Memori Adam Air KL574

Home » Memori Adam Air KL574
Memori Adam Air KL574
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Awal tahun 2007. Newsroom Harian Radar Sulbar seketika terasa hening. Jelang deadline sore itu kami mendapat informasi Adam Air hilang kontak. Pesawat yang takeoff dari Surabaya itu menuju Manado. Kami menerima informasi penting ini dari kantor Fajar di Makassar.

Dalam keterbatasan sarana komunikasi, kami hanya benar-benar mengandalkan jejaring wartawan di setiap daerah. Sore itu dimulailah sebuah perencanaan redaksi yang bersifat darurat, semua kontak person baik pejabat, koresponden sampai bagian pemasaran diminta ikut membantu. Dalam kesempatan yang sama seketika berimbun informasi yang masuk. Semua berstatus katanya. Menurut dan sebagainya.

Informasi yang simpang siur mengenai lokasi jatuhnya pesawat registrasi PK-KKW itu (wikipedia), apakah di laut atau di daratan seperti pilihan yang sangat sulit. Jam deadline yang biasanya kami tuntas petang, saat itu bergeser sampai jam 21.00. Situasi ini sangat tidak biasa. Sebagai Redpel saya bahkan tiga sampai empat kali mengganti judul Headline News. Layouter Radar Irwansyah saat itu saya lihat hanya terus menggelengkan kepala. Sementara Pemred kami, Naskah M. Nabhan tak kalah sibuknya memastikan setiap informasi yang diterima.

Setiap perkembangan kabar terkini yang masuk, membuat laporan halaman satu itu bongkar pasang. Pembaca tentu akan menuang kecaman bila laporan esok hari ala surat kabar mengenai lokasi jatuhnya Adam Air justru berbeda faktanya. Keputusan newsroom saat itu, tentu sangat berbeda dengan strategi0 pengambilan keputusan media digital saat ini. Koran memiliki siklus yang panjang. Itu sebabnya kami sangat hati-hati.

Saya mengatakan, Radar Sulbar tidak boleh keliru menampilkan wajah Halaman Satu, sebab kecelakaan besar ini terjadi di wilayah kita. Pada akhirnya, sejumlah media arus utama tanah air harus mengoreksi laporan awalnya karena Adam Air tidak pernah jatuh di pegunungan Matangnga, atau bahkan di lereng pegunungan Mamuju. Pesawat itu jatuh di perairan Majene.

1 Januari 2007 itu merupakan hari-hari yang sangat sibuk dan mendebarkan. Ini juga sekaligus pelajaran amat berharga bagi sebuah media, apalagi yang berbasis di daerah. Ingatan jatuhnya Adam air yang membawa 96 penumpang dan 6 awak itu seharusnya menguatkan pemahaman pada mitigasi bencana berskala besar. Wartawan wajib lebih menajamkan intuisi dan sikap hati-hati dalam menyaring setiap informasi. Apalagi mengenai data korban bencana.

Media lokal mesti menjadi sumbu informasi paling depan dalam mengabarkan peristiwa semacam ini. Beberapa hari setelah pencarian awal, redaksi Radar sering menerima telepon dari berbagai pihak untuk menanyakan berbagai hal. Kegesitan wartawan Radar kala itu patut diacungi jempol karena memiliki kesempatan lebih panjang untuk mengumpulkan informasi dari lapangan.

Pesawat Boeing 737-400 buatan tahun 1990 itu membawa 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 5 balita. Hingga kini tak ada satu pun korban yang ditemukan. Sementara Flight Data Recorder (FDR) Adam Air baru berhasil diangkat pukul 13.29 Wita pada tanggal 27 Agustus 2007 dari kedalaman 2.000 meter. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR)-nya ditemukan pada pukul 11.00 Wita tanggal 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter (detik.com).

Peristiwa Adam Air di perairan Selat Makassar Sulawesi Barat termasuk dalam urutan kecelakaan paling buruk atau memilukan di tanah air. Potongan serpihan ekornya baru dapat ditemukan 11 hari masa pencarian, dan pada hari ke-25 kotak hitamnya ditemukan. Pesawat ini hilang kontak setelah satu jam tujuh menit terbang di udara. Kecelakaan Adam Air dilaporkan sebagai peristiwa penerbangan dengan korban paling banyak untuk jenis Boeing 737-400 di dunia.

Pada Maret 2008 KNKT melaporkan penyebab kecelakaan adalah cuaca buruk, kerusakan pada alat bantu sistem navigasi inersia (IRS), dan kegagalan dalam menghadapi situasi darurat. Pesawat menabrak angin lebih dari 70 knot atau 130 kilometer per jam di atas Selat Makassar, Sulawesi Barat. Dalam transmisi radio terakhirnya seperti yang dimuat laman id.wikipedia.org, pilot melaporkan angin yang akan datang dari kiri, tapi kontrol lalu lintas udara menyatakan bahwa angin harus datang dari kanan.

Pesawat yang terbang dari Surabaya itu tidak pernah sampai ditujuannya, Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Adam Air tetap hilang di dasar Selat Makassar setelah mencapai ketinggian 35.000 kaki. Pada setiap kali terjadi peristiwa yang sama, penulis selalu merasa masygul. Saat Sriwijaya Air SJ182 jatuh kemarin, kesedihan kita sebagai warga negara ikut menggenang.
*
Penulis pernah menggunakan Adam Air di kesempatan sebelumnya, juga beberapa kali naik pesawat Sriwijaya di saat lain. Kegamangan, dan kesiapan diri selalu membuat terjaga pada takdir saat terbang ke manapun. Saya termasuk penumpang yang sangat menyukai duduk di kursi dekat jendela… (*)

RumahMenulis, 11Januari 2021

Ilustrasi: dailymotion.com

error: Content is protected !!