Meraut Ide Anak Dunia Maya Pasangkayu

Meraut Ide Anak Dunia Maya Pasangkayu

Advertisements

KELAS VIII SMPN 1 Pasangkayu seketika riuh. Kamis siang, saya memasuki ruangan yang berada di sayap kanan kompleks sekolah ini.

Cuaca terik yang melayur langsung lampias begitu kipas angin menguarkan udara. Ini seperti workshop menulis dadakan, tanpa rencana atau persiapan sebelumnya.

Saya sejak Rabu sore berada di area SMPN 1 Pasangkayu, memantau persiapan KPU Pasangkayu yang menggelar CAT untuk calon adhoc PPK Pilkada 2020. Kamis pagi, saya menyampaikan keinginan untuk bertemu siswa-siswi di sini. Asrianur, S.Pd. sang kepala sekolah langsung mengamini.

“Guru-gurunya atau siswa?” Antusias kepala sekolah kepada Alamsyah rekan komisioner Pasangkayu.

“Bagaimana cara membagi waktu, sebagai komisioner KPU dan juga masih aktif menulis,” tanya Ismi seorang siswi berjilbab.

“Apakah menulis itu mudah atau sulit.”

“Bagaimana cara menerbitkan sebuah karya berupa buku?” Sebut Itseki (nama yang dicomotnya sendiri) peminat produk budaya Jepang. Teman-temannya yang lain juga menyebut Dubai hingga cita-cita ingin ke Korea bertemu idolanya.

Sejumlah pertanyaan kemudian mengemuka dalam pertemuan ringkas ini. Sambil mengisi jam belajar yang kosong kurang lebih 60 menit saya mencoba menambang imajinasi mereka. Anak-anak seusia SMP kelas II memang memiliki penalaran yang berbeda. Gagasan mereka serasa ingin dikebut begitu saja. Perkembangan media sosial amat kental dalam banyak percakapan.

Namun suasana yang riang sering pula berganti serius. Bila mendengar hal baru mereka akan seperti rimbun jambu di depan kelasnya, adem tertiup angin rasanya. Jika mengenai dunia Instagram, wattpad dan aplikasi terbaru seketika lontaran kegembiraan melesat seperti lembing. Ini penanda anak-anak di sini sedang berkecambah dalam pergeseran kebiasaan populer dan budaya baru.

Mereka kemudian mulai memahami bagaimana ide dikelola, dieksplor atau dikembangkan. Potensi anak-anak ini sesungguhnya amat besar.

“Kalian hanya membutuhkan satu persen minat ditambah sedikit bakat.” Lalu mereka sering saling mengangguk satu sama lain. “Sebagai keterampilan menulis itu perlu dilakukan berulang-ulang, dan terus menerus.”

Daya tarik anak seusia Ege (hanya nama situasional di kelasnya) dan kawan-kawan, penulis tandai dari respon pertanyaan juga perhatian sejumlah siswa yang semula tampak ogah saat saya kali pertama hadir. Kemudian suasana mencair.

Bagi mereka sebagai Anak Dunia Maya, istilah yang dikemukakan seorang siswi, penjelajahan imajinasi merupakan tantangan yang sebenarnya tak berat. Pahami ruang berfikirnya, temukan ide terbaik mereka. Lalu mulailah meraut keterampilan menulis mereka lebih runcing.

Workshop kepenulisan yang seperti ini, yang didesain tanpa berbelit saja dapat menemukan sekumpulan anak-anak berbakat. Apalagi jika dikemas dalam silabus lebih rinci dan berkesinambungan. Potensi anak-anak seusia Itseki dan teman-temannya ibarat bibit muda di sisi pematang yang setiap hari dilewati harapan melanglang. Hanya perlu memindahkannya ke ruang kreatif lebih lapang semata.

Saya sedang menunggu karya-karya anak-anak SMPN 1 Pasangkayu. Mereka ingin membuat sebuah karya berupa buku tentang mereka sendiri. Bila kalian, anak-anak Kelas VIII membaca catatan ini segera ketik gagasanmu. Tentang apa saja.

Pasangkayu, 30 Januari 2020

error: Content is protected !!