RAMADAN, MOMENTUM UNTUK MELURUSKAN ORIENTASI POLITIK

Home » RAMADAN, MOMENTUM UNTUK MELURUSKAN ORIENTASI POLITIK
RAMADAN, MOMENTUM UNTUK MELURUSKAN ORIENTASI POLITIK
Advertisements

Oleh: Dr Idham Holik

Tentunya saya bukanlah seorang politisi, tetapi dunia politik adalah milik semua warga negara –termasuk yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan, karena sistem politik demokrasi harus memberikan akses kepada seluruh warga negara tanpa kecuali.

Karakter kekuasaan selalu menarik orang yang berada di dalamnya untuk bertindak Machiavellian dan sebaliknya jarang yang bertindak sebagai Aristotelian –karena ada dua titik paradoks bagi gerakan pendulum politik yaitu Machiavellianisme dan Aristotelianisme. Titik pendulum Machiavellianisme adalah titik akumulasi kekuasaan dengan berbagai cara, sedangkan sebaliknya yang Aristotelianisme adalah titik maksimalisasi kepentingan publik.

Wajar saja jika Aristoteles kritik para politisi dimana mereka seringkali tidak memiliki waktu luang waktu luang, karena mereka selalu mengincar sesuatu di luar kehidupan politik itu sendiri, kekuasaan dan kemuliaan. Aristoteles juga bertanya dengan nada kritis, apakah itu kebahagian yang mereka cari? Tentunya bagi mereka yang berprofesi sebagai politisi selalu memiliki retorika relativistik-subjektif.

Selain saya bukan sebagai seorang politisi, saya juga bukan sebagai seorang klerik. Jika kalau saya sedikit mendeskripsikan narasi religius, karena mengamalkan Sila pertama dari Pancasila. Tentunya pengamalan sila tersebut dibutuhkan literasi religius. Jada apa yang yang sharing singkat ini hanya litersi religius banal, silahkan dikiritik. Ini hanya sebagai stimulan kita berdiskusi di ruang publik.

Sebagai bulan suci, tentunya Ramdahan memiliki banyak sekali keistimewaan yang diturunkan oleh Allah swt kepada ummat Islam mulai dari al Qur’an diturunkan, kewajiban zakat fitrah diakhir Ramdahan, sampai lail al Qadar.

Di dalam Al Quran, ada banyak ayat yang menjelaskan selain tentang ayat-ayat kesalihan individual (hubl min Allah/ibadah veritikal), tetapi juga banyak tentang kesalihan sosial (hubl min al anas/ibadah horizontal). Itulah kenapa al Quran juga disebut sebagai kitab kemanusiaan.

Di bulan Ramadhan ini, ummat Islam diajurkan melakukan resitasi atau nderes (membaca secara rutin dan berkesinambungan) al Qura’an. Semoga kegiatan resitasi (nderes) al Quran tersebut dapat melahirkan sikap alturistik.

Memang di era populisme, tindakan altruistik politisi sering kali dijadikan sarana mendulang popularitas, likabilitas, dan elektabilitas –baca: Pemikiran Max Weber tentang Rational Act Theory. Tentunya altruisme instrumental tidak dilarang, karena itu bagian dari kebebasan di dalam politik. Sah-sah saja jika politisi berdema untuk kepentingan politiknya. Tetapi jika praktek altruisme instrumental tersebut dilakukan di dalam masa tahapan Pemilu/Pemilihan, maka hal tersebut tidak sekedar menjadi persoalan etika politik, tetapi juga tindak pidana pemilu.

Sebagai madrasah ruhani, semoga Ramdahan hadirkan pencerahan bagi hati yang bersih dan pencerahan tersebut diharapkan dapat mentransformasi tindakan altruistik instrumental menjadi tindakan altruistik “arête” (virtue/kebajikan) –baca: virtue ethics-nya Aristoteles.

Jika kita komparasikan gagasan Aristoteles tentang Virtue Ethics itu sama dengan konsep Akhlaq al Karimah, tapi tentunya konsep akhlak Al Karimah lebih luas karena dilengkapi dengan gagasan teistik.

Kebaikan untuk kebaikan itu sendiri, bukan untuk yang lainnya. Kira-kira itulah salah satu dari semangat Ramdahan. Semoga Ramdahan hadirkan demokrasi yang semakin religius bagi kita semua seperti apa yang termaktub dalam ide besar Sila ke-1 Pancasila.

Ilustrasi : OkezoneMuslim

error: Content is protected !!