Point of View atau Sudut Pandang

Point of View atau Sudut Pandang

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Point of view is the angle of considering things, which shows us the opinion or feelings of the individuals involved in a situation. In literature, point of view is the mode of narration that an author employs to let the readers “hear” and “see” what takes place in a story, poem, or essay (literarydevices.net)

Angle berita atau news angle adalah sudut pandang (poin of view) wartawan terhadap sebuah peristiwa. PoV secara teknis sangat menentukan penulisan judul (head) dan teras (lead) atau alinea pertama naskah berita.

“Kamus” jurnalisme About mendefinisikan news angle sebagai “The angle is the point or theme of a news or feature story. The angle is found in the lede of the story.” Bahwa angle adalah poin atau tema sebuah berita atau feature. Angle dapat ditemukan di teras cerita.

Istilah lainnya, News Peg (Pasak Berita), News Hook (Pelatuk Berita), dan Story Hook (Momentum Berita) yang mengarah pada pengertian pokok berita, topik atau peristiwa aktual, atau situasi yang menjadi nilai berita.

Setiap media atau wartawan memiliki pilihan angle berita yang tak sama. Bila anda menemukan berita yang berbeda dengan sumber yang sama, itu merupakan hal yang wajar. Perbedaan PoV akan menentukan kualitas pribadi wartawan/media. Makin tinggi pengalaman seorang wartawan kian pandai ia merumuskan PoV.

Jadi, PoV akan membedakan isi berita antara satu media dengan media lainnya. Walaupun peristiwanya sama, namun karena perbedaan news angle, konten dan pesan beritanya akan berbeda. Contoh paling dekat pada liputan media di Pemilu tahun 2019 lalu. Bagaimana sejumlah media mengambil peran berbeda satu sama lain.

Pada dasarnya wartawan memiliki kebebasan dalam menentukan angle berita, sesuai dengan “ideologi” yang dianut dan “kadar keimanannya”. Hal ini dapat kita rujuk pada “The Elements of Jurnalisme” buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, di poin sembilan disebut jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nuraninya.

Wartawan diizinkan mendengarkan atau mengikuti hati nurani yang tidak bisa dibohongi atau takkan berbohong. Wartawan mempunyai pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggung jawab sosial (romeltea.com/sembilan-elemen-jurnalisme).

Kedua wartawan Amerika ini menggambarkan sembilan prinsip jurnalisme sebagai tanggung jawab mendasar para jurnalis, standar kerja jurnalis, dan peran pers bebas dalam demokrasi.

Dalam edisi selanjutnya, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan elemen jurnalisme ke-10, yaitu: Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.

Elemen ke-10 ini muncul dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri dengan munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas, dan media alternatif (ibid).

Kerapkali newsroom meminta pandangan wartawan atas suatu peristiwa untuk menemukan titik awal sebelum kebijakan PoV ditentukan. Meski demikian angle berita lebih banyak dikendalikan, dipengaruhi, atau ditentukan oleh redaksi.

Secara praktis setiap media memiliki kebijakan atau rambu-rambu manajemen tentang berita yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan. Di ruang inilah konsepsi apakah sebuah peristiwa disebut penting dan bernilai dapat memicu diskusi alot di newsroom.

Kemampuan memilih angle berita sangat menentukan pemilihan judul dan teras berita. Biasanya judul merupakan ringkasan lead, atau tubuh dan isi berita. Cara mudah menulis judul dan teras berita dengan menggunakan unsur 5W+1H. Unsur 5W paling sering diletakkan dalam lead berita. Who dan What seringkali muncul di judul.

Who (Siapa), What (Apa), Where (Di Mana), When (Kapan), Why (Mengapa), How (Bagaimana) 

Simulasi Pertanyaan

Kita dapat membuat matriks 5W+1H dan membuat pertanyaan dalam membuat kombinasi setiap unsur pertanyaan. Misalnya, siapa dikombinasikan dengan kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Wartawan sebaiknya mahir mengeksplorasi kombinasi pertanyaan yang bisa dirumuskan dari enam unsur tersebut.

Angle sebetulnya diambil dari khasanah fotografi. Saat memegang kamera, maka posisi jendela bidik (view finder) itulah yang disebut angle kamera, sudut pandang yang menempatkan obyek dalam posisi bidikan. (tempo-institute.org).

PoV dalam Sastra

Sudut pandang adalah sudut yang mempertimbangkan hal-hal, menunjukkan kepada kita pendapat atau perasaan individu yang terlibat dalam suatu situasi. Penulis memakai narasi untuk membiarkan pembaca seolah “mendengar” dan merasa “melihat” apa yang terjadi dalam sebuah cerita, puisi, atau esai.

Dalam sastra sudut pandang adalah cerminan pendapat yang dimiliki seseorang dari kehidupan nyata atau fiksi. Contohnya, sudut pandang orang pertama melibatkan penggunaan salah satu dari dua kata ganti “I” atau “we.”

Sudut pandang orang kedua menggunakan kata ganti “kamu.”
Sudut pandang orang ketiga menggunakan kata ganti seperti “dia,” “dia,” “itu,” “mereka,” atau nama (literarydevices.net).

PoV berasal dari kata Latin, punctum visus , yang secara harfiah berarti pandangan titik, menunjukkan di mana Anda mengarahkan pandangan.

Di laman en.m.wikipedia.org tentang Point_of_view_philosophy, sudut pandang disebutkan sangat multifungsi dan ambigu. Banyak hal dapat dinilai dari sudut pandang pribadi, tradisional atau moral tertentu, seperti dalam kecantikan ada di mata yang melihatnya.

Pengetahuan kita tentang realitas seringkali memang relatif terhadap sudut pandang tertentu. Di sinilah standar moral, kompetensi dan profesionalisme wartawan teruji.

Mamuju, 15 Februari 2020

*dari berbagai sumber

error: Content is protected !!