Menikmati Nasi Pecel Mbak Tini

admin
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

TAK sulit menemukan warung makan ini. Bila anda berada di Pasar Induk Wonomulyo, bertanyalah pada beberapa orang mereka akan langsung menunjukkan tempat makan yang bertirai kain ini. Ukurannya sekitar tiga kali enam meter, bersisian dengan los pedagang campuran dan rempah-rempah.

Saat penulis menyambangi warung ini beberapa orang telah duduk di bangku memanjang. Penataannya hampir sama saja dengan belasan tahun silam. Sebuah meja cukup besar menampung semua jajanan milik Mbak Agustini. Ia rupanya masih mengenali penulis saat ingin duduk seperti pengunjung lainnya.

Mata anda akan langsung tertuju pada rempeyek yang khas Wonomulyo banget, rasanya gurih. Jenis kerupuk ini yang akan melengkapi nasi pecel atau pecel lontong. Rasanya tak pernah berubah. Guyuran sambel kacangnya akan makin menambah riuh. Pecel di manapun akan memiliki tekstur yang sama. Tapi bumbu kacang-gula merah racikan Mbak Tini serasa berbeda di lidah.

“Sebenarnya bukan saya yang menjadi pelanjut warung Mama ini, tahun 1989 lalu saya sedang di Makassar ikut Sipenmaru. Namun tiba-tiba ada peristiwa yang menimpa kakak, ya saya harus kembali ke Wono,” tutur perempuan jangkung ini.

Peristiwa yang disebut Mbak Tini, yakni malapetaka akibat kawat berarus listrik yang menyebabkan kedua saudaranya meregang nyawa di pagi hari. Kedua kakaknya itu sedang menuju ke pasar induk sambil membawa persiapan dagangan mereka hari itu. Namun malang tak dapat mereka hindari. Kawat pengikat tiang televisi yang kala itu putus dan melintang di jalan mengakhiri hidup mereka.

Ibu Mbak Tini bernama Mbah Bibit mulai menjual pecel sekitar tahun 1971. Ia tidak pernah membuka warung di tempat lain, namun memulai bisnis kuliner itu ketika kondisi pasar induk masih amat sederhana. Kisah nasi pecel atau pecel lontong khas Mbak Tini telah memasuki generasi kedua. Ini setua perjalanan pasar Wonomulyo yang tak pernah tidur.

Hingga saat ini harganya masih terbilang murah. Jadi, kalau ingin menikmati pecel Mbak Tini datanglah mulai pagi. Siap-siaplah bertemu dan saling menyapa dengan siapa saja di sini. Ini bagian humanis saat menikmati percakapan setiap orang yang datang dengan segala gagasannya.

“Saya masih kecil, mama sudah menjual di pasar. Tahun 1987 saya yang mengambil alih warung ini,” kata Tini yang lahir tahun 1966. Ia menikah dengan lelaki Mandar bernama Sahabuddin, kini dikarunia tiga orang anak.

Orangtuanya, Mbah Bibit meninggal tahun 2003, termasuk diantara nama penjual pecel legendaris di Kampung Jawa. Ia berasal dari Nganjuk. Bibit dinikahi Kertorejo. Mereka merupakan bagian dari kolonis atau angkatan transmigran era Belanda.

Mamuju, 29 Juni 2019

Next Post

Surat Tugas Wartawan Doeloe

Surat tugas yang dibatasi ruang bahkan kadang wilayah itu, selalu digunakan untuk mengeskplor wacana yang mengemuka. Militansi wartawan tempoe doeloe amat tinggi. Mungkin sebab id card jadulnya yang terbatas. Hingga dimanfaatkan untuk menunjukkan kelas dan derajat laporan yang harus makin asyik dibaca dan dianggap memiliki arti penting bagi pembaca...

Subscribe US Now