SANG KIAI NURDIN HAMMA

Home » SANG KIAI NURDIN HAMMA
SANG KIAI NURDIN HAMMA
Advertisements

Catatan: ADI ARWAN ALIMIN

Seingat saya, obituari atau catatan mengenai tokoh yang wafat dimulai saat Panglima Puisi Indonesia, Husni Djamaluddin berpulang, lalu kepergian annangguru Prof. Dr. KH. Sahabuddin. Memori itu di kolom khusus Harian Radar Sulbar.

Saya lebih sering menulisnya hingga kini, pada setiap sosok berpengaruh baik secara geografi, pemikiran dan luasnya hubungan sosial budaya mereka.

Obituari tersebut tidak hanya sebab dekatnya penulis dengan yang meninggal dunia, tetapi juga karena melimpahnya informasi tentangnya. Saya pernah menulis obituari seorang warga yang sama sekali tidak pernah tampil di depan publik, tetapi sosok yang justeru berada di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk.

Sebuah obituari amat kuat dapat dinarasi hanya dengan selarik kalimat tokoh, atau ungkapan seseorang yang nilainya sanggup menggugah. Bahkan bila kita tak pernah bertemu langsung. Namun sebagaimana model reportase intensitas interaksi akan sangat memperkaya.

Kemarin, saya bertemu puluhan teman-teman di Kandemeng saat melayat tokoh senior pendidikan yang juga budayawan. Hampir setiap orang yang berbicara ke penulis, pada garis yang sama, annangguru Nurdin Hamma piawai dalam sugesti. Ia motivator ulung. Gayanya berbeda pada tiap orang.

Kepada Muhammad Ridwan Alimuddin ia memintanya jangan pernah meninggalkan riset mengenai kemaritiman Mandar, pada Hamzah Ismail senior Teater Flamboyant motivasinya lain lagi, pada Sahabuddin Mahganna caranya beda mengenai musik tradisi.

Juga pada sahabat lainnya yang jumlahnya tidak terhitung. Sementara pada penulis, almarhum memiliki kebiasaan berbisik dalam mengantar pesan tertentu. Ia seolah menaburkan mantera yang menjalar. Ia melengkapinya sambil menepuk bahu atau punggung.

Orang-orang lalu menyadari peran penting seseorang setelah ia pergi. Kemarin saya mengatakan, salah satu bentuk kebaikan rahimahullah Nurdin Hamma, yakni pada hari kematiannya saja ia mengumpulkan orang-orang yang terus berbicara mengenai kebaikannya pada orang banyak. Itu dahsyat, semoga semua itu tanda amal jariahnya.

“Daparakke [jangan merasa takut]…” kalimat ini juga sering penulis dengar. Itu salah satu contoh saja.

Pengaruh obituari itu sangat tergantung dari aspek sudut pandang, juga kayanya efek batin tokoh di mata penulis.

Tokoh ini memang sangat spesial. Bagaimana pembaca bertemu seseorang yang pemikirannya mesti telah sepuh terus saja maju, kontemporer. Ia bukan sosok konservatif yang dapat kita asosiasikan bila bertemu figur yang telah melewati beberapa orde penting di tanah air.

Nurdin Hamma, sebab umurnya yang tua, lahir tahun 1937, makin berisi, amat terpelajar, kian berilmu. Dialah yang berkisah tentang peran aktivis atau wartawan asal Mandar era Soekarno yang ikut membangun surat kabar Jakarta Post di Jakarta.

Atau bagaimana Kiai Nurdin Hamma bercerita akhir tahun lalu tentang Kecamatan Tinambung yang pernah juara pertama perihal kebersihan kota kecamatan se-Sulawesi Selatan. Itu era di mana Camat Abdul Waris, dan Hasan Sulur menggawangi Kota Tua Tinambung.

Apakah ia menyadari dirinya sesungguhnya adalah ulama penting, atau ia mengabaikan predikat itu. Kiai ini mendirikan dua pesantren, dan terus membantu inisiasi berdirinya tempat belajar yang baru diberbagai tempat. Sepantasnya di depan namanya dibubuhi label, Kiai. Tapi penulis yakin Nurdin Hamma malah akan terkekeh, sambil menyeruput minuman di gelasnya. Kadang pula ia amat pintar meletakkan metafora sosial di atas ubun-ubun.

Inilah obituari ketiga buat beliau. Saya rasanya baru menulis catatan amat panjang, khusus tentang kematian tokoh sejak kemarin. Meski beliau ayah idesosiologis semata, tapi kepergiannya ke surga membuat mata berkaca-kaca.

Selamat jalan sekali lagi Sang Kiai. Allah pun lagi-lagi mengangkat seperangkat ilmu ke Langit-Nya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun…

Pict: FB. Muhammad Ridwan Alimuddin

 

error: Content is protected !!