Jurnalistik, dan Eksistensi Generasi Internet

Jurnalistik, dan Eksistensi Generasi Internet
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Rabu malam, saya bertemu 17 peserta Pengkaderan Taruna Melati II di aula serba guna Masjid Fastabiqul Khairat, Mamuju. Ada dua peserta laki-laki, 15 lainnya perempuan muda.

Mereka datang dari seluruh kabupaten di Sulawesi Barat. Penulis diundang melalui Agung Hidayat Mansur, sejak Rabu sore ia mengontak agar dapat hadir pada Kamis pagi. Namun saya meminta momen Jumat pagi saja. Rabu malam kemudian kami sepakati.

Penulis mengantar materi Jurnalistik Dasar. Bagi pemula atau anak-anak muda yang tertarik pada dunia jurnalistik, bahan dasar ini memiliki peran penting sebelum mereka melangkah ke jenjang lebih serius dalam iklim dan atmosfir media.

Kami berdialog atau membincang materi jurnalistik hingga dua kali 45 menit. Sebelumnya saya meminta via moderator, Silvi agar peserta menyimak materi pengantar via kanal YouTube DengAdi Podcast, saluran yang penulis ampu.

Cara ini saya anggap efektif untuk melumaskan wawasan mereka agar lebih cepat dalam pengembangan materi. Juga merupakan sinyal penting bahwa peserta yang 17 orang ini, juga beberapa panitianya yang serius menyimak materi semalam, melekati benaknya; bentuk media saat ini telah berubah amat cepat.

Penulis tentu menyampaikan mengenai definisi, sejarah ringkas jurnalistik, karakter wartawan, bentuk-bentuk berita, dan teknik mengembangkan bahan tulisan. Durasi sejam lebih tentu saja bukan tips simsalambim, lalu semalam mereka akan langsung pandai.

Generasi Z, atau Alpha pun istilah lain mungkin akan dapat belajar lebih cepat tinimbang angkatan penulis yang sebagian otodidak. Tetapi jurnalistik sebagaimana profesi lain memerlukan keuletan, kesabaran berproses, dan minat belajat terus-menerus. Jurnalistik memang seolah terlihat mudah, sayangnya tidak seperti itu.
*
YouTube, yang paling banyak diakses warga bumi saat ini merupakan etalase penting dari perkembangan media terkini. Bila sepuluh tahun lalu orang berkiblat penuh pada tayangan televisi yang dikelola tim redaksi yang memiliki standar tinggi, atau surat kabar yang terbit setiap pagi, kini anak-anak muda, atau generasi milenial disuguhi hal amat praktis: media sosial. Mereka lebih banyak ada di sana.

Dari 17 peserta Taruna Melati II ini, semuanya masih menggunakan Facebook, mereka juga memiliki akun IG, juga WhatsApp. Hanya seorang yang memiliki akun Twitter. Kabar lainnya, mereka makin jarang mengakses media lain selain yang berbasis internet. Apa maknanya?

Millennial generation atau generasi Y yang akrab disebut generation me atau echo boomers, atau generasi Alpha, secara harfiah tidak memiliki demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Dalam sudut pandang jurnalistik, kelompok umur itu jelas akan mengubah lanskap media di masa datang.

Bagi pengelola media, dan itu tentu telah dipikirkan mereka, pembaca di masa datang akan memiliki kecenderungan atau minat sangat berbeda. Permisalan 10 tahun terakhir telah membuktikan itu, apalagi dalam dunia teknologi yang kian kencang.

Penulis telah melewati dekade amat penting dari newsroom 10 tahun lalu. Di depan peserta yang menyimak materi Jurnalistik Dasar semalam, saya menerangkan bahwa masa depan media baru akan menjadi milik mereka. Internet yang menjadi basis media sosial mengubahnya sedemikian rupa.

Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat (kominfo.go.id).

Tasiu, 15 Juli 2021

error: Content is protected !!