Kapan Pagebluk Covid Ini Usai?

Home » Kapan Pagebluk Covid Ini Usai?
Kapan Pagebluk Covid Ini Usai?
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Orang-orang sering mengatakan, selama Covid-19 tak ada lagi yang bikin status di Facebook: lagi demam nih; berasa agak flu gaess; atau kok batuknya nggak kompromi. Ungkapan itu menghilang walau setiap saat Mark pemilik Fb itu bertanya, “Apa yang Anda Pikirkan?”

Facebook yang mengubah wajah persahabatan, pertemanan, rasa percaya diri, eksistensi orang per orang rupanya dapat menihilkan semua suasana. Itu sebab Covid-19. Ini telah berlangsung hampir 10 bulan terakhir. Bila kita melewati tahun 2020, masa pandemi itu genaplah setahun bila merujuknya ke Wuhan, China.

Tahun 2021 yang tersisa beberapa pekan lagi akan menghamparkan keadaan lebih genting dari sebelumnya. Walaupun kita mulai merasa plong sebab vaksinasi massal untuk menangkal virus mematikan itu terus diurus pemerintah. Targetnya tahun depan secara bertahap vaksinasi akan dimulai.

Sejumlah tragedi kemanusian yang terjadi sepanjang tahun 2020 pun mengangah, puncaknya pada pandemi Covid-19. Tak ada siapapun yang mampu meramalkan secara tepat gelombang ini akan melandai pada saat kapan. Hal yang paling mudah dilakukan hanyalah terus menjaga imunitas, baik secara personal maupun komunal.

Menukil detikhealth ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono, memperkirakan puncak kasus virus Corona di Indonesia baru mencapai puncak pertengahan 2021. Tingkat penularan Corona diprediksi mulai melandai akhir 2021 hingga awal 2022. Menurutnya, proyeksi tersebut sangat mungkin terjadi jika penanganan Corona masih lambat. Tapi kita melihat dalam beberapa pekan terakhir pemerintah amat serius mengenai vaksinasi Covid, itu gambaran yang mampu mengurai debar jantung kita sekian lama.

Fakta lainnya, dalam beberapa hari terakhir jumlah warga yang reaktif covid merangkak pada angka yang mengkhawatirkan. Lalu kapan pandemi ini akan berakhir? Pertanyaan yang ditanggapi Pandu Riono, bahwa sesungguhnya gelombang pertama Covid ini belumlah usai. Namun sepertinya ancaman gelombang keduanya mulai menyerbu, itu nada yang kita dengar dari banyak sumber hari-hari ini. Silang pendapat ahli membuat kita menjadi melek pada pagebluk mematikan itu. Sebagian yang lain percaya tak percaya.

Bagi kita, yang awam, pertarungan negara pada pandemi covid-19 harus kita sahuti dengan terus menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker dan menghindari kerumunan. Inilah vaksin amat mujarab sebelum suntik massal itu dimulai. Dari komunitas terkecil yang sadar dan peduli covid-lah yang akan sanggup menjadi benteng pertahanan terbaik. Namun kesangsian itu rekah bila orang-orang yang harus meramaikan pasar-pasar atau mal karena alasan ekonomi harus tumbuh sebagian diantaranya tak ikut mengawal kampanye 3M. Itu yang terasa longgar di sekitar kita.

Padahal di masa awal Covid Maret atau April lalu kita amat disiplin dan takut pada epidemi ini. Kini lihatlah di akun-akun medsos yang menjadi etalase sosial setelah satu semester Covid ini berlalu. Apakah 2021 tidak akan mengulang horor yang sama?
*
Syukurlah keramaian warga di Tempat Pemungutan Suara di 9 Desember lalu tidak melahirkan kluster Covid seperti yang ditakutkan banyak pengamat. Beberapa orang penyelenggara pemilihan memang dilaporkan reaktif setelah rapid test atau tes usap, tapi tidak signifikan untuk membandingkan dengan jumlahnya yang jutaan se-Indonesia. Namun bagaimana urusan libur akhir tahun 2020 yang melibatkan warga berkali-kali lipat jumlahnya, dan durasi kerumunan yang lebih lama tinimbang lima menit di TPS?

Bagaimana herd immunity?

Analisis yang dilakukan oleh Citi Research menyebut bahwa herd immunity mungkin belum bisa terbentuk sampai akhir 2021. Hal ini karena, herd immunity baru bisa terjadi ketika sebagian besar masyarakat dari suatu populasi sudah mengembangkan perlindungan atau antibodi terhadap penyakit. Salah satu cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan vaksinasi. Inilah yang sedang kita tunggu-tunggu.

Lebih dari semua kekuatiran ini, sikap warga negaralah yang sangat penting dengan terus menjaga program 3M yang terus dikencangkan Pemerintah. Dalam penantian panjang vaksinasi untuk mencegah penyebaran virus lebih masif, teruslah memakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, menghindari kerumunan dan patuh protokol kesehatan di manapun.

Kita tak mungkin menerapkan skema herd immunity di tengah kehidupan bermasyarakat yang warganya sebagian abai. Catatan yang penulis simak dari laman primayahospital menyebutnya seperti ini, herd immunity adalah perlindungan secara tidak langsung dari suatu penyakit menular yang terwujud ketika sebuah populasi memiliki kekebalan baik lewat vaksinasi maupun imunitas yang berkembang dari infeksi sebelumnya. Namun dampak herd immunity corona sangat berbahaya karena virus ini jenis baru, dan sangat mudah menular.

Artinya, tahun 2021 masih harus dihadapi sekuat mungkin. Kita harus sabar menanti datangnya antrean vaksin, dan saling menjaga satu sama lain. Bila urusan di luar tak terlalu penting, sebaiknya bernaung di rumah saja. Mungkin itu diantara cara efektif agar pandemi ini segera usai.

Galung Lombok, 20 Desember 2020

error: Content is protected !!