Rendezvous di Rumah Penyu Pantai Mampie

Home » Rendezvous di Rumah Penyu Pantai Mampie
Rendezvous di Rumah Penyu Pantai Mampie
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Ditemani pemilik kawasan konservasi rumah penyu pantai Mampie Yusrie, saya menghabiskan akhir pekan kemarin di sana. Ini seperti menuntaskan janji akan kembali datang dan bermalam. Tahun sebelum pandemi saya pernah berkunjung dan ikut menanam bakau di sekitar pantai.

Jelang maghrib, saat matahari mulai runduk di pucuk-pucuk bakau di sisi barat, saya telah mendirikan tenda untuk menginap. Ada juga rekan saya Wahyudi yang membawa anak laki-lakinya menikmati aroma laut yang tak berhenti bergelung angin dan ombak. Obyek ini berada di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar.

Jarak bibir pantai dengan rumah penyu yang didesain segi tiga itu kini tak lebih 10 meteran. Air laut makin mendekati tiang-tiang rumah penyu atau menara pengawasan ini. Sementara di bagian kanan dan kiri yang berjarak ratusan meter dari rumah penyu, batu-batu gajah dikomposisi untuk melindungi pesisir Mampie. Hasilnya mulai terlihat, gundukan pasir seperti tumbuh.

Foto: Muhammad Abyan Wafii

Saya sudah lama berobsesi memiliki rumah di pantai memakai desain atau paling tidak juga memiliki tumbak layar atau balimbungang penuh sampai ke tanah. Saya mengamati struktur bangunan ini, siapa tahu dapat segera pula membangun rumah pandang seperti itu. Tapi di mana?

Suasana cukup sepi. Area konservasi penyu ini memang tidak dikomersilkan, tetapi siapa saja boleh datang berkunjung atau bahkan bermalam di sekitar rumah penyu. Sekitar 1000 meter dari spot yang menghadap ke Selat Makassar ini, terdapat destinasi Pantai Mampie yang setiap hari dikunjungi warga. Letaknya di bagian kiri sejurus Pulau Battoa yang menyembul di timur laut.

Malam hari di bawah penerangan yang cukup, saya melihat ada 10 lampu yang dinyalakan Yusrie, suasana yang sebenarnya amat sepi itu jadi benderang. Pada hari yang lain area seluas 30 kali 50 meteran ini  hanya akan berpenerangan minim. Agar penyu dapat naik dan bertelur pada musim tertentu.

Kemarin saya ditunjukkan pula dua titik yang berisi ratusan telur penyu. Tidak lama lagi tukik akan berlarian dari lubang itu ke lautan. Jika ingin melihat tukik ini dilepasliarkan usai ditangkarkan datanglah sekitar bulan Mei atau Juni, itu tahapan puncak telur penyu menetas.

Kami bertemu, dan mendiskusikan berbagai hal. Mulai awal mula ia menemukan solusi untuk menyelamatkan kehidupan penyu di sekitar Mampie, tentang destinasi wisata unggulan di Sulawesi Barat, hingga perkembangan jurnalisme era android. Oya, saya membawa kompor portable untuk mendukung urusan perkopian, diskusi ringan bahkan berat perlu disertai tuang air panas sedikit bergula.

Yusrie selain sibuk mengurusi bisnis keluarga, ia pun tercatat sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar, Sulbar. Dari peran seimbang antara mengurusi anak-anaknya, pekerjaannya sebagai wartawan, usaha konservasi untuk melindungi penyu berjalan baik dan seiring. Saya pun melihat beberapa piagam penghargaan yang terpajang di dalam ruangan bersegi tiga atau pusat informasi penyu, yang unik figura yang menegasi konservasi penyu di sini lebih banyak dari kementerian.

“Penghargaan sesungguhnya bila pemerintah memiliki peran dan bersama kita secara nyata melindungi habitat penyu.” Tanda Tangan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantyo Setyamurti Poerwadi pada bingkai kaca terpajang di rumah penyu.

Kami berdiskusi hingga dini hari. Angin laut yang tetap kencang di Mampie, agak reda setelah lepas tengah malam. Dalam suasana seperti ini sepertinya amat dibutuhkan balur anti nyamuk. Suasana jadi gerah, saya mesti melepaskan jaket. Bermalam di tepi pantai memang berbeda saat memakai kupluk di tebing meninggi atau di sekitar hutan basah.

Foto: Wahyudi

Pagi hari, sekelompok nelayan dari Takatidung menebar jala ratusan meter di depan kawasan ini. Aktivitas yang sering tampak di sana. Rupanya mereka sedang menjaring penja, semacam teri nasi khas Mandar. Jenis ikan mungil ini memang melimpah pada musim tertentu di Mampie. Tahun sebelumnya, destrucive fishing seperti bom ikan atau membius ikan juga masih sering ditemukan. Namun aktivitas yang merusak biota laut itu terus berkurang.

Rumah penyu Mampie merupakan laboratorium konservasi atau perlindungan penyu yang telah dikenal luas. Selain kementerian kelautan RI, bahkan Yusrie mendapat kiriman teropong dari Menteri Susi, puluhan mahasiswa berbagai kampus ternama di Indonesia dalam rangka riset telah datang ke Mampie.

Pemandangan di rumah penyu ini mungkin tersembunyi dari pengunjung yang menuju destinasi wisata Mampie, sebab Yusrie juga belum membuat penanda yang besar. Menurutnya itu relatif dapat melindungi keberadaan telur penyu, walau pun pintu rumah penyu ini selalu terbuka bagi siapapun.

Cukup mudah menemukan spot ini. Datanglah berkunjung. Bagus untuk rendezvous sebab tak begitu ramai dan hingar-bingar. Pantainya yang berpasir cokelat pun landai. Di sini Anda menikmati rona pagi yang rekah bakda subuh, juga rembang senja menuju malam.

 

RumahPenyu, 11 April 2021

error: Content is protected !!