KEMBANG AHOLEANG

KEMBANG AHOLEANG

Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Nama bunga ini Turnera ulmifolia. Saya memotretnya di halaman SDN 028 Ahoelang, Desa Mekkatta, Majene Sabtu pagi kemarin. Disela kampung yang kini sepi bunga ini tumbuh dalam taman depan kelas yang ditinggalkan siswanya.

Spesies tumbuhan berbunga dari genus bunga pukul delapan. Tumbuhan ini berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung aktivitas antibiotik yang melawan methicillin—resistan Staphylococcus aureus. (Wikipedia).

Beberapa kembang lainnya saya lihat juga masih bermekaran. Pasca gempa 6,2 itu lajur-lajur beton yang mengganti setapak tanah di Aholeang ditumbuhi semak. Jalurnya menanjak memompa hembus napas dari jantung. Ini sangat menyehatkan.

Saya ke lokasi tanah runtuh Aholeang ditemani Sudirman Syarif yang membonceng memakai motor bebek. Kami tak sampai 30 menit berkeliling di sana, suasana kampung yang seolah senyap mengirim perasaan tertentu. Saya mematung beberapa saat untuk mencoba mendengar suara ketuk atau kesibukan dari beberapa titik. Sepi.

Saya mencapai ketinggian tertentu untuk dapat melihat laut lepas Malunda. Spot Aholeang amatlah elok. Seperti destinasi menakjubkan yang tidak tersentuh dalam daya tarik terpendam. Oya, di bawah kaki saya berdiri, terdapat potensi wisata susur sungai dalam tanah yang kini terkubur.

Ahmad, seorang tokoh muda Aholeang saat saya bertemu sepulang dari kampungnya, mengatakan, mereka sering berenang-renang menembus terowongan yang berair dalam. Kali lain dia bersedia mengantar untuk menyusurinya. Kira-kira saya berani ya?

Sejak tanggal 15 Januari 2021, baru Sabtu kemarin saya merasa mantap untuk memasuki titik longsor itu. Teman-teman lain sudah mondar-mandir ke sana. Beberapa pendatang bahkan telah masuk ke sana untuk menuntaskan rasa penasaran.

Batu-batu gajah yang berasal dari kerak gua atau leang membujur tak beraturan di Aholeang. Longsorannya memang hampir saja membelah kampung ini seperti olahan blender. Betapa kerdil saat melihat segala keindahan dusun yang lantas berubah diam.

Pada hitungan 50 hari sejak tanah runtuh itu, denyut kehidupan warganya perlahan tumbuh. Mungkin seperti kembang Turnera yang setiap pagi menerabas belukar realitas sosial-ekonominya.

error: Content is protected !!