lupa berapa lama kami mendiamkan motor sebelum kembali menghidupkannya, namun jam seperti berjalan begitu lamban. Jadinya seperti lanskap lukisan pemandangan pada malam hari. Kilas cahaya amatlah minim. Sangat gelap. Sampai sejauh itu kami sepertinya tidak pernah bertemu pengendara lainnya.

Bunyi segala macam yang dapat didengar bagai ngengat. Tebing di sekitar area ini seperti raksasa yang berdiri menjulang.

Kami akhirnya dapat menghidupkan motor WIN 100. Dan kembali memacu kecepatan jalur Tappalang, Malunda, Tubo, Onang, Tammeroddo, Somba, Pamboang hingga Kota Majene. Kami mampir sejenak di depan pertokoan, memikirkan rute malam yang tak biasa ini. Arloji telah pukul 02.00 dini hari.

Sepanjang jalur trans barat Sulawesi paruh 2005 itu, jalanan seperti kosong pada malam hari. Kecuali pelintas jarak dekat. Bus malam dari terminal Simbuang memang telah berangkat sejak awal. Kami mungkin yang memang telat berangkat hingga seolah berkendara sendirian di jalanan.

Tapi itu dulu.

Kini suasana perjalanan pada malam hari makin ramai. Bahkan jelang subuh sekali pun. Pelintas tak lagi melewati jembatan Bolong tapi jembatan yang kini berwarna lain.

Pasangkayu, 28 Februari 2020

Sumber Foto : Yudi B.

Jembatan Bolong Itu…

The Latest

To Top
error: Content is protected !!