Jurnal Warga

Latest

New Lebaran Ketupat

Advertisements

Adi Arwan Alimin

Untuk yang Lebaran Ketupat di Kappung Jawa, salam hangat opor ayam, dan lontong sayur. Ungkapan ini mewakili gumpal rasa kangen beruap rempah-rempah bagi tanah kelahiran saya; Sidodadi, Wonomulyo. Kota kecil ini terlalu disarati limpahan kenangan yang membuat generasinya selalu ingin pulang.

Lebaran Ketupat pada dasarnya kegiatan Syawalan bakda Idul Fitri, tepatnya setelah sepekan atau hari ketujuh. Tradisi ini dikembangkan masyarakat Jawa khususnya di Wonomulyo, Polewali Mandar. Di pulau Jawa acara seperti ini tentu lebih familiar. Di kantong-kantong bekas kolonis Jawa diberbagai tempat di Nusantara kebiasaan ini juga tumbuh.

Tidak ada sumber yang menyebut sejak kapan Syawalan atau Lebaran Ketupat ini dimulai di Wonomulyo, tapi bila merujuk pada informasi yang penulis peroleh saat menulis buku sejarah Kappung Jawa di Tanah Mandar, kemungkinan ini telah berlangsung sebelum tahun 1960-an.

Merujuk pada tradisi pesta rakyat usai panen hasil bumi, khususnya menyongsong Kemerdekaan RI, tradisi pesta rakyat untuk saling berbagi kebahagian ini dimulai sejak tahun 1960-an. Dalam ingatan penulis Lebaran Ketupat ini marak terdengar tahun 1980-an. Kala itu sebagai bocah penulis masih menganggapnya sebagai tradisi umum saja.

Lebaran Ketupat awalnya berbentuk saling acara berbagi makanan yang dibuat sesama tetangga, kemudian berkembang sebagai sarana silaturahmi secara luas. Tradisi ini bertahan begitu lama. Itu sebabnya pula dahulu sejumlah keluarga Jawa di Kappung Jawa tidak menyiapkan ketupat saat hari H Idul Fitri, tapi menunggu tibanya lebaran kedua ini.

Bagaimana suasananya di musim Pandemi Covid-19 ini?

Penulis kali ini tidak berkesempatan berkunjung apalagi mudik ke Wonomulyo. Larangan pulang saat lebaran membatasi keluasan warga untuk kembali ke rumah atau ke keluarga. Tapi budaya kupatan yang kabarnya pertama kali kenalkan Sunan Kalijaga ini tetap dilaksanakan warga. Beberapa teman malah mengirimkan gambar ketupat, telur berkuah, dan sayur lontong itu.

Bila menoleh lebih jauh, lebaran ketupat atau syawalan ini dikembangkam dari tradisi budaya kupatan atau riyoyo kupat budaya yang sudah lama ada di Jawa. Seiring perkembangan zaman, kupatan berakulturasi dengan tradisi Islam. Sebagaimana ketupat yang dahulu aslinya dari janur, kini ramai dikemas dalam ikat daun pandan layaknya tupat untuk coto Makassar.

Lebaran ketupat pada intinya ajang saling berbagi pada yang lebih tua, saling berbagi ke sama untuk terus menjaga silaturahim untuk kemenangan yang melebar usai lebaran.

Lalu biarlah Syawalan kali ini merupa dalam New Lebaran Ketupat yang makin khas. Mohon maaf lahir batin. Taqabalallahi minna waminkum…

Mamuju, 30 Mei 2020

#tetapdiRumah

New Lebaran Ketupat

The Latest

To Top
error: Content is protected !!