Radar Sulbar di Era Mediamorfosis

Home » Radar Sulbar di Era Mediamorfosis

Radar Sulbar di Era Mediamorfosis

Radar Sulbar di Era Mediamorfosis
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin
(Mantan Redpel Radar Sulbar)

Usia 17 tahun bagi media merupakan fase yang melampaui break even point berkali-kali. Tidak hanya bagi takaran ekonomi atau neraca keuangannya, namun juga total keuntungan bagi publik sebab sebuah surat kabar dapat menjaga trust-nya. Kepercayaan inilah yang menyangga hingga media terus bertahan. Baca, dibaca.

Bagi surat kabar Harian Radar Sulbar, usia hampir dua dekade itu merupakan akhir dari masa transisi perkembangan pada tahap middle. Usia 17 memasuki usia mendekati dewasa muda. Bagi laki-laki atau perempuan ini masih menjadi masa pertumbuhan.

Kelahiran Harian Radar Sulbar ditandai dengan panggilan pertama sebagai Radar Mandar. Itu ibarat nama di masa kecil, lalu saat usia sekolah kemudian diberi nama Harian Radar Sulbar. Perubahan nama ini terus dimaknai dalam aqiqah tahunan berulang. Hingga berumur 17 tahun.

Saat meliput di Bali

Pada perkembangan kognitif anak di usia 17 tahun, ia akan mencoba berpikir seperti orang dewasa, misalnya berpikir kritis. Harian Radar Sulbar telah melewati tahapan ini secara baik. Inilah salah satu rahasia bumbu dapur redaksinya yang pernah penulis ikut benihkan, hingga mengalami fluktuasi kontrol sosial yang dinamis.

Usia 17 tahun juga menempatkan anak yang sedang tumbuh menuju masa depan yang lebih realistis. Era disrupsi media saat ini telah menghadapkan Harian pertama dan terbesar di jazirah Mandar ini pada institusi bisnis yang ikut terdampak.

Teori disruption yang pertama kali diperkenalkan oleh Christensen, yang mengetengahkan kajian pasar lama industri dan teknologi itu, penulis yakini sedang menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh bagi Radar Sulbar. Usia 17 tahun ini fase strategis bagi kemandirian dan daya tahan dalam tantangan media baru.

Apa yang lebih pantas kita berikan bagi media yang memasuki usia 17 tahun? Pertama, tetap berikan kepercayaan. Dari pengalaman panjang sejak tahun 2004, Radar Sulbar telah merasakan tantangan amat luar biasa. Media ini telah terlibat lebih dalam banyak hal, misalnya mengawal pengambilan keputusan arah pembangunan daerah ini.

Kedua, penulis melihat Radar Sulbar telah melakukan adaptasi yang cepat pada perkembangan media baru atau media sosial saat ini. Secara luas Harian ini telah dikenal sampai ke pelosok terjauh di Sulawesi Barat.

Saat mengikuti rombongan DPRD Sulbar kunjungan kerja ke Bali

Berbagai sosialisasi berupa pelatihan menulis, workshop, atau menyambangi stakeholders telah dilakukan sejak dahulu. Namun, kehidupan sosial warga secara berkala makin berubah. Penulis membacanya sebagai peluang yang dapat digarap sambil menerapkan iklim, dan semangat baru kru Radar Sulbar saat ini.

Ketiga, tetap menjaga muruah. Kewibawaan media atau kehormatan surat kabar akan terus terjaga bila trust atau kepercayaan publik kepadanya terpelihara. Itulah diantara modal paling utama. Sebab ceruk bisnis ini masih digenggam, dan tetap menjadi mainstream atau media arus utama, di tengah cara kita memerangi informasi berisi ujaran kebencian, dan hoaks saat ini.

Radar Sulbar dalam cangkang jurnalisme ibarat mediamorfosis, yang mengalami transformasi media. Itulah hubungan timbal balik dalam banyak kerumitan sosial, bisnis dan kebutuhan pasar pembaca yang mendesak. Mungkin berupa tekanan persaingan, politik, serta berbagai inovasi teknologi dalam cara berpikir evolusi yang kompatibel.

Salam hormat untuk usia makin gagah ini. Hingga kini ruap newsroom Radar Sulbar itu masih betah dalam semangat dan siklus berpikir penulis. Beginilah diantara cara merayakannya. Taweq… (*)

Mamuju, 10 Juni 2021

error: Content is protected !!