OBITUARI DAENG ATJO

OBITUARI DAENG ATJO

Advertisements

Oleh : Adi Arwan Alimin

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
Aco Sinar. Kami lebih mengenalnya sebagai kakanda Daeng Atjo. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa almarhum salah satu narasumber utama novel epos “Daeng Rioso”: Prahara Bumi Balanipa. Saya berkali-kali bertemu beliau di Karama. Ia amat senang ketika membaca karya ini.

Ditemani aqba Tammalele kami sering membuat ruang tamunya seperti gegar. Kalau membahas sosok Daeng Rioso, Daeng Atjo selalu tak dapat langsung berbicara. Ia akan meminta sedikit ruang untuk menunggunya bertutur. Gelombang masa lalu seperti tiba-tiba merubungnya, hingga saya leluasa mengulik setiap perbincangan. Saya jadi tahu setiap momem penting yang mesti digarisbawahi.

Suasana magis yang juga saya temui ketika berbicara dengan ayahanda Adil Tambono Mandar di Pandebulawang. Sebelum mengurai lebih panjang Daeng Rioso seperti selalu ada tatap antara kami. Saya tahu itu “frekuensi” yang berusaha ditautnya dari jauh. Ketika banyak orang takut membicarakannya.

Lalu hari ini, Daeng Atjo telah berpulang. Saya terakhir bertemu beliau ditemani Aqba Lele. Kami sempat diajak makan bersama. Tentu saja kopi hitam kental itu selalu serta. Tesis saya mengenai konflik besar di Balanipa yang melibatkan tokoh Daeng Rioso diaminkan Daeng Atjo. Ia mengatakan apa yang saya utarakan kurang lebih sama.

Tumbuh kembang Mandar secara luas akan jauh berbeda bila saja prahara itu tiada. Lalu saya jelas kehilangan seorang teman diskusi tentang tema ini. Sosok berkadar tinggi tapi amat rendah hati. Saya tahu pengalaman panjang dalam banyak hal telah membuatmu lebih banyak merundukkan diri. Tahulah saya kian berilmu makin dekatlah seseorang ke tanah.

Beruntung saya bertemu pertama kali Daeng Atjo, di kediaman almarhum Aruchul Tahir tokoh senior Mandar asal Mamuju. Lebih 10 tahun lalu. Dari situlah kami intens menggali gagasan. Pertunjukan teater Daeng Rioso beliau gelar di tahun 1970-an. Beliau pula yang bercerita ke saya tentang Panglima Puisi Husni Djamaluddin yang menangis di panggung Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Barusan saya berbicara dengan Aqba Lele via smartphone. Apa daya di musim Pandemi ini. Kami hanya mampu melepas kepergianmu dari jauh, melintasi pucuk-pucuk warita yang sering memuai diantara kita. Tapi saya percaya orang baik akan selalu mendapat doa-doa yang rimbun tentang husnul khatimah.

Daeng Atjo terima kasih telah mengenalmu. Novel epos jilid kedua Daeng Rioso sebenarnya masih memerlukan diskusi panjang, bagaimana seharusnya menyudahi bentang prahara itu hingga akan menjadi karya sastra 1000 halaman dari Mandar.

Selamat jalan Daeng. Hormatku selalu pada tabiatmu penuh tabik.

Mamuju, 13 Mei 2020

error: Content is protected !!