Kapan Kita Seharusnya Bertemu

Kapan Kita Seharusnya Bertemu
Advertisements

Cerpen: Adi Arwan Alimin

Kota ini sepertinya terlalu bising. Ruang berpendingin berdinding kaca pun tak mampu meredam gemuruh jalanan yang berisi kendaraan lalu lalang, warung kopi ini berada di simpangan kota sehingga selalu ramai pengunjung. Orang-orang yang datang pun tak kalah hebohnya. Kepul asap tembakau yang berasal dari partisi bebas mengepul, menambahi keruwetan bangunan persegi panjang yang memiliki ornamen klasik.

Di sejumlah meja terdengar gelak tawa, dan di meja-meja lain yang mengambil sudut untuk sekedar menjauh dari celoteh atau sapaan basa-basi, tak sanggup menahan gempur rendezvous antarmeja. Minum kopi sambil menikmati kadar pahitnya tanpa gangguan itu cocoknya memang hanya di rumah. Namun mengapa orang-orang masih saja gemar duduk selama tegukan gelas belum tandas.

Di ruang seperti ini, itu sepertinya mustahil. Orang-orang seperti hanya mampir, dan memang begitulah keadaannya. Datang, minum, ketemuan, berjanji, lalu berpisah lagi. Besok mereka datang lagi minum kopi, yang seringkali pada meja yang sama. Itu siklus yang sepertinya belum dijelaskan secara utuh dalam film filosofi mengenai kopi yang populer itu. Tak heran setiap dinding café selalu melahirkan baris kalimat berbeda paling tidak jauh dari ungkapan kopi paste.

Dan, kopi yang dihidang pelayan tadi masih sekitar lima menitan saat derit pintu kaca berornamen oneway itu terbuka. Ada yang peduli siapa yang datang, namun sebagian memilih tak menoleh. Di sudut ruang, pada meja yang hanya memiliki dua buah kursi kayu setinggi perut, duduk seorang lelaki yang sejak tadi mengamati seluruh isi ruangan itu. Matanya selalu mengarah ke pintu seperti menanti seseorang yang akan datang mendorongnya.

“Aku sudah di jalan…” itu disertai bunyi getar di meja segi empat berwarna hitam.

Orang yang sedang dinantinya baru saja mengirim pesan. Seperti hari-hari sebelum hari itu, pesan-pesan demikian terasa familiar. Itu merupakan percakapan yang melewati tirisan janji yang serasa begitu legit. Betapa susahnya menaut perjamuan untuk bertemu pemilik pesan itu. Keduanya memang berada pada dunia yang berbeda. Bersilangan jadwal yang amat menyulitkan.

“Di mana?”

Singkat, padat. Itu pesan yang terbaca beberapa jam sebelumnya. Hingga kedatangan lelaki itu ke tempat ini tak memastikan apakah seseorang yang dinantinya akan benar-benar hadir. Namun inilah sudut paling sering mempertemukan mereka. Maka lelaki itu tetap saja datang sambil berjalan kaki, setelah memarkir kendaraannya puluhan meter dari cafe ini. Tempat ini berada di tengah kota, diapit beberapa gedung meninggi. Kesibukan pekerja yang berada di kawasan ini menjadikan sajian menunya selalu mengganti rutinitas yang sibuk, dan setelah itu mereka seolah-olah segar untuk kembali di belakang meja lagi.

Di luar siang disapu mendung. Musim pancaroba sedang menggantung di langit kota.

Dan sudut itu, komposisi yang paling mereka sukai berdua untuk bertemu. Pemilik warung dan pelayannya serasa menghapal keduanya sebab amat sering dan selalu memilih bagian itu. Duduk di sana sekian jam. Mengapa mereka senang bertemu di sana, mungkin posisi yang sangat nyaman sebab menjauh dari keramaian pengunjung. Mereka juga dapat memantau atau melihat keramaian di luar yang sesekali menjadi jeda perbincangan. Lelaki itu tidak mengingat siapa yang paling suka posisi ini.

“Hei…”

Perempuan itu tiba-tiba berdiri di sana. Lepas dari pandangan lelaki yang sejak tadi menanti pintu kedai itu akan didorong pengunjung yang ditunggunya. Datang bersama senyumnya yang mengembang. Tetapi terasa pias. Selarik syal yang melingkari lehernya membuatnya tampak manis. Ia seperti tergopoh-gopoh, dan segera mendaratkan duduknya di seberang meja. Kursi itu selalu disiapkan untuknya.

“Kamu seperti amat lelah.”

“Nggak juga, hanya sibuk saja mengurusi pekerjaan lapangan.” Balasnya sambil merapikan bawaannya. Telepon pintarnya ia masukkan ke dalam tas. Itu kesepakatan tak tertulis diantara kedua manusia ini. Tidak ada sentuhan atau perhatian pada layar telepon genggam bila mereka telah duduk sama rendah seperti itu. Alat komunikasi sepertinya justru dapat membangun kerenggangan komunikasi antar komunikan bila justeru saling menatap layar sementara kawan bicaranya yang lain berbicara.

Lelaki itu menyusuri setiap lekuk wajah orang yang ditunggunya sejak beberapa jam. Ia melihat air mukanya meninggalkan sedikit cembung, bawah mata perempuan itu mengabarkan kelelahan.

“Aku kuatir saja, kamu tiba-tiba drop bila bekerja keras seperti itu.”

“Aku hanya perlu bersabar saja…” perempuan itu menekuk wajahnya. Ia sedang membersihkan garis hitam kelopak matanya yang basah. Ia seperti menangis.

Lalu perjamuan siang itu seolah beku sesaat. Cukup lama lelaki itu tak lagi berbicara. Kecuali hanya terus berusaha berada dalam edar pandangan pada perempuan di depannya. Ia melihat kegetiran meruang di wajah hidung mancung itu. Sesekali mereka bersitatap. Perempuan itu tak mampu menyembunyikan beratnya beban yang sampai memancar pada pandangan matanya yang meredup. Bola matanya yang bagai binar pagi itu dilengkungi embun hingga buram.

“Sampai kapan?”

“Sampai aku nggak kuat lagi…”

Pertemuan itu lalu menyembul pada sisi lain. Beberapa blok dari café itu mereka sedang menghabiskan perjamuan yang tak dapat disudahi hanya menyeruput segelas kopi. Kota ini memang bising.

*

“Kapan kita seharusnya bertemu lagi…” pesan itu menyembul beberapa pekan setelah perempuan muda itu cukup lama hilang dari jaringan seluler. Ia seringkali seperti itu mengapung begitu saja. Menghilang lalu timbul dalam percakapan sediakala tentang hari-harinya yang getir. Setelah itu akan berlalu dalam sepi.

Lelaki itu membacanya seperti kemurangan. Seolah ia dapat meraba setiap kata yang dituliskan dari jauh.

Perempuan itu seperti hadir dari kepulangan yang jauh. Lalu datang menghamburkan rindunya sebab merasa laksa perjumpaannya beterbangan tertunda sekian hitungan purnama.

“Kita seharusnya bertemu setiap saat.” Balasnya melewati beberapa menit yang membuat lelaki itu seperti berdiang di depan tungku sambil memanaskan diri.

“Maaf telah membuatmu kembali menyulam ingatanmu.” Sebutnya suatu hari.

Setelah itu pertemuan seperti kerinduan pucuk-pucuk daun dalam pelukan angin. Reranting basah menampung embun yang tiris pada telaga di matanya. Ia ingin memeluk setiap hari yang hilang selama ini. Tak ingin melepasnya dalam balut yang burai bagai kenangan.

RumahPenyuMampie, 11 April 2021

Ilustrasi foto: JawaPos.com

error: Content is protected !!