Jurnal Warga

Humaniora

Quo Vadis di Era Media Baru

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Media baru atau new media merupakan terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi dan terhubung ke dalam jaringan (internet).

Topik inilah yang mengental ketika penulis menuntaskan rasa lapar di sekitar alun-alun Kota Polewali, Ahad (16/2) siang jelang sore. Ada Rudianto, Andi Rannu, Munawir Arifin (ketiganya komisioner KPU Polewali Mandar), dan Heri Dahnur Syam Ketua Cabang HMI Polman juga Sekumnya, dan Rudi Hartono.

Di bawah rinai gerimis kami menyusuri beberapa simpangan jalan sebelum menemukan warung makan. Awalnya ingin bersantap nasi berenang tetapi kedainya tutup lebih cepat, Timbul akhirnya yang dipilih.

Sebelumnya, penulis baru usai menyampaikan materi di Pendidikan Dasar Jurnalistik yang digelar Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Polewali Mandar. Topik yang diamanahkan yakni Teknik Penentuan Angle dan Metode Wawancara.

Dua materi ini idealnya disampaikan dalam dua babak berbeda, namun menurut panitia sebagai diklat dasar ini dianggap telah cukup. Momentum 90 menit yang diantarai shalat Dzuhur dan ngopi itu sungguh sumir. Mungkin karena pesertanya asyik suasana di aula kantor Camat Polewali itu seperti lekas.

Menentukan Angle dan Teknik Wawancara dua sisi yang berbeda tapi saling menyempurnakan. Angle yang baik akan mampu mengendalikan tujuan wawancara. Angle yang sesuai akan memudahkan pula wartawan menetapkan judul bahkan leadnya.

Penguasaan metode wawancara yang sebaik apapun tanpa penentuan sudut pandang akan membuat pewancara di bawah kendali narasumber. Itulah pentingnya setiap wartawan memahami tujuan wawancara dan menguasai topiknya. Beberapa contoh dari lapangan membuat peserta kerap tertawa.

Peserta diksar jurnalistik seperti Idris, Sukmawati, Ridwan dan yang lain memiliki antusias yang tinggi. Kami cukup lama berdialog saat membahas urgensi akurasi data dalam setiap berita. Keberimbangan sumber pun topik yang dibahas cukup padat. Juga mengenai standar klarifikasi untuk memastikan setiap draf naskah berita telah memenuhi syarat.

Durasi yang ringkas tentu tak mampu menampung semua kehendak peserta. Sebagai aktivis yang memiliki minat ke bidang jurnalistik kematangan norma dasar atas prinsip jurnalisme amat urgen bagi mereka. Daya tarik peserta pun sudah menjadi modal yang sangat bagus.

Peserta diksar ini dalam kelindan iklim media baru yang tantangannya jauh lebih berat. Mungkin akan ada yang mengatakan menjadi wartawan saat ini relatif jauh lebih mudah dari era penulis yang dimulai dari proses magang melelahkan.

Pada kurun konvergensi media ini kompetensi di atas rata-rata seorang wartawan amatlah diperlukan. Fasilitas yang terbilang lengkap seharusnya didayagunakan untuk makin menunjukkan kelas jurnalis yang handal. Soal ini dapat kita diskusikan lebih dalam lagi.

Kembali ke paragraf kedua. Tren media baru saat ini yang berbasis internet melahirkan perilaku yang berbeda antara pembaca surat kabar dan media online. Kecenderungan penggunaan mobile untuk mengakses media sosial terus meningkat seiring pertumbuhan pasar online. Dewasa ini margin antara pembaca, dan newsroom kian ditentukan seberapa penting dan bernilai sebuah kabar yang disampaikan. Intinya pada konten berkualitas.

Wartawan tidak lagi hanya cukup hanya menguasai teori klasik jurnalistik, 5W+1H. Tapi harus rajin meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya, khususnya pada perkembangan informasi teknologi. Rumus di atas hanya merupakan alat bantu yang memadai dalam menghimpun semua kemampuan untuk mengadaptasi kekinian. Selebihnya seorang wartawan sejatinya lebih kreatif bersaing pada sisi kualitas konten, juga standar verifikasi.

Di kesempatan yang sama penulis kembali mengingatkan betapa sebuah pulpen dan notes masih berperan penting bagi wartawan untuk merawat ingatan. Catatan sanggup memberikan ruang lebih lapang untuk menjabarkan hal lebih teknis.

Jadikan smartphone sebagai media pendukung untuk memindai semua proses yang dilewati. Bagaimana dengan pembaca? Bila mengandalkan recorder semata, misalnya, berapa banyak durasi yang dibutuhkan sedang prinsip media baru antara lain kecepatan dan kebaruan.

Pelatihan Dasar Jurnalistik ini bagian dari kegiatan untuk merekrut pengelola Lembaga Pers Mahasiswa Islam HMI Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ikhtiar yang memerlukan kesabaran tinggi untuk mencapai usaha sebagai jurnalis meyakinkan.

Polewali, 16 Februari 2020

Ilustrasi : liputan6.com

Quo Vadis di Era Media Baru

The Latest

To Top
error: Content is protected !!