MANDARKAN DIRIMU: Menjaga Sistem Sosial Budaya Mandar

MANDARKAN DIRIMU: Menjaga Sistem Sosial Budaya Mandar
Advertisements

(Orasi Kebudayaan ini Disampaikan Dalam Rangka Hari Jadi Kabupaten Majene ke-474 Tahun 2019)

Oleh Adi Arwan Alimin (Pegiat Budaya/Sastrawan)

Mesa pongeq pallangga

Daqdua tassisaraq

Tallu tammalaesang…

Inilah nilai Passemandaran yang merupakan puncak atau inti dari Tallu Posiqna Attonganang. Bila anda ingin menjadi Orang Mandar cukuplah memahami kandungan mesa ponge pallangga yang menjadi pondasi ketuhanan. Daqdua tassisara atau aspek yang mencakup penghormatan pada hukum dan nilai-nilai demokrasi, serta Tallu Tammalaesang yang mencakup ekonomi, keadilan dan aspek persatuan.

Dalam segala aspek kehidupan masyarakat di Mandar, nilai-nilai dasar itu telah ada jauh sebelum manusia modern saat ini mengenal begitu banyak teori dan asumsi mengenai sistem sosial. Sebagai suku bangsa, orang Mandar mengenal pewarisan nilai yang telah berlangsung secara turun temurun. Giddens mendefinisikan sistem sosial sebagai praktek sosial yang dikembangbiakkan (reproduced), atau hubungan yang direproduksi antara aktor dan kolektivitas yang diorganisir sebagai praktek sosial tetap (1984). Pengetahuan kita pada sejumlah nilai yang diwariskan nenek moyang menggariskan suatu pemahaman umum bahwa sejumlah aspek yang ada, orang Mandar hingga hari ini masih dapat menjaga identitas dan entitasnya. Kekuatan yang sebenarnya berjalan merapuh dalam lintas generasi akibat perubahan dan dinamika sosial yang tak dapat dielakkan.

Sistem sosial budaya Mandar adalah segala totalitas nilai, tata sosial, dan tata laku manusia Mandar yang harus mampu mewujudkan pandangan hidup dan falsafahnya sebagai bangsa. Nilai-nilai ini telah melewati fase dan ruang yang berbeda dari generasi ke generasi, namun kita selalu berharap perilaku dan segala tindak tanduk orang Mandar di manapun akan tetap berkelindan dalam sedikitnya enam kebajikan mendasar. Antara lain sebagaimana dijabarkan Idham khalid Bodi (2007), sebagai berikut: 

Annang Pappejappu di Litaq Mandar (enam pegangan utama di tanah Mandar) yang terdiri atas:

  1. Buttu tandiraqbai (tegaknya hukum secara utuh).
  2. Manuq tandipessissiq (demokrasi dalam segala lini kehidupan)
  3. Bea tandicupa (ekonomi kerakyatan yang merata)
  4. Karraq arrang tandidappai (keadilan tanpa takaran)
  5. Wai tandipolong (persatuan yang berkesinambungan)
  6. Buttu tanditemaq (Keyakinan akan Zat Yang Maha Tinggi)

Di setiap masyarakat selalu terdapat pola perilaku atau patterns of behavior. Pengertian itu merupakan cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama, dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakatnya. Sejumlah lema kearifan lokal Mandar mengenai pola perilaku ini berumur sama dengan sistem sosial yang berlangsung dan telah dipatuhi secara kolektif. Aturan itu mencakup suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blue print for behavior yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang dilarang.         

 Pappejappu bagi Manusia Mandar merupakan darma atau komitmen yang meruang dalam sistem sosial budayanya. Dari sini pola-pola keteraturan, kesatuan nilai yang terdiri dari sejumlah komponen saling berhubungan. Elemen dasar ini sangat erat hubungannya dengan masyarakat Mandar. Bagaimana mereka dalam memandang hukum, nilai demokrasi, dan keadilan tanpa menakar status sosial. Di Mandar, sejarah mewariskan sebuah ingatan mengenai Bala Tau di Tammejarra, Balanipa. Situs itu merupakan produk budaya purba dalam urusan penegakan hukum atau metode manusia di masa lalu mencari dan menemukan rasa keadilan. Tata cara itu mewakili sifat ingin tahu manusia dalam proses penyelesain sengketa, hal luar biasa itu disudahi setelah kedatangan I Manyambungi atau Todilaling yang membentuk sistem pemerintahan baru dan lebih modern di wilayah Balanipa.

Praktek saling membunuh di Bala Tau dipandang sebagai ancaman yang dapat menghabisi aset atau potensi sumber daya manusia kala itu. Jika di era Roma adu manusia menjadi sarana hiburan dalam skala penderitaan dan kesenangan bagi penguasa, di Mandar purba Bala Tau semacam colosseum pada penyelesaian hukum yang tak dapat lagi diselesaikan secara diplomatis atau musyawarah. Situs itu seolah mengirim kabar bahwa di masa lalu, kepastian hukum bagi siapapun dijamin oleh sistem yang direka dan dijunjung oleh masyarakatnya sendiri. Di Mandar kemudian kita mengenal pendekatan hukum Adaq Mate yang berlaku di Pitu Baqbana Binanga, dan Adaq Tuo di Pitu Ulunna Salu.   

Ide besar yang juga diwariskan leluhur di Mandar menyangkut nilai-nilai demokrasi yang justru menjadi sokoguru saat ini. Di Mandar dikenal sistem dua pintu dalam pemerintahan, yakni antara Maraqdia dan Kaum Hadat. Maraqdia atau Raja memimpin Negara dan pemerintahan dengan segala struktur pendukungnya, sementara Hadat menjalankan fungsi pengawasan yang ketat. Di masa lalu, Hadat dapat memberhetikan Maraqdia, sebab seorang raja bekerja di bawah sumpah hadatnya. Fungsi pengawasan seperti itu terbukti mendukung mekanisme dan cara mengelola kehidupan bernegara dan berbangsa. Ini dapat dikatakan sebagai konsepsi legitimasi antara kekuasaan raja dan pemangku hadat yang berhasil menyatukan persekutuan kaum.   
Jelang kematian I Manyambungi yang dianggap sebagai turus negara dalam menyatukan kekuatan jazirah Mandar, sebelum diteruskan putranya I Billa-Billami atau Tomepayung, ia menitahkan hal mendasar mengenai pola suksesi yang hari ini dikenal sebagai konsep demokrasi.  

Inilah pesan dari I Manyambungi sebelum wafat. Ia mengatakan, Madzondong duambongi anna mateaq, mau anaqu, mau appou, damuannai menjari maraqdia, mua Tania tonamaasayangi paqbanua, damuannai daiq dipequluang muaq masuangi pulu-pulunna, matoqdori kedona, apaq iamo tuqu namarruppu-ruppu litaq…

Profesor Darmawan Masud menerjemahkannya secara bebas dalam bahasa Indonesia seperti ini, … besok atau lusa manakala saya mangkat, walau dia putraku ataupun cucuku, janganlah hendaknya diangkat menjadi Raja (baca pemimpin). Kalau dia tidak mencintai tanah air, dan tidak membela nasib rakyat kecil. Jangan pula mengangkat seorang Raja bila ia mempunyai tutur kata, perbuatan dan tindakan kasar. Karena orang seperti itulah yang akan menghancurkan negeri (Kompasiana, 2015).

Seleksi kepemimpinan di Mandar telah mengenal standar tomaka anna sitinaya, ada pula yang menambahkan naratang. Uji kepatutan (maka) dan kelayakan (sitinaya), dan pantas (naratang) sejatinya pola umum yang mengharuskan setiap pemimpin di level manapun seyogianya memiliki kompetensi, keunggulan, kepantasan dan nilai-nilai luhur lainnya. Daerah yang diserahkan kepada figur yang tak memiliki kemampuan yang melampaui kecerdasan dan kearifan masyarakatnya, tidak akan pernah mengantar atau membawa banua atau negerinya pada kemakmuran, di mana pertanian menghasilkan garapan yang menguntungkan dan musim yang seolah amat bersahabat. Atau, mengenai sumber daya laut yang tidak hanya dinikmati sebagai protein namun sanggup melayarkan keuntungan pedagang di berbagai penjuru.

Pemimpin yang lemah dalam visi kepempimpinan akan membiarkan generasi mudanya terkubur dalam tempurung mimpinya yang rendahan. Simaklah bagaimana orang-orang terdahulu dapat sampai ke Maluku, Borneo, Nusa Tenggara, Surabaya hingga Tumasik (Singapura), dan menguasai berbagai teluk. Lalu sandingkan dengan keadaan saat ini, di mana kita telah kehilangan pelabuhan-pelabuhan yang menjadi gerbang halaman terbesar kita pada dunia luar. Di sini, ada nilai yang sepertinya tiarap, bahwa orang-orang Mandar hampir tak lagi dapat disebut sebagai pelaut ulung, kecuali dalam tampilan dalam even lomba perahu bercadik (?) Kegelisahan ini memerlukan kehadiran para pemimpin yang hebat dan adaptif serta memahami karakter tanah, dan sumber daya laut secara lebih baik.

Mattulada (1999) menegaskan pada konsepsi kedatuan Tomanurung mencari pemimpin yang mampu menyatukan persekutuan anang ke dalam kelompok persekutuan anang yang serumpun diharapkan pemimpin yang sosoknya luar biasa. Dari sinilah awal terbentuknya kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan dan Barat (pen) yang diciptakan dengan amat luar biasa dan cerdik, yang menghadirkan konsepsi atas legitimasi raja dan lapisan kaum bangsawan. Pada zaman kedatuan Tomanurung Sulselbar mengalami perkembangan soal-soal kemasyarakatan, kenegaraan, kepemimpinan pada bidang politik, ekonomi, dan sosial yang memulai fungsi-fungsi spesialisasi. Negeri-negeri di Mandar saat itu menjadi bagian tak terpisahkan dari proses budaya tinggi ini. Intinya Mandar memiliki modal sosial-budaya, dan sejarah adiluhung, lalu mengapa masa lalu itu hanya seperti kolase dalam pikiran dan imaji? Apakah nilai sosial-budaya Mandar bernilai rendah, dan dirundung selama ini? Bagaimana menjelaskannya secara utuh.

Dalam konsep bea tandicupa, yang menitikberatkan pada keadilan ekonomi kerakyatan, Baharuddin Lopa (1999: 121) mengatakan, sistem ekonomi yang bertujuan bagi keadilan sosial dan cita-cita kebudayaan telah diajarkan dan dipraktekan. Ia menyebut untuk menghindari adanya golongan ekonomi yang kuat mempersempit ruang kehidupan golongan ekenomi lemah, di Mandar dikenal istilah Siwaliparri (saling membantu dalam mencari nafkah), dan sipatuo atau saling menghidupi. Kedua ungkapan ini menunjukkan adanya pilar kebudayaan yang perlu dipertahankan untuk mencegah kemiskinan di masyarakat.    

Sistem sosial dan nilai budaya Mandar merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial budaya Mandar dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem sosial budayanya tetapi menyembulkan eksplan deskripsinya dalam kehidupan masyarakat. Kita sedang tumbuh dalam iklim pascareformasi yang berkecambah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi amat pesat. Sistem sosial budaya Mandar tengah berada dalam pusaran sangat menentukan. Setiap perubahan dan kemajuan saat ini saban hari berjejalin dengan sikap, pola dan kebiasaan baru masyarakat, apakah tata nilai yang ada sejauh ini masih akan tetap relevan?  

Apa yang harus dilakukan. Kita penting menyadari pewarisan nilai dan kearifan lokal kita telah mengalami proses dan juga mungkin degradasi sepanjang perjalanannya. Modernisasi yang disertai kemajuan teknologi informasi mempercepat semua aktivitas sosial masyarakat. Apa yang terasa lamban di masa lalu, kini harus berkejaran dengan mekanisasi yang amat cepat. Apa yang harus dikerjakan berpekan atau berbulan di masa silam dapat tuntas dalam kolom-kolom percakapan. Pasar tradisional yang becek, lalu berganti swalayan, pasar modern kini sedang dalam senjakala market online. Kearifan lokal seolah tameng yang terus bergetar setiap kali diterjang update informasi masa depan yang memukau. Tanpa benteng budaya yang lebih kuat arus akulturasi modernitas ini tak akan pernah sanggup diimbangi.  

Era modernisasi dan globalisasi menimbulkan dilema bagi manusia. Kerumitan itu terlihat bahwa di satu sisi manusia tidak bisa hidup dengan hanya mengandalkan patron tradisional, dan stagnan atau manual. Modernisasi dan globalisasi menimbulkan dampak dan pengaruh yang luar biasa yakni tergerusnya nilai-nilai budaya yang merupakan ciri khas dari suatu bangsa (Idrus Ruslan, 2015). Di bidang bahasa Mandar, yang idealnya mengeak pertama kali sebagai bahasa Ibu, justru didera akulturasi bahasa lain, sebut saja bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Kini berapa persen keluarga di Mandar yang masih memakai atau memahami dialek daerahnya masing-masing? Saya sering bertemu anak-anak di pelosok yang jumlahnya hampir seimbang antara yang masih menggunakan percakapan bahasa daerah, dan bahasa nasional kita.   

Kita memang sedang berada di ambang masa di mana, tanggung jawab untuk melestarikan nilai sosial dan budaya sedang dipertaruhkan. Generasi saat ini, yang hidup dalam kubus urban digital, dan era milenial tengah bersemuka dengan kehadiran genereasi alfa yang duduk di SD hingga SMP. Apa yang telah kita lakukan untuk membekali mereka mengenai rasa cinta dan ketahahan budaya Mandar? Saya kerap merenungkan amat dalam ditingkahi kegamangan tak terperi.

Beberapa cara yang dapat dilakukan generasi muda dalam mendukung pelestarian budaya dan ikut menjaga budaya lokal. Diantaranya mempelajari atau berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian kebudayaan, mengajarkan kebudayaan itu pada generasi penerus sehingga kebudayaan itu tidak musnah dan tetap dapat bertahan. Komunitas pegiat literasi Sulawesi Barat misalnya, telah berusaha mendirikan Sekolah Lontara untuk mengajarkan cara menulis dan membaca aksara purba itu. Aktivitas yang dilakoni Fahmi Biyatomandar, Muhammad Munir dan kawan-kawan itu untuk menginisiasi kelangkaan sumber yang dapat mengeja tautan masa lalu dengan laman hari ini. Epigram yang tersembunyi dalam banyak peristiwa di masa lalu perlahan-lahan tak lagi menjadi bentang rahasia yang berselimut ketidaktahuan karena ketidakmampuan membaca kolase yang terserak di banyak pemilik karya masa silam.  

Mencintai budaya sendiri, bagian penting dari apa yang dapat dilakukan untuk menjaga nilai sosial budaya Mandar. Misalnya, mempraktekkan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, atau menghilangkan gengsi ataupun rasa malu dengan kebudayaan sendiri, serta menghindari sikap-tak memelihara-primordialisme, dan etnosentrisme (dictio.id).

Belajarlah memesrai kelangsungan pola perilaku sosial budaya Mandar, mendalami ketinggian akal budinya, dan menyelami kekayaan mosaiknya. Sejumlah teori, asumsi dan praktek perilaku sosial paripurna telah lama ada di Mandar, tanpa harus mengais pengetahuan dari budaya lain. Kosa kata utamanya merujuk pada lema malaqbiq, tentang gau, pau anna kedzo. Bila anda ingin menjaga Mandar agar tak punah dari peta zaman, mandarkanlah dirimu. Agar kita juga berani meniru ucapan mantan Bupati Majene, Profesor Baharuddin Lopa, ”mengapa sangat jujur, dan lurus,” sebab, “saya Orang Mandar!  

Menurut B.J Habibie (1999:160), hidup matinya teknologi tergantung pada kebudayaan karena teknologi bagian kebudayaan suatu masyarakat. Menurutnya teknologi tidaklah pernah mengancam atau merusak kebudayaan bahkan bertentangan, sebab teknologi tak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Sungguh kita telah memiliki semuanya di Mandar, hanya perlu merawat dan menjaganya agar produk budaya baru tak menggerus sistem sosial dan identitas. Dialektika mengenai entitas kemandaran harus tetap hidup. Membara di pikiran, perkataan, dan perbuatan anak-anaknya. Taq! (*)

  Mamuju, 3 Agustus 2019

Kepustakaan:

  1. Sarjono, Agus, 1999. Pembebasan Budaya-Budaya Kita, (editor), Gramedia, Jakarta

Khalid Bodi, Idham, 2007. Sosialisasi Nilai Budaya Mandar (Studi Kasus Pada Generasi Muda di Kec. Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat)

Anthony Giddens. 2004. Sociology, Fouth Edition, Blackwell Publishing Ltd

https://www.kompasiana.com/www.adiarwanmandar.wordpress.com/patron-demokrasi-dari-todilaling

https://media.neliti.com/media/publications/141425-ID-penguatan-ketahanan-budaya-dalam-menghad.pdf

https://www.dictio.id/t/bagaimana-cara-anda-untuk-menjaga-agar-budaya-indonesia-tetap-lestari

https://news.detik.com/berita/d-802663/colosseum-saksi-pertarungan-berdarah-manusia-vs-hewan-buas

 

Share this post

Post Comment